kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.900   65,00   0,36%
  • IDX 6.333   -41,54   -0,65%
  • KOMPAS100 824   -8,41   -1,01%
  • LQ45 627   -6,12   -0,97%
  • ISSI 219   -1,30   -0,59%
  • IDX30 347   -3,19   -0,91%
  • IDXHIDIV20 431   -3,30   -0,76%
  • IDX80 94   -0,94   -0,99%
  • IDXV30 118   -0,70   -0,59%
  • IDXQ30 111   -1,10   -0,98%

Pengangguran Australia Tembus Level Tertinggi 5 Tahun, RBA Bersiap Naikkan Bunga


Kamis, 24 September 2026 / 09:29 WIB
Pengangguran Australia Tembus Level Tertinggi 5 Tahun, RBA Bersiap Naikkan Bunga
ILUSTRASI. Ekonomi Australia (REUTERS/Hollie Adams)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Tingkat pengangguran Australia meningkat ke level tertinggi dalam lima tahun pada Agustus 2026.

Kondisi ini terjadi meski penyerapan tenaga kerja tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, karena semakin banyak masyarakat yang masuk ke pasar kerja untuk mencari pekerjaan.

Melansir Reuters, Data Australian Bureau of Statistics (ABS) pada Kamis (24/9/2026) menunjukkan, jumlah pekerja bersih bertambah 39.500 orang pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi Dua Bulan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat

Angka tersebut jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan 20.000 pekerja.

Namun, jumlah pekerja penuh waktu justru turun 6.300 orang.

Tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% dari 4,5% pada Juli. Angka tersebut juga lebih tinggi dari perkiraan pasar dan menjadi yang tertinggi sejak akhir 2021.

Kenaikan pengangguran terjadi seiring meningkatnya partisipasi angkatan kerja. Tingkat partisipasi naik 0,2 poin persentase menjadi 67,1%, sementara jumlah jam kerja meningkat 0,7%.

"Pada Agustus, kami mencatat proporsi orang yang sebelumnya berada di luar angkatan kerja dan kemudian menjadi pengangguran lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun terakhir," kata Sean Crick, Kepala Statistik Ketenagakerjaan ABS.

Menurut Crick, bertambahnya ukuran angkatan kerja tersebut mendorong kenaikan tingkat partisipasi.

Baca Juga: Meta Kejutkan Pasar, Mark Zuckerberg Perkenalkan Perangkat AI Genggam Meta Charm

RBA Masih Berpeluang Naikkan Suku Bunga

Data ketenagakerjaan yang beragam tersebut belum cukup mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA).

Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 95% bahwa RBA akan menaikkan suku bunga acuan pada pekan depan menjadi 4,6%. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang keempat sepanjang tahun ini.

Dolar Australia merespons negatif data tersebut. Mata uang Negeri Kanguru melemah 0,2% menjadi US$ 0,7026, sekaligus berada di level terendah dalam tujuh pekan setelah mengalami tekanan besar pada perdagangan sebelumnya.

RBA menilai pasar tenaga kerja Australia memang mulai melonggar, tetapi masih relatif ketat.

Gubernur RBA Michele Bullock mengatakan tingkat pengangguran di kisaran 4,5% hingga 5% dapat membantu menahan tekanan inflasi.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan pengangguran masih dapat diperlukan untuk membantu menurunkan inflasi.

RBA telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini hingga mencapai 4,35%, yang merupakan level tertinggi sejak periode pascapandemi.

Namun, tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Inflasi inti Australia masih berada di 3,6%, lebih tinggi dibandingkan target RBA sebesar 2% hingga 3%.

Baca Juga: China's Lipstick King Hadapi Perlambatan, AI Mulai Ganggu Bisnis Livestream Shopping

Inflasi dan Harga Minyak Jadi Perhatian

Bullock sebelumnya memperingatkan bahwa risiko inflasi mulai meningkat akibat dampak konflik di Timur Tengah serta lonjakan investasi pusat data.

Kenaikan harga energi juga menjadi perhatian. Harga minyak kembali berada di atas US$ 100 per barel, mendorong pasar melakukan penyesuaian terhadap prospek suku bunga global.

Di Australia, pasar kini memperkirakan suku bunga acuan dapat mencapai sekitar 5,1%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, tekanan inflasi dan kenaikan harga energi masih menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan moneter Australia.

Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Kamis (24/9), Harga Minyak Kembali Picu Kekhawatiran Inflasi




TERBARU

[X]
×