kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.829   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Bursa Asia Menguat Didorong Demam AI, Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak


Senin, 01 Juni 2026 / 13:38 WIB
Bursa Asia Menguat Didorong Demam AI, Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak
ILUSTRASI. Saham teknologi berbasis AI melonjak, pendorong utama reli bursa Asia. Namun, harga minyak dunia naik tajam. (AFP/PHILIP FONG)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham Asia melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin (1/6/2026), didorong oleh tingginya permintaan terhadap sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor.

Optimisme tersebut mampu mengimbangi kekhawatiran pasar atas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Sentimen pasar sempat terguncang setelah muncul laporan mengenai serangan baru di kawasan Teluk yang memunculkan keraguan terhadap prospek pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, minat investor terhadap saham-saham teknologi berbasis AI tetap menjadi penopang utama pasar.

Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan masih berlangsung untuk mencapai kesepakatan. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya tidak memberikan banyak informasi mengenai perkembangan pembicaraan tersebut hingga akhirnya mengunggah pernyataan agar semua pihak "cukup duduk tenang dan santai saja."

Pada Sabtu (30/5/2026), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Amerika Serikat siap melanjutkan serangan terhadap Iran apabila kesepakatan gagal dicapai.

Pada Senin, muncul laporan bahwa pasukan AS menyerang sejumlah target Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas serangan tersebut. Sistem pertahanan Kuwait juga dilaporkan mencegat serangan rudal dan drone.

Baca Juga: Harga Emas Melemah, Dolar AS dan Lonjakan Minyak Jadi Pemicu

Ketegangan kawasan semakin meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JPMorgan, menilai risiko terburuk terhadap ekonomi global kemungkinan telah berlalu apabila kapal tanker kembali dapat beroperasi secara normal.

"Meskipun ketidakpastian masih ada, fase risiko akut bagi ekonomi global seharusnya telah berakhir jika kapal-kapal tanker dapat mulai berlayar kembali," ujar Feroli.

Ia menambahkan, "Namun demikian, tidak semua hal akan kembali seperti sebelum konflik. Harga minyak kemungkinan tetap tinggi untuk beberapa waktu karena persediaan perlu dibangun kembali dan infrastruktur pasokan di Timur Tengah harus diperbaiki."

Harga Minyak Naik

Serangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah dunia menguat. Minyak Brent naik 2,1% menjadi US$ 93,02 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 2,6% menjadi US$ 89,61 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral.

Demam AI Dorong Reli Bursa Asia

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar saham Asia tetap ditopang oleh tingginya permintaan terhadap chip semikonduktor dan perangkat yang mendukung pengembangan AI.

Indeks Nikkei Jepang naik 0,9% setelah melonjak hampir 5% pekan lalu dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Pasar saham Korea Selatan menguat 4,2%, melanjutkan lonjakan 8% pada pekan sebelumnya. Sementara itu, indeks Taiwan yang menjadi pusat industri semikonduktor global telah naik hampir 6% dalam sepekan terakhir.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga menguat 1,6%.

Baca Juga: China Kerahkan Patroli di Dekat Taiwan, Ketegangan dengan Jepang-Filipina Naik

Saham Samsung Electronics melonjak hampir 10% pada Senin setelah perusahaan tersebut mengumumkan telah mulai mengirim sampel chip memori berbandwidth tinggi (High Bandwidth Memory/HBM) generasi terbaru kepada pelanggan.

Kuatnya tren AI juga tercermin dari data perdagangan Korea Selatan. Ekspor negara tersebut tumbuh pada laju tahunan tercepat dalam lebih dari empat dekade pada Mei 2026 dan mencapai rekor US$ 87,75 miliar.

Di Taiwan, CEO Nvidia Jensen Huang membuka pameran teknologi Computex dengan pidato yang berfokus pada perkembangan AI. Ia diperkirakan akan memaparkan berbagai produk terbaru Nvidia serta menyoroti peran sentral Taiwan dalam rantai pasok industri AI global.

Sebaliknya, saham-saham unggulan China masih bergerak lebih lemah. Indeks CSI300 turun 0,2% setelah data survei menunjukkan aktivitas manufaktur negara tersebut stagnan pada Mei akibat lemahnya pemulihan ekonomi domestik.

Pasar Menanti Data Ketenagakerjaan AS

Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 turun 0,2%, DAX Jerman melemah 0,1%, dan FTSE Inggris turun 0,3%.

Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,3% dan Nasdaq menguat 0,5% setelah keduanya mencatat rekor tertinggi pada pekan lalu.

Meski demikian, reli pasar saham AS masih sangat terkonsentrasi pada perusahaan teknologi besar yang terkait AI. Sepuluh perusahaan teknologi terbesar yang terhubung dengan AI kini menyumbang sekitar 40% kapitalisasi indeks S&P 500.

Pada Mei 2026, sektor teknologi melonjak hampir 16%, sementara sektor consumer discretionary dan kesehatan hanya naik sekitar 2%. Adapun sektor barang konsumsi pokok justru terkoreksi lebih dari 3%.

Di pasar obligasi, kenaikan harga minyak terus memicu kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,47%.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 50% bahwa Federal Reserve masih perlu menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun untuk mencegah kenaikan harga energi memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor, SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang

Sepanjang pekan ini, sejumlah pejabat The Fed dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka terkait kondisi ekonomi. Fokus utama investor tertuju pada data ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls) yang akan dirilis Jumat mendatang.

Konsensus pasar memperkirakan penambahan 85.000 lapangan kerja pada Mei, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3%. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Dolar Stabil, Harga Emas Melemah

Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat membuat dolar AS bergerak relatif stabil terhadap mata uang utama dunia.

Dolar menguat tipis terhadap yen Jepang ke level 159,45. Namun, pelaku pasar masih berhati-hati mengingat kemungkinan intervensi pemerintah Jepang jika nilai tukar menembus level psikologis 160 yen per dolar AS.

Euro diperdagangkan di kisaran US$ 1,1645 setelah bergerak dalam rentang sempit antara US$ 1,1585 hingga US$ 1,1661 sepanjang pekan lalu.

Di pasar komoditas, harga emas justru melemah 0,4% menjadi US$ 4.518 per ons troi. Logam mulia tersebut gagal memperoleh dukungan kuat baik sebagai aset safe haven maupun sebagai lindung nilai terhadap inflasi di tengah reli pasar saham global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×