Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Lonjakan harga solar akibat perang Iran diperkirakan akan mempercepat elektrifikasi armada truk berat di China pada tahun ini. Kondisi tersebut sekaligus mempercepat penurunan permintaan bahan bakar di negara importir minyak terbesar dunia itu.
Analis dan produsen otomotif menilai kenaikan harga energi membuat penggunaan truk listrik semakin ekonomis dibandingkan kendaraan berbahan bakar diesel.
Penjualan truk berat listrik di China tumbuh pesat dalam dua tahun terakhir. Dari sebelumnya hanya pasar niche, kendaraan tersebut kini menyumbang hampir sepertiga pembelian truk berat baru pada 2025. Pertumbuhan ini ditopang subsidi pemerintah, biaya pengisian daya yang lebih murah, serta infrastruktur pengisian yang semakin luas.
Lonjakan penjualan pada tahun lalu terutama terjadi pada kuartal IV 2025. Banyak pembeli mempercepat pembelian karena memperkirakan program subsidi tukar tambah kendaraan akan segera berakhir.
Data penyedia riset pasar CVWorld.cn menunjukkan penjualan truk berat energi baru—yang mayoritas merupakan kendaraan listrik—melonjak 45% secara tahunan menjadi 44.000 unit pada awal tahun ini. Pangsa pasarnya kini mencapai lebih dari seperempat total penjualan segmen tersebut, naik dari kurang dari 20% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pengadilan Banding Korea Selatan Memangkas Hukuman Penjara PM Han Jadi 15 Tahun
CVWorld.cn juga memperkirakan penjualan truk listrik berat pada April akan meningkat 30%, didorong kenaikan permintaan musiman dan harga minyak yang lebih tinggi.
Senior Analyst S&P Global Mobility, Min Ji, mengatakan perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik di China sehingga mempercepat penggantian truk konvensional.
“Perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik di China, yang pada akhirnya akan mempercepat penggantian truk tradisional,” ujar Min Ji.
Saat ini, truk listrik berat umumnya digunakan untuk perjalanan jarak pendek antarkawasan industri dan pusat logistik dengan jarak tempuh sekitar 300 kilometer. Namun, koridor perjalanan jarak jauh mulai berkembang. Produsen seperti Sany bahkan mulai memasarkan truk listrik dengan jarak tempuh hingga 600 kilometer.
Elektrifikasi kendaraan penumpang serta ekspansi cepat truk listrik dan berbahan bakar gas alam cair (LNG) juga mulai membalikkan tren pertumbuhan konsumsi solar dan bensin di China yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Mayoritas analis memperkirakan permintaan minyak China akan mencapai puncaknya sebelum 2030. Bahkan, sejumlah konsultan energi kini memprediksi penurunan konsumsi solar akan berlangsung lebih cepat dari proyeksi sebelumnya.
Baca Juga: Brasil Jadi Tujuan Utama Investasi China pada 2025, Tembus US$ 6,1 Miliar
GL Consulting memperkirakan konsumsi solar China turun 4,3% tahun ini, lebih dalam dibanding proyeksi sebelum perang sebesar 4,1%. Sementara itu, Rystad Energy memperkirakan permintaan solar turun 5% pada 2025, lebih besar dibanding estimasi sebelumnya sebesar 4%.
Kenaikan harga solar ritel di China sebesar 27% setelah perang Iran pecah pada 28 Februari lalu turut memperkuat daya tarik ekonomi penggunaan truk listrik. Harga solar kini berada di level tertinggi sejak rekor empat tahun lalu.
Di China, harga truk listrik berat mencapai lebih dari 500.000 yuan atau sekitar US$ 73.500, sedangkan versi diesel dibanderol lebih dari 300.000 yuan. Namun, program subsidi tukar tambah yang diperpanjang hingga akhir tahun membantu memangkas hampir separuh selisih harga tersebut.
Selain itu, biaya operasional truk listrik jauh lebih murah. GL Consulting memperkirakan total biaya kepemilikan truk listrik—termasuk harga kendaraan, energi, dan operasional hingga jarak tempuh 1 juta kilometer—hanya sekitar separuh dibandingkan truk diesel pada harga bahan bakar saat ini.
Efisiensi biaya tersebut juga mendorong ekspansi produsen China ke pasar Eropa, yang menjadi pasar truk listrik terbesar kedua di dunia meski masih tertinggal jauh dari China.
Baca Juga: Menlu AS Bakal Bertemu Paus Leo, Sementara Trump Terus Menyerang Paus
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency mencatat penjualan truk listrik di China mencapai 160.000 unit pada 2024. Sebagai perbandingan, penjualan di Eropa pada periode yang sama masih di bawah 25.000 unit.
Reuters sebelumnya melaporkan sedikitnya belasan produsen China, termasuk Sany, berencana mulai menjual truk listrik di Eropa tahun ini dengan harga hingga sepertiga lebih murah dibanding harga rata-rata pasar setempat.
Deputy General Manager Sany, Chen Dong, mengatakan perusahaan sebelumnya telah memperkirakan percepatan penggantian truk diesel pada 2025. Sany memproyeksikan pasar truk traktor listrik akan tumbuh 50% menjadi 250.000 unit tahun ini.
“Sejauh ini, dengan kenaikan harga minyak, peluang untuk mencapai target tersebut semakin besar,” ujar Chen Dong.













