kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.084   45,00   0,26%
  • IDX 7.282   3,26   0,04%
  • KOMPAS100 1.007   0,18   0,02%
  • LQ45 734   0,19   0,03%
  • ISSI 263   1,93   0,74%
  • IDX30 394   -4,75   -1,19%
  • IDXHIDIV20 481   -6,65   -1,36%
  • IDX80 113   0,09   0,08%
  • IDXV30 133   -1,33   -0,99%
  • IDXQ30 127   -1,75   -1,36%

Iran Nilai Perundingan Damai Jadi “Tidak Masuk Akal” Usai Serangan Israel ke Lebanon


Kamis, 09 April 2026 / 08:16 WIB
Iran Nilai Perundingan Damai Jadi “Tidak Masuk Akal” Usai Serangan Israel ke Lebanon
ILUSTRASI. Tentara Israel (REUTERS/Tyrone Siu)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran menyatakan perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) menjadi “tidak masuk akal” setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, yang menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman balasan dari Teheran.

Melansir Reuters Kamis (9/4/2026), pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang juga menjadi negosiator utama Iran.

Ia menegaskan bahwa situasi kawasan masih sangat tidak stabil meski sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Dolar AS Stabil Kamis (9/4) Pagi, Pasar Cermati Gencatan Senjata Rapuh AS-Iran

Menurut Qalibaf, Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

Sementara itu, AS dinilai melanggar kesepakatan dengan tetap menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.

“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau perundingan menjadi tidak masuk akal,” ujarnya.

Di sisi lain, Israel dan AS menyatakan bahwa gencatan senjata selama dua pekan tidak mencakup Lebanon.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon akan terus berlanjut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Iran kemungkinan salah memahami cakupan gencatan senjata tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa perbedaan posisi antara kedua pihak masih sangat lebar, terutama terkait program nuklir Iran.

Baca Juga: Donald Trump Kritik NATO soal Iran, Hubungan Aliansi Memanas

Ketegangan Tetap Tinggi

Meski kedua pihak AS dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung lima pekan, isu utama masih belum terselesaikan.

Perbedaan tuntutan terkait program nuklir dan keamanan kawasan menjadi hambatan utama menuju kesepakatan damai jangka panjang.

Sementara itu, pasar global sempat merespons positif dengan lonjakan indeks saham dan penurunan harga minyak hingga sekitar 14% ke kisaran US$95 per barel. Namun, harga minyak masih sekitar US$25 lebih tinggi dibanding sebelum konflik dimulai.

Kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global dinilai telah mengubah dinamika kekuatan di kawasan Teluk.

Baca Juga: Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×