Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Operasi militer Israel di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, memaksa sekitar 1.200 warga Palestina meninggalkan rumah mereka.
Operasi ini berlangsung sehari setelah serangan dua pria bersenjata Palestina menewaskan dua tentara Israel di pos pemeriksaan dekat kota tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (23/10/2026) menyatakan militer akan melancarkan operasi berskala besar menyusul serangan tersebut. Militer Israel mengatakan kedua pelaku penembakan telah tewas ditembak.
Militer kemudian menggelar operasi di lingkungan Al-Jaladah dan Ein Deir Baha, dekat pos pemeriksaan di pintu masuk Hebron. Operasi itu disebut bertujuan mencari kelompok bersenjata dan senjata, sekaligus mencakup rencana penghancuran bangunan.
Namun, operasi tersebut menuai kritik dari Otoritas Palestina yang menilainya sebagai bentuk “hukuman kolektif” terhadap warga sipil.
Baca Juga: Israel Kembali Serang Gaza, Lima Warga Palestina Dilaporkan Tewas
Kepala Pemerintah Kota Hebron, Yousef Zouhair Al-Jabari, mengatakan sekitar 1.300 warga lainnya juga terancam kehilangan tempat tinggal. Ia menyebut militer Israel telah menghancurkan toko, pabrik, rumah, dan jalan di wilayah tersebut.
Menurut Al-Jabari, tindakan militer Israel tidak sebanding dengan serangan yang menewaskan dua tentaranya. Ia juga mengaitkan operasi tersebut dengan pemilihan parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10/2026).
Jajak pendapat menunjukkan koalisi sayap kanan yang dipimpin Netanyahu berpotensi kehilangan mayoritas di parlemen.
Al-Jabari menilai operasi itu dapat berkaitan dengan upaya Netanyahu dan para menteri garis keras di pemerintahannya untuk meraih dukungan pemilih dari kalangan pemukim Israel.
Baca Juga: Militer Israel Klaim Hancurkan Terowongan Hezbollah di Lebanon Selatan
Di sisi lain, organisasi nonpemerintah Palestinian Prisoners' Club melaporkan pasukan Israel telah menangkap sekitar 70 warga Palestina pada Jumat dan Sabtu.
Hingga laporan Reuters diterbitkan, pejabat Israel belum memberikan komentar mengenai penangkapan tersebut.
Warga sipil terdampak operasi
Sejumlah warga Hebron mengatakan kepada Reuters bahwa banyak orang yang diusir dari rumahnya tidak memiliki hubungan dengan para pelaku serangan terhadap tentara Israel.
Salah seorang warga yang kehilangan tempat tinggal, Majdi Nasser, meminta para pejabat memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Ia menegaskan bahwa banyak keluarga, termasuk anak-anak, tidak terlibat dalam serangan tersebut.
Warga juga melaporkan melihat tentara Israel memberi tanda silang hitam pada rumah-rumah setelah penghuninya dipaksa pergi. Namun, tujuan pemberian tanda tersebut belum diketahui secara jelas.
Baca Juga: Prabowo dan Presiden Mesir El-Sisi Tolak Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
Operasi militer ini berlangsung di tengah pembatasan pergerakan warga Palestina di Tepi Barat. Israel telah menutup akses menuju sebagian besar kota dan permukiman Palestina, sehingga mobilitas warga semakin terbatas.
Dampaknya turut dirasakan warga yang membutuhkan layanan kesehatan.
Yousef Mur, warga kota Yatta di Palestina, mengatakan penutupan akses membuatnya tidak bisa membawa putrinya ke Yerusalem untuk menjalani pengobatan kanker.
Ia juga mengaku pasukan Israel menembakkan granat kejut ketika mereka berusaha melintas. Insiden tersebut membuat putrinya ketakutan.
Sementara itu, pemerintahan Netanyahu selama ini memperluas permukiman Israel di Tepi Barat.
Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar negara menganggap permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional, sedangkan Israel menolak pandangan itu.














