Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - LONDON. Shell membukukan laba kuartal I-2026 sebesar US$ 6,9 miliar atau menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Kinerja tersebut melampaui ekspektasi analis dan ditopang oleh keuntungan dari volatilitas pasar energi akibat konflik di Timur Tengah.
Melansir Reuters berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Kamis (7/5/2026), laba bersih disesuaikan (adjusted earnings) Shell mencapai US$ 6,92 miliar.
Baca Juga: Perang Iran Dorong Lonjakan Truk Listrik di China, Konsumsi Solar Diprediksi Turun
Angka ini lebih tinggi dibanding konsensus analis sebesar US$ 6,36 miliar dan naik dari US$ 5,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Seiring lonjakan laba tersebut, Shell juga menaikkan dividen sebesar 5%.
Namun di sisi lain, perusahaan memangkas program pembelian kembali saham (buyback) kuartalan menjadi US$ 3 miliar dari sebelumnya US$ 3,5 miliar guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan.
Chief Financial Officer Shell Sinead Gorman mengatakan, kenaikan dividen mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap prospek arus kas jangka panjang.
“Kami tetap percaya diri terhadap arus kas jangka panjang perusahaan dan masih melihat valuasi saham Shell belum mencerminkan nilai sebenarnya,” ujarnya kepada wartawan.
Baca Juga: Pengadilan Banding Korea Selatan Memangkas Hukuman Penjara PM Han Jadi 15 Tahun
Ia menambahkan, pengurangan buyback dilakukan agar perusahaan memiliki ruang kas lebih besar untuk menjaga kesehatan neraca di tengah tekanan likuiditas jangka pendek akibat gangguan pasokan energi.
Kinerja positif Shell terutama ditopang bisnis kimia, produk olahan, dan perdagangan minyak.
Laba unit tersebut mencapai US$ 1,93 miliar, jauh di atas ekspektasi analis sebesar US$ 1,24 miliar dan melonjak dibandingkan US$ 450 juta pada tahun lalu.
Kondisi ini mencerminkan keuntungan besar perusahaan energi Eropa dari volatilitas harga minyak dan gas akibat konflik Timur Tengah.
Perusahaan seperti Shell, BP, dan TotalEnergies dinilai lebih diuntungkan dibanding rival asal Amerika Serikat karena memiliki bisnis perdagangan energi yang lebih kuat.
Meski demikian, produksi minyak dan gas Shell turun 4% dibanding kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Brasil Jadi Tujuan Utama Investasi China pada 2025, Tembus US$ 6,1 Miliar
Penurunan terutama dipicu gangguan operasional di Qatar setelah sebagian fasilitas Pearl gas-to-liquids mengalami kerusakan akibat konflik yang dimulai sejak akhir Februari lalu.
Perbaikan fasilitas tersebut diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun.
Untuk kuartal II-2026, Shell memperkirakan produksi gas terpadu (integrated gas) dapat turun hingga 36% akibat dampak konflik, termasuk di Qatar. Volume pencairan LNG juga diproyeksikan turun hingga 14%.
Di sisi lain, rasio utang terhadap ekuitas (gearing) Shell naik menjadi 23,2% dari sebelumnya 20,7% pada akhir 2025.
Baca Juga: Menlu AS Bakal Bertemu Paus Leo, Sementara Trump Terus Menyerang Paus
Kenaikan ini dipicu peningkatan utang akibat lonjakan harga energi dan gangguan pasokan global.
Arus kas dari aktivitas operasional tercatat sebesar US$ 6,1 miliar. Namun pergerakan modal kerja (working capital) tertekan akibat perubahan besar nilai persediaan energi.
Shell memperkirakan tekanan modal kerja akan mulai mereda apabila harga minyak dan gas kembali stabil.













