kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

JPMorgan C Bersiap Danai Komitmen Investasi Jepang Senilai US$550 Miliar


Rabu, 22 Juli 2026 / 05:07 WIB
JPMorgan C Bersiap Danai Komitmen Investasi Jepang Senilai US$550 Miliar
ILUSTRASI. Sejumlah bank asal Amerika Serikat, termasuk JPMorgan dikabarkan menyediakan pembiayaan proyek dalam komitmen investasi Jepang di Amerika Serikat ( REUTERS/STEPHANIE KEITH)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – TOKYO. Sejumlah bank asal Amerika Serikat, termasuk JPMorgan, dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan untuk menyediakan pembiayaan bagi sebagian proyek dalam komitmen investasi Jepang di Amerika Serikat senilai US$550 miliar.

Mengutip Reuters, pembiayaan tersebut akan membantu Tokyo memenuhi komitmen yang telah disepakati dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelumnya, Jepang dan AS mencapai kesepakatan investasi pada Juli 2025 sebagai bagian dari upaya Tokyo untuk memperoleh tarif impor sebesar 15%.

Kesepakatan itu tercapai setelah Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25% terhadap sebagian besar produk ekspor Jepang ke Amerika Serikat.

Dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan, pemerintah Jepang ingin menunjukkan kemajuan dalam memenuhi janji investasinya. Langkah ini juga dilakukan untuk menghindari potensi tekanan perdagangan dari Washington.

Pada Januari tahun ini, Trump bahkan sempat mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap Korea Selatan dengan alasan negara tersebut tidak memenuhi kewajibannya dalam perjanjian perdagangan. Namun, ancaman tersebut kemudian dibatalkan.

Baca Juga: PM Inggris Andy Burnham Pangkas Pajak Listrik untuk Redam Krisis Biaya Hidup

Salah satu sumber bersama dua sumber lainnya juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS telah mengirimkan daftar kandidat proyek tambahan kepada pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk dimasukkan ke dalam skema investasi tersebut. Namun, ketiga sumber itu meminta identitas mereka dirahasiakan karena pembahasan masih bersifat tertutup.

Hingga kini, Reuters belum memperoleh informasi mengenai besaran pendanaan yang akan disediakan bank-bank AS maupun proyek mana saja yang akan menerima pembiayaan tersebut. Selain itu, belum diketahui apakah pemerintah AS turut terlibat dalam pembahasan terkait bank-bank yang akan menyediakan pendanaan.

JPMorgan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Sementara itu, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyatakan kepada Reuters bahwa belum ada keputusan terkait partisipasi bank-bank AS. Menurut kementerian, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan lembaga keuangan Amerika Serikat.

Kementerian juga menegaskan bahwa pemerintah Jepang belum menetapkan daftar proyek tahap ketiga. Negosiasi bilateral antara kedua negara masih berlangsung dan berbagai usulan proyek masih dapat diajukan maupun ditolak.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang diajukan di luar jam kerja.

Baca Juga: Ant International Raup Dana US$ 1,2 Miliar Demi Percepat Ekspansi Global

Pendanaan yang Terkumpul Masih Terbatas

Sejauh ini, hanya sekitar US$2,2 miliar pembiayaan yang telah dikomitmenkan untuk gelombang pertama proyek investasi yang diumumkan pada Februari lalu. Dana tersebut disalurkan kepada perusahaan-perusahaan tujuan khusus yang dibentuk untuk mengelola masing-masing proyek.

Dari total pendanaan tersebut, sekitar sepertiganya berasal dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC), sementara sisanya dibiayai bersama oleh tiga bank terbesar Jepang, yakni Mitsubishi UFJ Financial Group, Sumitomo Mitsui Financial Group, dan Mizuho Financial Group.

Sumber terpisah menyebutkan, ketiga bank tersebut telah menyampaikan kepada pemerintah Jepang bahwa meskipun pinjaman mereka dijamin pemerintah, biaya untuk memperoleh pendanaan jangka panjang dalam dolar AS sangat mahal dan dapat membatasi kemampuan mereka dalam menyalurkan kredit ke sektor lain.

Untuk mendapatkan likuiditas dolar AS, bank-bank Jepang umumnya harus menerbitkan obligasi dolar, meminjam di pasar wholesale, atau memanfaatkan pasar swap mata uang. Seluruh opsi tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Beban biaya itu semakin meningkat akibat perbedaan tingkat suku bunga yang cukup lebar antara Amerika Serikat dan Jepang, ditambah biaya lindung nilai terhadap risiko nilai tukar.

Karena itu, pemerintahan Sanae Takaichi dikabarkan tengah mempertimbangkan berbagai cara untuk membantu perbankan domestik memperoleh pendanaan dolar AS agar dapat membiayai proyek-proyek di Amerika Serikat.

Baca Juga: IMF Sebut Harga Minyak Jadi Ancaman Utama bagi Ekonomi India

Salah satu usulan yang mencuat adalah memanfaatkan cadangan devisa pemerintah Jepang dalam bentuk dolar AS. Kantor berita Kyodo sebelumnya melaporkan rencana tersebut.

Meski demikian, Mitsubishi UFJ, Sumitomo Mitsui, dan Mizuho menolak memberikan komentar terkait kemungkinan penambahan pembiayaan.

Proyek Energi hingga Nuklir Masuk Daftar Investasi

Gelombang pertama proyek yang diumumkan pada Februari mencakup pembangunan fasilitas ekspor minyak di Texas, pabrik berlian industri di Georgia, serta pembangkit listrik berbahan bakar gas alam di Ohio.

Sementara itu, gelombang kedua yang diumumkan pada Maret meliputi rencana pembangunan reaktor nuklir modular kecil oleh GE Vernova Hitachi di Tennessee dan Alabama, serta sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar gas alam di Pennsylvania dan Texas.

Menurut sejumlah sumber, keterlibatan bank-bank besar AS dalam pembiayaan proyek-proyek tersebut memang dapat membantu mempercepat realisasi investasi. Namun, risiko tetap besar karena proyek infrastruktur umumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menghasilkan keuntungan dan melunasi utang secara penuh.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Jepang dan lembaga keuangan yang terlibat, terutama di tengah tingginya biaya pendanaan dalam dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×