Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SHENZHEN. Pendiri sekaligus Ketua BYD Wang Chuanfu optimistis perusahaan otomotif asal China itu akan menjadi produsen mobil terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya perusahaan meyakinkan investor setelah harga saham BYD mengalami penurunan tajam dalam setahun terakhir.
Dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang digelar di kantor pusat BYD di Shenzhen, Wang berbicara di hadapan hampir 1.000 pemegang saham. Ia menegaskan bahwa perusahaan akan fokus meningkatkan kapasitas produksi Blade Battery generasi kedua yang dinilai menjadi salah satu tantangan utama pertumbuhan bisnis tahun ini.
"BYD benar-benar akan menjadi produsen mobil nomor satu di dunia dari sisi skala dalam lima tahun ke depan," ujar Wang.
Ia menambahkan bahwa optimisme tersebut didukung oleh pertumbuhan ekspor yang kuat serta kemajuan teknologi perusahaan, termasuk pengembangan baterai dan teknologi pengisian daya cepat yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan baik di pasar domestik maupun internasional.
Baca Juga: India Bebaskan Pajak Obligasi Asing, Investor Luar Negeri Langsung Serbu Pasar
BYD menempati peringkat keenam sebagai produsen mobil terbesar dunia pada 2025 dengan penjualan mencapai 4,6 juta unit kendaraan. Namun, perusahaan menghadapi tantangan mempertahankan pertumbuhan setelah penjualan di pasar domestik tertekan akibat persaingan yang semakin ketat dengan sesama produsen otomotif China.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja saham perusahaan. Dalam setahun terakhir, saham BYD yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong telah merosot lebih dari 45% dari posisi puncaknya, sementara saham yang tercatat di Bursa Shenzhen turun sekitar 33%.
Pada Rabu (10/6/2026), BYD mengonfirmasi bahwa Wang memang menyampaikan ambisi menjadikan perusahaan sebagai produsen mobil terbesar di dunia. Namun, perusahaan tidak memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai rincian lain yang dibahas dalam rapat tersebut.
Untuk merealisasikan target tersebut, BYD harus melampaui Toyota Motor yang masih menjadi pemimpin industri otomotif global. Pada 2025, Toyota menjual kendaraan lebih dari dua kali lipat dibandingkan BYD.
Meski demikian, posisi Toyota di sejumlah pasar internasional mulai menghadapi tekanan. Pangsa pasarnya di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah mengalami penyusutan seiring meningkatnya penetrasi produsen otomotif asal China di wilayah tersebut.
Baca Juga: Minat Investor Membludak, IPO SpaceX Oversubscribed 4 Kali
Di sisi lain, kinerja ekspor BYD terus menunjukkan pertumbuhan yang solid. Selama periode Januari hingga Mei, ekspor perusahaan meningkat 65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Brasil, Inggris, dan Australia menjadi tiga pasar ekspor terbesar BYD, didukung oleh hambatan perdagangan yang relatif rendah.
Namun, lonjakan ekspor tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi pelemahan permintaan di pasar domestik. Sepanjang Januari hingga Mei, total pengiriman kendaraan BYD tercatat turun lebih dari 20%.
Sentimen tersebut turut membebani pergerakan saham perusahaan pada perdagangan Rabu pagi. Saham BYD di Bursa Hong Kong turun 4,3%, sementara saham yang diperdagangkan di Bursa Shenzhen melemah 1,6%.













