Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan teknologi finansial (fintech) OPay mencatatkan lonjakan pendapatan dan laba pada semester I-2026 di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif bagi penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Perusahaan pembayaran digital yang didukung SoftBank ini pun mengungkapkan rencana pencatatan sahamnya di Bursa Efek New York (NYSE).
Dalam dokumen pengajuan IPO di Amerika Serikat (AS) yang diungkapkan pada Jumat (9/10), OPay membukukan pendapatan US$ 467,1 juta pada enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026.
Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Balikkan Rugi Jadi Laba US$ 57,5 Juta di Kuartal I-2026
Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 197,5 juta.
Laba bersih OPay juga melonjak menjadi US$ 90,9 juta dari US$ 21,7 juta pada semester I-2025.
Kinerja tersebut menjadi modal bagi OPay untuk memasuki pasar modal AS. Namun, rencana IPO ini berlangsung ketika kenaikan imbal hasil obligasi dan tingginya suku bunga menekan minat investor terhadap saham baru.
Kondisi tersebut bahkan mendorong sejumlah perusahaan menunda rencana pencatatan sahamnya.
OPay menyediakan layanan pembayaran digital dan pinjaman di Nigeria, Indonesia, Mesir, dan Pakistan. Platform ini memungkinkan konsumen dan pedagang melakukan pembayaran, mentransfer uang, serta mengakses kredit.
Baca Juga: Shell Catat Laba US$ 6,9 Miliar pada Kuartal I-2026, Dividen Naik 5%
Perusahaan yang didirikan oleh miliarder asal China, Yahui Zhou, tersebut sebelumnya menghimpun dana US$ 400 juta pada 2021 dengan valuasi US$ 2 miliar.
Zhou juga mendirikan perusahaan gim asal China, Beijing Kunlun Tech, yang pernah memiliki aplikasi kencan Grindr.
Dalam pengajuan IPO tersebut, OPay menyebut Stanbic Africa Holdings Limited telah menyepakati investasi hingga US$ 200 juta melalui penempatan saham privat yang dilakukan bersamaan dengan penawaran umum.
Entitas SoftBank tercatat memiliki 6,6% saham OPay sebelum IPO. Setelah pencatatan saham di NYSE, OPay juga berencana melakukan pencatatan saham sekunder di Nigeria.
OPay mengajukan pencatatan saham American Depositary Shares (ADS) di NYSE dengan kode saham OPAY. Citigroup, Deutsche Bank, Standard Bank, dan CICC termasuk dalam jajaran penjamin emisi IPO tersebut.
Baca Juga: ETF Aktif Laris, Laba BlackRock Melonjak di Kuartal I-2026
Langkah OPay memasuki bursa AS berlangsung di tengah pertumbuhan industri fintech Afrika, seiring perusahaan keuangan digital membidik populasi muda yang belum sepenuhnya terlayani perbankan dan semakin banyak menggunakan layanan keuangan digital.














