Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – SINGAPURA. Pergerakan pasar saham Asia cenderung berfluktuasi pada Senin (29/6/2026) setelah Iran dan Amerika Serikat sepakat menghentikan kembali aksi saling serang yang sempat membayangi kesepakatan damai sementara di Timur Tengah.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam satu tahun seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.
Meredanya ketegangan geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar global, meski investor masih bersikap hati-hati menunggu perkembangan lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan damai tersebut.
Kontrak berjangka (futures) indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,5%, sementara futures bursa Eropa menguat tipis 0,13%, mengindikasikan pembukaan perdagangan yang relatif stabil.
Namun, bursa saham Asia justru berada di bawah tekanan. Indeks KOSPI Korea Selatan turun hampir 2%, sedangkan Nikkei Jepang melemah sekitar 1%. Akibatnya, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terkoreksi sekitar 0,3%.
Baca Juga: Kanada Kucurkan Dana C$7 Juta untuk Proyek Tambang Molibdenum di Greenland
Chief Market Strategist ATFX Global, Nick Twidale, menilai pasar masih kehilangan arah yang jelas.
"Rasanya pasar saat ini masih kekurangan arah yang jelas. Kita mungkin akan mendapat dorongan sentimen positif nanti hari ini apabila ada kabar yang lebih baik dari Timur Tengah. Namun, untuk saat ini saya memperkirakan perdagangan akan lebih banyak dipengaruhi arus transaksi tanpa pergerakan besar ke salah satu arah," katanya.
Ketidakpastian Perdamaian Dukung Harga Minyak
Meskipun konflik mulai mereda, kekhawatiran terhadap keberlangsungan kesepakatan damai sementara masih menopang harga minyak dunia.
Pekan lalu, ketegangan kembali meningkat setelah sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo di Selat Hormuz. Iran dan Amerika Serikat saling menuduh telah melanggar gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati.
Pada perdagangan Senin, harga minyak Brent memangkas sebagian kenaikan awal dan diperdagangkan naik sekitar 0,5% menjadi US$ 72,37 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1% ke level US$ 69,92 per barel.
Kesepakatan damai sementara yang terdiri atas 14 poin dan disepakati pada 17 Juni bertujuan menghentikan konflik yang dimulai sejak 28 Februari, sekaligus membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sambil melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Managing Director Investment Strategy OCBC, Vasu Menon, mengatakan pasar kini semakin terbiasa menghadapi dinamika hubungan antara Washington dan Teheran. "Pasar kini sudah mulai terbiasa dengan naik turunnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran," ungkapnya.
Meski demikian, Menon tetap optimistis terhadap prospek investasi pada paruh kedua tahun ini.
"Kami masih cukup optimistis terhadap prospek investasi pada paruh kedua tahun ini mengingat besarnya likuiditas yang masih berada di luar pasar, ditambah berbagai kabar positif dari sisi ekonomi maupun kinerja laba perusahaan," tambahnya.
Baca Juga: Serangan Siber Iran Terhadap Israel Melonjak Tiga Kali Lipat Sejak Konflik Memanas
Kekhawatiran Valuasi Saham AI Masih Membayangi
Selain faktor geopolitik, investor juga masih mencermati tingginya valuasi saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Setelah mengalami reli selama beberapa tahun terakhir, muncul kekhawatiran bahwa harga saham perusahaan AI telah bergerak terlalu tinggi dibandingkan fundamentalnya. Di sisi lain, proyeksi laba yang kuat dari Micron serta kenaikan harga produk Apple menunjukkan tantangan yang berbeda di sektor teknologi.
Analis BofA Global Research menilai saat ini mulai terjadi rotasi investasi dari saham-saham berkapitalisasi besar berbasis AI menuju saham perusahaan yang lebih kecil dan bersifat siklikal. Pergeseran tersebut dinilai sebagai indikasi awal bahwa penguatan pasar mulai menyebar setelah sebelumnya terkonsentrasi pada segelintir saham teknologi raksasa.
Sementara itu, Bank for International Settlements (BIS) mengingatkan bahwa lonjakan investasi di sektor AI belum tentu berkelanjutan. Hambatan pasokan dan persaingan yang semakin ketat berpotensi memicu fenomena investasi berlebihan sebagaimana pernah terjadi pada siklus boom dan bust sebelumnya.
Senior Economist Interactive Brokers, Jose Torres, mengatakan meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur modern membuat banyak perusahaan harus menguras kas untuk membiayai investasi tersebut.
"Karena alasan tersebut, para pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir lebih memilih berinvestasi pada sektor-sektor defensif dan saham-saham yang bersifat siklikal," katanya.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Menguat
Turunnya harga minyak memang berpotensi meredakan tekanan inflasi. Namun, level harga energi yang masih relatif tinggi diperkirakan tetap membuat bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve berada di bawah tekanan untuk kembali menaikkan suku bunga.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini. Proyeksi tersebut berbalik tajam dibandingkan sebelum konflik Timur Tengah memanas, ketika pasar justru memperkirakan dua kali penurunan suku bunga.
Baca Juga: Warga Filipina Berbondong-bondong Pasang PLTS Atap di Tengah Lonjakan Tarif Listrik
Bahkan, analis BofA memperkirakan Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali. Proyeksi yang lebih agresif tersebut didasarkan pada kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih kuat, kepemimpinan baru Ketua The Fed Kevin Warsh, serta inflasi yang dinilai masih sulit dikendalikan.
Ekspektasi kenaikan suku bunga turut mengangkat nilai tukar dolar AS. Indeks dolar berada di level 101,33, hanya sedikit di bawah posisi tertinggi dalam satu tahun yang dicapai pekan lalu.
Sementara itu, yen Jepang masih berada di kisaran 161,77 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut tetap tertekan, meskipun kekhawatiran akan kemungkinan intervensi pemerintah Jepang berhasil mencegah yen menembus level terlemah dalam empat dekade.
Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar
Menguatnya dolar AS turut memberikan tekanan terhadap harga emas.
Pada perdagangan Senin, harga emas spot turun sekitar 0,87% menjadi US$ 4.052,96 per ons.
Secara keseluruhan, logam mulia tersebut diperkirakan mencatat penurunan sekitar 13% sepanjang kuartal II 2026, yang merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak 2013.
Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta pergerakan harga energi yang akan menjadi faktor utama penentu sentimen pasar global pada paruh kedua tahun ini.














