Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Serangan dan Ancaman Balasan
Israel meningkatkan intensitas serangan ke Lebanon, dengan total korban tewas mencapai 254 orang dalam satu hari, termasuk 91 orang di ibu kota Beirut. Sejumlah serangan dilaporkan terjadi tanpa peringatan evakuasi bagi warga sipil.
Sebagai respons, kelompok Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel, menyebut aksi tersebut sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan Israel yang dinilai tidak pandang bulu, serta mendesak agar Lebanon juga dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata.
Selain itu, para pemimpin dari 13 negara Eropa, Jepang, dan Kanada menyerukan penghentian konflik secara menyeluruh guna mencegah krisis energi global yang lebih parah.
Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas minyak di negara-negara Teluk, termasuk jalur pipa di Arab Saudi yang digunakan untuk mengalihkan pengiriman minyak dari Selat Hormuz. Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab turut melaporkan serangan rudal dan drone.
Hingga kini, Selat Hormuz masih ditutup bagi kapal tanpa izin khusus, sementara pelaku pelayaran menunggu kejelasan sebelum kembali beroperasi.
Baca Juga: Semenanjung Korea Memanas: Korut Uji Hulu Ledak Bom Kluster Berdaya Rusak
Ketidakpastian Berlanjut
Di dalam negeri, masyarakat Iran merayakan gencatan senjata, namun tetap diliputi kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali memanas sewaktu-waktu.
Meski menghadapi tekanan militer besar, Iran masih mempertahankan stok uranium yang telah diperkaya serta kemampuan militernya, termasuk serangan rudal dan drone ke negara-negara tetangga.
Kepemimpinan Iran juga tetap bertahan tanpa tanda-tanda keruntuhan, menunjukkan bahwa konflik ini belum mengubah struktur kekuasaan di dalam negeri.
Dengan ketegangan yang masih tinggi dan perbedaan kepentingan yang tajam, prospek perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah masih jauh dari pasti.













