kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Israel Perluas Zona Evakuasi, Lebanon Selatan Kian Kosong dari Warga


Kamis, 28 Mei 2026 / 17:44 WIB
Israel Perluas Zona Evakuasi, Lebanon Selatan Kian Kosong dari Warga
ILUSTRASI. Militer Israel (REUTERS/Rami Shlush)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon belum mampu menghentikan penderitaan warga sipil.

Meski kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat (AS) diumumkan pada 16 April lalu, serangan udara dan perintah evakuasi dari militer Israel terus meluas hingga jauh di luar garis depan konflik.

Baca Juga: Dana Pensiun Korsel NPS Tambah Investasi Saham Lokal Saat KOSPI Melejit

Investigasi Reuters menunjukkan operasi militer Israel kini telah membuat sebagian besar wilayah Lebanon selatan praktis kosong dari penduduk.

Ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan yang terus berlangsung hampir setiap hari.

Setelah gencatan senjata diumumkan, Israel merilis peta zona penyangga seluas hampir 600 kilometer persegi yang diduduki pasukan daratnya.

Dalam peta tersebut, terdapat 57 kota dan desa yang diminta untuk dievakuasi.

Namun sejak saat itu, militer Israel disebut melancarkan ratusan serangan udara di wilayah yang jauh lebih luas di luar zona pendudukan tersebut.

Reuters mencatat Israel juga telah mengeluarkan perintah evakuasi terhadap lebih dari 100 kota dan desa tambahan di Lebanon.

Baca Juga: Iran dan AS Saling Serang di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Kebuntuan Negosiasi

Jika digabungkan dengan wilayah pendudukan, area yang terdampak kini mencapai sekitar 2.000 kilometer persegi atau hampir seperlima wilayah Lebanon. Banyak kawasan kini praktis tidak dapat dihuni warga sipil.

Konflik terbaru di Lebanon pecah pada 2 Maret ketika Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran yang saat itu berada di bawah serangan Israel dan Amerika Serikat. Israel kemudian merespons dengan invasi darat ke Lebanon.

Menurut pemerintah Lebanon, konflik sejauh ini telah menewaskan lebih dari 3.000 orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.

Israel menyatakan operasi militernya bertujuan menghancurkan ancaman dari Hezbollah, yang dituduh menyimpan senjata dan menempatkan pasukannya di kawasan sipil.

Baca Juga: Pound Sterling Melemah Tiga Hari Beruntun di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Militer Israel menegaskan perintah evakuasi yang dikeluarkan hanyalah “rekomendasi” agar warga dapat meninggalkan wilayah sebelum serangan dilakukan.

“Lebanon selatan tetap menjadi zona tempur aktif,” kata militer Israel kepada Reuters.

Di sisi lain, Hezbollah juga terus melancarkan serangan sejak gencatan senjata, termasuk menggunakan drone bunuh diri.

Kelompok itu menyebut mereka tetap memiliki hak untuk melawan agresi Israel dan membantah menempatkan aset militer di area sipil.

Reuters mewawancarai para kepala desa dari 20 wilayah yang terdampak perintah evakuasi Israel.

Baca Juga: Investasi Gas Global Melonjak ke Level Tertinggi 10 Tahun di Tengah Krisis Timteng

Sebagian besar menyebut hanya sedikit warga yang masih bertahan, sementara mayoritas telah mengungsi ke wilayah utara atau kota pesisir seperti Tyre dan Sidon.

“Orang-orang sudah kelelahan secara mental. Mereka tidak sanggup lagi sehingga pergi meninggalkan desa,” kata Ali Nazzal, kepala desa Srifa.

“Gencatan senjata ini bohong.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pekan ini juga menyatakan Israel akan meningkatkan intensitas serangan.

Pernyataan itu memicu gelombang pengungsian baru dari wilayah pinggiran selatan Beirut.

Israel bahkan kembali mengeluarkan perintah evakuasi baru terhadap lebih dari selusin kota dan desa serta menetapkan sebagian besar wilayah selatan Lebanon sebagai “zona tempur”.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2% Usai Iran Serang Pangkalan AS

Pada 31 Maret, Netanyahu mengatakan wilayah pendudukan Israel di Lebanon akan membentang hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel-Lebanon.

Ia menyebut kawasan itu sebagai “zona penyangga besar” untuk mencegah ancaman serangan terhadap Israel.

Meski saat gencatan senjata diumumkan Israel baru menguasai sekitar separuh area tersebut, serangan udara dan perintah evakuasi berikutnya telah mendorong warga mengungsi jauh melampaui Sungai Litani.

Militer Israel pada 12 Mei mengklaim telah menyerang lebih dari 1.100 target sejak gencatan senjata berlaku, termasuk gudang senjata dan lokasi operasi Hezbollah.

Analisis data cahaya malam dari sensor satelit VIIRS yang dilakukan Profesor Hadi Jaafar dari American University of Beirut menunjukkan penurunan signifikan aktivitas cahaya di Lebanon selatan sejak konflik dimulai.

Kondisi itu mengindikasikan banyak warga belum kembali ke rumah mereka meski gencatan senjata telah berlaku.

Di tengah situasi tersebut, banyak warga kehilangan harapan untuk kembali hidup normal.

Baca Juga: Mobil Listrik China Kuasai Eropa: Leapmotor Cetak Rekor Fantastis

Hawraa Yousef Ghadbouni, warga berusia 39 tahun dari kota Qlaileh, mengatakan dirinya bersama suami dan tiga anaknya sempat kembali ke rumah setelah gencatan senjata diumumkan.

Namun sehari kemudian mereka kembali melarikan diri akibat serangan udara.

“Kami ingin pulang meski harus tidur di tanah,” katanya.

“Yang penting bisa kembali. Hidup seperti ini tidak bisa dipertahankan.”

Tragedi juga dialami Wael al-Amin, seorang tenaga medis berusia 48 tahun di kota Bedias.

Saat sedang duduk bersama anak-anaknya di rumah sang saudara, sebuah serangan menghantam bangunan tersebut.

Al-Amin berhasil menyelamatkan putranya yang terluka dari reruntuhan. Namun saudaranya tewas dalam serangan itu.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×