Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham global berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli 2026. Tekanan berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi global dan harga minyak yang bertahan di level tinggi, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Mengutip Reuters, Jumat (21/8/2026), tekanan di pasar obligasi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Imbal hasil US Treasury kembali meningkat setelah intervensi mengejutkan Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8) hanya memberikan kelegaan kurang dari sehari.
Baca Juga: Data Awal PMI, Aktivitas Industri di Kawasan Zona Euro Menguat di Agustus
Kenaikan yield terjadi meski Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury. Bessent juga mengemukakan rencana konsolidasi fiskal.
Namun, pelaku pasar meragukan pemerintah AS mampu menemukan penghematan belanja yang cukup untuk mengurangi defisit anggaran yang telah melampaui 6% dari produk domestik bruto (PDB).
Beban bunga utang AS saja diperkirakan mencapai US$ 1,2 triliun tahun ini, sementara total utang pemerintah AS telah menembus US$ 40 triliun.
Yield Treasury Kembali Naik
Yield obligasi AS tenor 30 tahun berada di sekitar 5,25%, sedangkan yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,71%.
Pasar kini memperkirakan level yield 30 tahun sebesar 5,30% sebagai ambang yang berpotensi memicu kekhawatiran pemerintah AS, serupa dengan level 160 yen per dolar AS yang menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan Jepang.
Baca Juga: Penjualan Ritel Inggris Turun di Juli 2026, Usai Melonjak Saat Gelaran Piala Dunia
"Pertanyaan besarnya adalah apakah langkah ini cukup berarti untuk memberikan dampak yang bertahan lama," kata Christian Hantel, Head of Global Corporate Bonds Vontobel.
Kenaikan yield Treasury berpotensi meningkatkan biaya utang secara global. Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi perusahaan teknologi yang tengah meningkatkan pinjaman untuk membiayai belanja modal terkait kecerdasan buatan (AI).
Yield yang lebih tinggi juga meningkatkan tingkat diskonto terhadap laba perusahaan dan berpotensi menekan valuasi saham.
Tekanan tersebut terlihat di pasar saham Jepang. Indeks Nikkei turun 0,3% pada Jumat dan telah melemah hampir 4% sepanjang pekan. Nikkei berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli.
Bursa Korea Selatan dan Taiwan menguat tipis pada perdagangan Jumat, tetapi keduanya masih berada di zona merah secara mingguan.
Di Eropa, bursa saham sempat menguat pada awal perdagangan. Namun, indeks STOXX 600 tetap berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak awal Juli, sekitar 1%.
Sementara itu, indeks saham dunia MSCI juga berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli.
Di Wall Street, musim laporan keuangan yang kuat memberikan sedikit dukungan. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,25%, sementara Nasdaq futures menguat 0,5%.
Baca Juga: Nilai Sanksi AS Tidak Adil, Pemerintah Iran Siapkan Strategi Atasi Sanksi
Perhatian investor berikutnya tertuju pada laporan keuangan Nvidia. Kinerja dan proyeksi perusahaan tersebut akan menjadi ujian penting bagi reli saham berbasis AI, terutama terkait prospek permintaan infrastruktur dan pendapatan pusat data.
Harga Minyak Naik, Inflasi Jadi Ancaman
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat mencapai level tertinggi dalam satu bulan di sekitar US$ 95 per barel, sebelum terkoreksi akibat aksi ambil untung.
Harga Brent terakhir turun tipis 0,1% menjadi sekitar US$ 93,64 per barel, tetapi masih mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang pekan.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3% menjadi US$ 86,56 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Pernyataan Bessent mengenai rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi "terberat dalam sejarah" terhadap Iran semakin mengurangi harapan tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Kondisi tersebut membuat risiko gangguan pasokan energi global tetap tinggi.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Melemah dan Catat Pekan Terburuk dalam Lebih dari Sebulan
Dolar AS Tertekan
Di pasar valuta asing, dolar AS menuju pelemahan mingguan hampir 1% terhadap sejumlah mata uang utama dan kembali mendekati level terendah tiga bulan.
Indeks dolar terakhir berada di 98,74, turun sekitar 0,9% sepanjang pekan. Euro menguat 1% sepanjang pekan menjadi US$ 1,1686 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi 14 minggu.
Terhadap franc Swiss, dolar AS melemah 1,7% sepanjang pekan menjadi 0,7995 franc. Ini menjadi penurunan mingguan terbesar dolar terhadap franc sejak Januari.
Kekhawatiran terhadap membengkaknya utang AS dan ketidakpastian kebijakan juga mendorong investor mencari aset alternatif seperti emas dan Bitcoin.
Baca Juga: Pekerja Hyundai Motor Korea Selatan Mogok Kerja, Ini Isi Tuntutannya
Harga emas naik sekitar 1% menjadi US$ 4.560 per ons, sekaligus menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan.
Sementara itu, Bitcoin melonjak hampir 6% menjadi US$ 76.446 dan berada di jalur kenaikan sekitar 20% sepanjang pekan. Jika bertahan, kenaikan tersebut akan menjadi penguatan mingguan terbesar Bitcoin dalam 2,5 tahun.
"Dolar AS kembali berada di bawah tekanan, sebagian karena menguatnya narasi 'debasement'," kata Jonas Goltermann, Chief Markets Economist Capital Economics.
Pasar Tunggu Arah Suku Bunga Jepang
Dolar AS masih bertahan di sekitar level 159 yen. Namun, yen menghadapi tekanan tersendiri akibat perbedaan suku bunga AS dan Jepang.
Data terbaru menunjukkan inflasi inti Jepang meningkat pada Juli, seiring perusahaan meneruskan kenaikan biaya impor. Survei manufaktur juga menunjukkan lonjakan pesanan baru.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Naik Dalam Sepekan, Dipicu Pelemahan Dolar dan Yield Obligasi AS
Kedua perkembangan tersebut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) pada September.
Pasar saat ini telah memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Namun, investor menginginkan sinyal yang lebih tegas mengenai kemungkinan pengetatan moneter yang lebih cepat dan agresif dari BOJ.














