Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon menewaskan sedikitnya 15 orang pada Jumat (19/6/2026), menurut laporan kantor berita pemerintah Lebanon, National News Agency (NNA). Sementara itu, militer Israel menyatakan operasi yang dilancarkan semalam menargetkan posisi dan infrastruktur Hizbullah di sejumlah lokasi.
Warga setempat dan media domestik melaporkan bahwa serangan udara serta penembakan artileri Israel menghantam beberapa kota di Distrik Nabatieh sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari. NNA menyebut bombardemen tersebut sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa pekan terakhir.
Militer Israel mengatakan serangan tersebut menyasar kelompok militan dan fasilitas Hizbullah di beberapa wilayah di Lebanon selatan. Menurut pihak Israel, operasi dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan oleh kelompok yang didukung Iran tersebut.
Baca Juga: Yen Makin Loyo Terhadap Dolar AS, Dekati Level Terendah dalam 40 Tahun
Ketegangan Meningkat Usai Israel Terbitkan Peta Zona Kontrol Baru
Eskalasi terbaru terjadi sehari setelah Israel menerbitkan peta yang menunjukkan perluasan zona kontrol militernya di Lebanon selatan. Dalam peta tersebut, Israel menyatakan tidak menutup kemungkinan melancarkan serangan di wilayah di luar zona yang telah diperluas.
Langkah tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas kesepakatan damai sementara yang dimediasi Amerika Serikat dengan Iran pada Rabu sebelumnya.
Perjanjian tersebut menyerukan penghentian pertempuran di seluruh front, termasuk di Lebanon, serta mewajibkan semua pihak untuk menghormati integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Israel dan AS Berunding Soal Penempatan Pasukan
Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa pemerintahnya tengah melakukan negosiasi yang alot dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait keberlanjutan penempatan pasukan Israel di Lebanon selatan.
Baca Juga: Dana Asing Kabur dari Indonesia: Thailand Raih Berkah Berlimpah
Menurut pejabat tersebut, Israel berupaya mempertahankan keberadaan tentaranya hingga sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon selatan sebagai bagian dari operasi memburu Hizbullah.
Ia mengatakan bahwa Israel sedang terlibat dalam "negosiasi yang alot" dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai upaya mempertahankan penempatan pasukan sejauh 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan dalam rangka mengejar Hizbullah.
Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon Selatan
Israel sejauh ini menolak berbagai seruan untuk menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Di sisi lain, Hizbullah disebut terus melancarkan serangan terhadap posisi militer Israel.
Beberapa serangan tersebut menggunakan pesawat nirawak bermuatan bahan peledak yang dalam pekan ini dilaporkan menewaskan dan melukai sejumlah personel militer Israel.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon masih sangat rapuh meskipun terdapat upaya diplomatik untuk menghentikan konflik dan menjaga stabilitas kawasan.













