kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.859   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Netanyahu Perintahkan Serangan ke Beirut, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas


Senin, 01 Juni 2026 / 16:15 WIB
Netanyahu Perintahkan Serangan ke Beirut, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas
ILUSTRASI. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (via REUTERS/Moti Kimchi)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya melancarkan serangan ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Senin (1/6/2026).

Langkah tersebut menandai eskalasi baru yang berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomatik yang tengah dilakukan Amerika Serikat (AS) untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Macron Raup Komitmen Investasi 93 Miliar Euro, Dorong Prancis Jadi Hub AI Eropa

Dalam pernyataan yang dikeluarkan kantor Netanyahu, ia bersama Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan pasukan Israel menyerang target-target yang disebut sebagai fasilitas teroris di kawasan Dahiyeh, wilayah yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah di Beirut selatan.

Pemerintah Israel menuding Hizbullah terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dan melancarkan serangan ke wilayah Israel.

"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz telah memerintahkan militer Israel untuk menyerang target-target teroris di Dahiyeh menyusul pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata dan serangan terhadap kota-kota serta warga negara kami," demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah Israel dilansir Reuters.

Serangan tersebut menjadi yang ketiga ke wilayah Dahiyeh sejak Presiden AS Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata Lebanon pada pertengahan April lalu.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan, bentrokan di wilayah Lebanon selatan terus berlangsung.

Baca Juga: DBS Bidik Kekayaan Asia, 18 Pusat Baru Siap Layani Jutaan Dolar

Iran: Serangan Israel Hambat Jalur Diplomasi

Pemerintah Iran menilai eskalasi yang dilakukan Israel justru memperumit proses diplomasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik antara Washington dan Teheran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa serangan Israel di Lebanon menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tertundanya proses negosiasi.

"Serangan Israel di Lebanon merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tertundanya proses diplomatik," kata Baghaei.

Ia kembali menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian integral dari setiap kesepakatan yang tengah dibahas terkait penghentian konflik antara AS dan Iran.

Baca Juga: BP Raih Mitra Baru, Proyek LNG Australia Makin Kuat

Israel Perluas Operasi Darat

Perintah menyerang Beirut muncul setelah militer Israel meningkatkan operasi di Lebanon selatan selama akhir pekan.

Pasukan Israel dilaporkan berhasil merebut Kastel Beaufort, benteng bersejarah berusia sekitar 900 tahun yang berada di wilayah strategis Lebanon selatan.

Penguasaan benteng tersebut dinilai memperkuat posisi militer Israel dalam operasi yang lebih luas.

Pada Minggu (31/5), Netanyahu juga memerintahkan militer untuk memperluas manuver darat di Lebanon.

"Kami akan memperdalam dan memperluas kendali kami atas wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kontrol Hizbullah," ujar Netanyahu.

Israel menyatakan pembentukan zona keamanan di Lebanon selatan diperlukan untuk melindungi wilayah utara Israel dari serangan kelompok bersenjata yang beroperasi di dekat perbatasan.

Baca Juga: DBS Tambah 18 Wealth Centre Baru di Asia, Perkuat Layanan Nasabah Kaya hingga 2027

Korban Terus Bertambah

Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 3.370 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret, ketika Hizbullah mulai meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran yang saat itu terlibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Di pihak Israel, pemerintah menyebut sebanyak 24 personel militer dan empat warga sipil tewas dalam serangan yang dilakukan Hizbullah selama periode yang sama.

Konflik tersebut juga telah memicu gelombang pengungsian besar. Pemerintah Lebanon memperkirakan lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya intensitas pertempuran.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Harga Minyak

Hizbullah Klaim Serang Infrastruktur Militer Israel

Hizbullah menolak tuduhan bahwa mereka menjadi pihak yang melanggar gencatan senjata.

Kelompok yang didukung Iran itu justru menuduh Israel terus melakukan agresi dan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam pernyataannya, Hizbullah mengklaim telah melaksanakan 21 operasi militer pada Minggu, termasuk serangan roket ke fasilitas militer Israel di kota Nahariya.

Kelompok tersebut juga menegaskan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk melawan apa yang disebut sebagai pendudukan Israel di wilayah Lebanon.

Baca Juga: SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang

Prancis Minta Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB

Meningkatnya kekerasan di Lebanon mendorong France meminta penyelenggaraan sidang darurat United Nations Security Council pada Senin (1/6).

Langkah itu diambil di tengah kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas dan menggagalkan berbagai upaya diplomatik yang sedang dijalankan.

Amerika Serikat sendiri terus mencoba menjembatani komunikasi antara Israel dan Lebanon. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan telah berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun serta Netanyahu untuk membahas kemungkinan deeskalasi.

Seorang pejabat AS mengatakan Washington mengusulkan langkah awal berupa penghentian seluruh serangan Hizbullah terhadap Israel, yang kemudian diikuti dengan komitmen Israel untuk tidak memperluas operasi militer di Beirut.

"Ini akan menciptakan ruang bagi deeskalasi bertahap dan penghentian permusuhan yang efektif," kata pejabat tersebut.

Baca Juga: China Perketat Investasi Global, Bisa Paksa Batalkan Akuisisi Asing

Lebanon Minta Israel Hentikan Serangan Terlebih Dahulu

Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, yang dikenal sebagai sekutu dekat Hizbullah menyatakan dirinya dapat menjamin kepatuhan kelompok tersebut terhadap gencatan senjata.

"Saya menjamin komitmen penuh dan segera dari kelompok perlawanan terhadap gencatan senjata," kata Berri kepada media Lebanon.

Meski demikian, ia mempertanyakan siapa yang dapat memastikan Israel menghentikan operasi militernya.

"Pertanyaannya adalah, siapa yang akan memaksa Israel menghentikan agresinya?" ujar Berri.

Dengan meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon dan belum tercapainya kesepakatan deeskalasi, prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah kembali menghadapi tantangan besar.

Situasi ini juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi jalannya negosiasi lebih luas antara AS dan Iran dalam beberapa pekan mendatang.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×