Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Australia dan dolar Selandia Baru tertekan pada perdagangan Jumat (11/9/2026), seiring lonjakan harga minyak yang menekan aset berisiko dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Tekanan terhadap inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama membuat pasar kini memperkirakan peluang Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga pada akhir September mencapai 90%.
Baca Juga: Nikkei Jepang Anjlok 3% Jumat (11/9), Harga Minyak dan The Fed Jadi Beban
Ekspektasi tersebut mendorong yield obligasi pemerintah Australia ke level tertinggi dalam 15 tahun.
"Menurut pandangan kami, RBA perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengantisipasi inflasi. Kami kini memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini, sehingga proyeksi suku bunga terminal menjadi 4,85%," kata Josh Williamson, Kepala Ekonom Australia di Citi.
Citi juga menilai pasar masih terlalu rendah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga RBA secara berturut-turut. Kebijakan tersebut dinilai diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Karena itu, Citi menggeser proyeksi pemangkasan suku bunga pertama RBA menjadi kuartal IV 2027.
Pasar swap saat ini memperhitungkan kenaikan suku bunga sekitar 33 basis poin hingga November dan 40 basis poin hingga Desember.
Ekspektasi tersebut masih dapat meningkat jika RBA menaikkan suku bunga acuan dari level 4,35% pada rapat 29 September mendatang.
Baca Juga: Bursa Australia Anjlok Jumat (11/9), ASX 200 Menuju Pekan Terburuk 6 Bulan
Yield obligasi Australia melonjak
Pasar obligasi Australia merespons tajam perubahan ekspektasi kebijakan moneter tersebut. Yield obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 18 basis poin menjadi 5,050%.
Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 5,256%, level tertinggi sejak pertengahan 2011.
Tekanan juga datang dari Amerika Serikat (AS). Investor meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Ekspektasi tersebut memberikan dukungan lebih luas terhadap dolar AS.
Dolar Australia berada di level US$ 0,7161, relatif stabil setelah merosot 0,8% pada perdagangan sebelumnya. Mata uang tersebut sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam empat bulan di US$ 0,7238.
Sementara itu, dolar Selandia Baru bertahan di US$ 0,5811 setelah turun 0,7% dan sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan di US$ 0,5795.
Baca Juga: Yield Treasury AS Mendekati 5%, Saham Asia Berguguran
Tekanan juga melanda pasar obligasi Selandia Baru. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 13 basis poin menjadi 5,055%, level tertinggi sejak akhir 2023.
Yield swap tenor dua tahun bahkan melonjak 21 basis poin menjadi 4,024%, seiring meningkatnya taruhan bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) harus memperketat kebijakan moneter lebih agresif.
RBNZ sebelumnya memperkirakan hanya akan menaikkan suku bunga satu atau dua kali lagi masing-masing sebesar 25 basis poin dari level suku bunga acuan 2,75%.
Namun, pasar kini memperhitungkan empat kali kenaikan suku bunga.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar risiko inflasi dan mendorong investor memperkirakan suku bunga global akan bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.














