Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kelompok militan Lebanon Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis (9/4/2026) dini hari.
Serangan ini menjadi yang pertama sejak tercapainya gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Reuters, Hezbollah menyatakan aksi tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, setelah militer Israel melancarkan serangan terbesar ke Lebanon sejak konflik dimulai.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah Tipis Kamis (9/4) Pagi, di Tengah Keraguan Gencatan Senjata
Sehari sebelumnya, Israel menggempur berbagai wilayah di Lebanon, menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya. Serangan terparah terjadi di Beirut dengan korban tewas mencapai 91 orang.
Serangan tersebut menimbulkan keraguan serius terhadap upaya gencatan senjata di kawasan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa penghentian kekerasan di Lebanon merupakan syarat penting dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Serangan Terbesar dan Dampak Kemanusiaan
Militer Israel menyatakan telah menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan fasilitas militer Hezbollah dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.
Namun, serangan tersebut juga berdampak luas pada kawasan sipil. Sejumlah bangunan runtuh dan warga dilaporkan terjebak di dalamnya.
Baca Juga: Iran Nilai Perundingan Damai Jadi “Tidak Masuk Akal” Usai Serangan Israel ke Lebanon
Tim penyelamat terlihat mengevakuasi korban dengan peralatan darurat, sementara rumah sakit kekurangan ambulans dan pasokan darah.
Kepala HAM PBB Volker Türk mengecam keras eskalasi ini. “Skala korban dan kehancuran di Lebanon hari ini sangat mengerikan,” ujarnya.
Perbedaan Tafsir Gencatan Senjata
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata dengan Iran.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang menyebut adanya kesalahpahaman dari pihak Iran terkait ruang lingkup kesepakatan tersebut.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Kamis (9/4) Pagi, Pasar Cermati Gencatan Senjata Rapuh AS-Iran
Sebaliknya, Hezbollah mengklaim telah mematuhi gencatan senjata karena merasa termasuk dalam kesepakatan, dan menuduh Israel kembali melakukan pelanggaran serta “pembantaian” di Lebanon.
Sejumlah pejabat Hezbollah juga memperingatkan bahwa serangan lanjutan Israel dapat berdampak pada keseluruhan kesepakatan gencatan senjata.
Risiko Eskalasi Regional
Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa AS dan Israel akan menerima “balasan yang disesalkan” jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan tersebut dan menyebut Presiden Prancis Emmanuel Macron siap mendorong upaya diplomasi agar Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata.
Baca Juga: Donald Trump Kritik NATO soal Iran, Hubungan Aliansi Memanas
Konflik ini juga telah memicu krisis kemanusiaan besar. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon dilaporkan mengungsi, sementara infrastruktur vital seperti jembatan, rumah sakit, dan pembangkit listrik turut menjadi sasaran.
Israel bahkan disebut telah memutus akses wilayah selatan Lebanon dari bagian lain negara tersebut, serta berencana menjadikannya sebagai zona penyangga.
Harapan Damai Kian Menipis
Sebelum serangan terbaru, lebih dari 1.500 orang telah tewas sejak konflik pecah pada awal Maret, termasuk ratusan anak-anak.
Banyak warga yang sempat berharap gencatan senjata akan memungkinkan mereka kembali ke rumah, kini kembali diliputi ketakutan.
Baca Juga: Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh
“Semoga gencatan senjata benar-benar terwujud. Lebanon tidak sanggup lagi menanggung ini,” ujar seorang warga yang mengungsi.
Dengan saling tuding pelanggaran dan eskalasi militer yang terus berlanjut, prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah kembali berada dalam ketidakpastian.













