kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.908   33,00   0,18%
  • IDX 6.339   -1,30   -0,02%
  • KOMPAS100 837   -2,22   -0,26%
  • LQ45 633   -3,29   -0,52%
  • ISSI 218   -0,43   -0,20%
  • IDX30 357   -1,70   -0,47%
  • IDXHIDIV20 442   -1,65   -0,37%
  • IDX80 95   -0,41   -0,43%
  • IDXV30 119   0,05   0,05%
  • IDXQ30 114   -0,62   -0,54%

Yen Tembus 163 per Dolar AS, Pasar Waspadai Intervensi Bank Sentral Jepang


Rabu, 22 Juli 2026 / 08:17 WIB
Yen Tembus 163 per Dolar AS, Pasar Waspadai Intervensi Bank Sentral Jepang
ILUSTRASI. Forex - Yen Jepang (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah hingga menembus level 163 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026).

Pelemahan mata uang Jepang tersebut dipicu kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu spekulasi pasar mengenai kemungkinan intervensi otoritas Jepang.

Baca Juga: 10 Rekor Lionel Messi di Piala Dunia 2026, Cristiano Ronaldo Ikut Tersalip

Pada perdagangan Selasa di New York, yen sempat menyentuh level 163,24 per dolar AS, yang merupakan posisi terlemah sejak akhir 1986. Memasuki sesi perdagangan Asia pada Rabu pagi, yen berada di kisaran 163,21 per dolar AS.

Dolar AS juga menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya setelah militer AS melanjutkan serangan ke Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut.

Analis strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, Samara Hammoud, mengatakan konflik di Timur Tengah berpotensi terus menopang penguatan dolar.

"Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah cenderung mendukung dolar AS karena statusnya sebagai aset safe haven dan korelasinya yang umumnya positif dengan harga minyak," ujarnya.

Euro terakhir diperdagangkan di level US$ 1,1401, setelah sempat turun di bawah US$ 1,14.

Baca Juga: Ballon d'Or Harus Juara Piala Dunia? Ini Fakta dan Rekor Sejak 1995

Sementara itu, dolar Australia bertahan di sekitar US$ 0,70, sedangkan dolar Selandia Baru diperdagangkan sedikit di atas rata-rata pergerakan 200 hari di level US$ 0,5825.

Pound sterling juga berada di bawah tekanan dan turun ke US$ 1,3385, menembus rata-rata pergerakan 200 hari.

Pelaku pasar masih mencermati rencana Menteri Keuangan Inggris yang baru, John Healey, dalam membiayai belanja pemerintah.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 91,99 per barel, level tertinggi dalam enam pekan.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat. Yield Treasury tenor 30 tahun naik ke 5,15%, tertinggi dalam dua bulan.

Kenaikan yield Treasury AS di atas 5% umumnya berdampak pada pasar keuangan global karena meningkatkan daya tarik dolar AS dan mengurangi minat investor terhadap aset yang lebih berisiko.

Baca Juga: Kerek Cadev, Pakistan Minta Fasilitas Stabilisasi Nilai Tukar US$ 10 Miliar ke AS

Fokus pasar selanjutnya tertuju pada lelang obligasi Treasury AS tenor 20 tahun yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.

Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun juga sempat menyentuh 4,64%, level tertinggi sejak Mei, sehingga semakin menekan nilai tukar yen.

Waspadai intervensi Jepang

Suku bunga Jepang yang masih rendah, ditambah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut, telah membuat yen terus melemah dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Jepang sebelumnya melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing pada April dan Mei setelah kurs dolar AS menembus level 160 yen.

Namun, dampak intervensi tersebut mulai memudar. Pemerintah Jepang kini lebih memilih menggunakan strategi yang tidak mudah diprediksi (ambush tactics) untuk menjaga pasar tetap waspada, alih-alih terus memberikan peringatan terbuka mengenai intervensi.

Pasar juga sempat mendapat sentimen positif setelah Menteri Keuangan Jepang mengusulkan agar dana pensiun pemerintah mengalihkan sebagian investasinya dari luar negeri ke aset domestik.

Baca Juga: JPMorgan C Bersiap Danai Komitmen Investasi Jepang Senilai US$550 Miliar

Namun, efeknya tidak bertahan lama sehingga perhatian investor kembali tertuju pada potensi pembelian yen oleh pemerintah.

Analis HSBC yang dipimpin Kepala Riset Valuta Asing Global Paul Mackel memperkirakan Jepang kemungkinan akan kembali melakukan intervensi dalam waktu dekat.

Meski demikian, mereka menilai intervensi tersebut tidak akan memberikan dampak jangka panjang apabila Bank of Japan (BOJ) tidak menaikkan suku bunga secara lebih agresif, Federal Reserve tidak kembali mengarah pada penurunan suku bunga, atau tidak terjadi perbaikan sentimen terhadap kondisi fiskal Jepang.

HSBC memperkirakan pasangan dolar AS terhadap yen akan bergerak di kisaran 160–165 yen per dolar AS, dengan intervensi pemerintah Jepang berpotensi membatasi pelemahan yen, tetapi tetap ditopang oleh suku bunga riil Jepang yang masih negatif.




TERBARU

[X]
×