Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Aktivitas bisnis sektor swasta zona euro kembali menguat pada Agustus 2026. Pertumbuhan ditopang terutama oleh pemulihan sektor manufaktur, sementara sektor jasa masih mampu mempertahankan laju ekspansinya.
Ini terlihat dari data purchasing manager’s index (PMI) kawasan tersebut. S&P Global mencatat Flash Eurozone Composite PMI Output Index naik menjadi 52,1 pada Agustus, dari 52,0 pada Juli.
Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2025. Level tersebut sekaligus menandakan ekspansi aktivitas bisnis selama bulan berjalan.
Penguatan terutama datang dari sektor manufaktur. PMI sektor manufaktur zona euro meningkat menjadi 52,8 pada Agustus dari 51,9 pada Juli. Ini menjadi level tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Pertumbuhan output manufaktur juga mencapai laju terkuat dalam 54 bulan.
Sementara itu, sektor jasa relatif stabil. PMI sektor jasa bertahan di level 51,7, sama seperti bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada dalam fase ekspansi.
Baca Juga: Penjualan Ritel Inggris Turun di Juli 2026, Usai Melonjak Saat Gelaran Piala Dunia
Perbaikan aktivitas bisnis juga dibarengi dengan penguatan permintaan. Pesanan baru meningkat pada laju tercepat dalam 40 bulan. Pesanan ekspor, termasuk perdagangan antar negara di zona euro, juga kembali tumbuh untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Kondisi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pasar tenaga kerja. Lapangan kerja secara keseluruhan meningkat untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini.
Perusahaan manufaktur kembali merekrut pekerja setelah lebih dari tiga tahun. Sedangkan pertumbuhan tenaga kerja di sektor jasa mencapai laju tercepat dalam delapan bulan.
Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan, sektor manufaktur kembali menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi zona euro. “Ini seiring dukungan dari aktivitas di sektor jasa yang mencatatkan pertumbuhan lebih baik setelah sempat lesu di kuartal dua,” kata dia, dalam keterangan resmi, Jumat (21/8/2026).
Menurut Williamson, penguatan sektor barang antara lain ditopang oleh penumpukan persediaan sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan rantai pasok dari Timur Tengah. Namun, ia juga melihat adanya tanda-tanda yang lebih fundamental.
Baca Juga: Nilai Sanksi AS Tidak Adil, Pemerintah Iran Siapkan Strategi Atasi Sanksi
Indikator tersebut antara lain berupa peningkatan permintaan terhadap produk teknologi terkait akal imitasi (AI) serta peralatan yang didorong oleh kenaikan belanja pertahanan. “Hal ini secara khusus membantu Jerman mencatatkan peningkatan produksi yang kian mengesankan,” kata Williamson.
Di sisi harga, tekanan inflasi mulai mereda meski masih berada pada level tinggi. Pertumbuhan biaya input melambat ke level terendah dalam enam bulan, sedangkan inflasi harga output turun ke level terendah dalam lima bulan.
Meski demikian, perkembangan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran terhadap inflasi. Williamson menilai masih terbuka kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat oleh European Central Bank (ECB).
“Dengan data awal PMI yang mengisyaratkan pertumbuhan PDB yang solid pada kuartal ketiga, dimulainya kembali perekrutan karyawan oleh perusahaan untuk pertama kalinya tahun ini, serta tingkat inflasi yang masih tinggi menurut standar historis, kebijakan yang cenderung hawkish kemungkinan besar akan dipertahankan dan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat tidak dapat dikesampingkan.,” ujar Williamson.
Baca Juga: Serikat Pekerja Hyundai Motor Korea Selatan Mogok, Pertama dalam 10 Tahun
Di tengah membaiknya aktivitas ekonomi, dunia usaha justru menjadi lebih berhati-hati terhadap prospek ke depan. Tingkat optimisme perusahaan mengenai kondisi bisnis dalam setahun mendatang masih berada di bawah rata-rata historis survei.
Perkembangan PMI tersebut menunjukkan ekonomi zona euro memasuki kuartal III-2026 dengan pijakan yang relatif kuat. Sebelumnya, ekonomi zona euro tumbuh 0,4% pada kuartal II 2026.
Dengan demikian, penguatan aktivitas bisnis pada Agustus menjadi sinyal bahwa momentum pemulihan masih berlanjut meski kawasan tersebut menghadapi ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok.














