Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - KAIRO. Militer Israel mengklaim telah menghancurkan infrastruktur bawah tanah milik kelompok bersenjata Hezbollah di sebuah desa di Lebanon selatan. Serangan tersebut dilakukan hanya dua hari setelah Israel dan Lebanon menyepakati pengaturan keamanan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) untuk meredakan ketegangan di wilayah perbatasan.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Minggu (28/6/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut operasi tersebut menyasar sebuah terowongan sepanjang sekitar 200 meter di Kota Majdal Zoun, Lebanon selatan.
Menurut pernyataan itu, pemerintah AS telah diberi tahu sebelum operasi militer dilaksanakan.
Israel mengklaim terowongan tersebut digunakan Hezbollah untuk menyimpan ratusan senjata serta peluncur roket.
Serangan itu juga terjadi hanya beberapa jam setelah militer Israel menyatakan telah menyerang anggota Hezbollah yang dipersenjatai granat berpeluncur roket (RPG) dan menghancurkan sebuah peluncur roket di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Fluktuatif di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran
Kesepakatan Keamanan Baru
Operasi militer tersebut berlangsung di tengah implementasi kesepakatan keamanan baru yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari sejumlah wilayah di Lebanon selatan, bersamaan dengan pengerahan tentara Lebanon ke daerah tersebut.
Namun, berdasarkan kesepakatan itu, pasukan Israel masih diperbolehkan tetap berada sementara waktu di zona keamanan yang diperluas di sepanjang perbatasan.
Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi eskalasi konflik yang selama berbulan-bulan terjadi di wilayah perbatasan kedua negara.
Hezbollah Sebut Serangan Israel Langgar Gencatan Senjata
Hezbollah mengecam keras serangan terbaru Israel dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang selama ini mereka patuhi.
Dalam pernyataannya pada Senin dini hari, Hezbollah mengatakan: "Pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang sejauh ini telah kami patuhi. Kami terus memantau secara cermat setiap pelanggaran tersebut dan tetap memiliki hak untuk membela tanah air serta rakyat kami."
Kelompok tersebut juga menegaskan akan terus mengawasi perkembangan di lapangan dan mempertahankan haknya untuk melakukan pembelaan jika diperlukan.
Sementara itu, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, sebelumnya telah menolak kesepakatan keamanan yang dimediasi AS. Ia menyebut perjanjian tersebut sebagai bentuk penyerahan diri kepada Israel dan menegaskan bahwa Hezbollah akan tetap melanjutkan perlawanan bersenjata.
Baca Juga: Kanada Kucurkan Dana C$7 Juta untuk Proyek Tambang Molibdenum di Greenland
Netanyahu Tegaskan Operasi Militer Berlanjut
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan.
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengatakan: "Militer Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan dan akan terus menghancurkan infrastruktur teroris, menghilangkan ancaman terhadap komunitas di wilayah utara, serta menjaga keamanan warga negara Israel."
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa operasi militer Israel di Lebanon selatan masih akan terus berlangsung meski terdapat kesepakatan keamanan yang baru dicapai.
Konflik antara Israel dan Hezbollah yang berlangsung bersamaan dengan perang yang lebih luas melibatkan Iran telah memicu dampak kemanusiaan yang besar.
Lebih dari satu juta warga Lebanon dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran.














