kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.109   69,00   0,40%
  • IDX 7.279   -0,29   0,00%
  • KOMPAS100 1.005   -1,24   -0,12%
  • LQ45 732   -1,84   -0,25%
  • ISSI 263   2,06   0,79%
  • IDX30 393   -6,02   -1,51%
  • IDXHIDIV20 480   -7,28   -1,49%
  • IDX80 113   -0,14   -0,13%
  • IDXV30 133   -1,55   -1,15%
  • IDXQ30 127   -2,08   -1,61%

Iran Nilai Perundingan Damai Jadi “Tidak Masuk Akal” Usai Serangan Israel ke Lebanon


Kamis, 09 April 2026 / 08:16 WIB
Iran Nilai Perundingan Damai Jadi “Tidak Masuk Akal” Usai Serangan Israel ke Lebanon
ILUSTRASI. Tentara Israel (REUTERS/Tyrone Siu)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran menyatakan perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) menjadi “tidak masuk akal” setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, yang menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman balasan dari Teheran.

Melansir Reuters Kamis (9/4/2026), pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang juga menjadi negosiator utama Iran.

Ia menegaskan bahwa situasi kawasan masih sangat tidak stabil meski sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Dolar AS Stabil Kamis (9/4) Pagi, Pasar Cermati Gencatan Senjata Rapuh AS-Iran

Menurut Qalibaf, Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

Sementara itu, AS dinilai melanggar kesepakatan dengan tetap menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.

“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau perundingan menjadi tidak masuk akal,” ujarnya.

Di sisi lain, Israel dan AS menyatakan bahwa gencatan senjata selama dua pekan tidak mencakup Lebanon.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon akan terus berlanjut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Iran kemungkinan salah memahami cakupan gencatan senjata tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa perbedaan posisi antara kedua pihak masih sangat lebar, terutama terkait program nuklir Iran.

Baca Juga: Donald Trump Kritik NATO soal Iran, Hubungan Aliansi Memanas

Ketegangan Tetap Tinggi

Meski kedua pihak AS dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung lima pekan, isu utama masih belum terselesaikan.

Perbedaan tuntutan terkait program nuklir dan keamanan kawasan menjadi hambatan utama menuju kesepakatan damai jangka panjang.

Sementara itu, pasar global sempat merespons positif dengan lonjakan indeks saham dan penurunan harga minyak hingga sekitar 14% ke kisaran US$95 per barel. Namun, harga minyak masih sekitar US$25 lebih tinggi dibanding sebelum konflik dimulai.

Kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global dinilai telah mengubah dinamika kekuatan di kawasan Teluk.

Baca Juga: Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh

Serangan dan Ancaman Balasan

Israel meningkatkan intensitas serangan ke Lebanon, dengan total korban tewas mencapai 254 orang dalam satu hari, termasuk 91 orang di ibu kota Beirut. Sejumlah serangan dilaporkan terjadi tanpa peringatan evakuasi bagi warga sipil.

Sebagai respons, kelompok Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel, menyebut aksi tersebut sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan Israel yang dinilai tidak pandang bulu, serta mendesak agar Lebanon juga dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata.

Selain itu, para pemimpin dari 13 negara Eropa, Jepang, dan Kanada menyerukan penghentian konflik secara menyeluruh guna mencegah krisis energi global yang lebih parah.

Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas minyak di negara-negara Teluk, termasuk jalur pipa di Arab Saudi yang digunakan untuk mengalihkan pengiriman minyak dari Selat Hormuz. Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab turut melaporkan serangan rudal dan drone.

Hingga kini, Selat Hormuz masih ditutup bagi kapal tanpa izin khusus, sementara pelaku pelayaran menunggu kejelasan sebelum kembali beroperasi.

Baca Juga: Semenanjung Korea Memanas: Korut Uji Hulu Ledak Bom Kluster Berdaya Rusak

Ketidakpastian Berlanjut

Di dalam negeri, masyarakat Iran merayakan gencatan senjata, namun tetap diliputi kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali memanas sewaktu-waktu.

Meski menghadapi tekanan militer besar, Iran masih mempertahankan stok uranium yang telah diperkaya serta kemampuan militernya, termasuk serangan rudal dan drone ke negara-negara tetangga.

Kepemimpinan Iran juga tetap bertahan tanpa tanda-tanda keruntuhan, menunjukkan bahwa konflik ini belum mengubah struktur kekuasaan di dalam negeri.

Dengan ketegangan yang masih tinggi dan perbedaan kepentingan yang tajam, prospek perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah masih jauh dari pasti.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×