Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan Rabu (4/11/2026).
Investor mencermati hasil pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS yang berpotensi memperkuat posisi Partai Demokrat di Kongres.
Hasil awal pemilu mulai bermunculan. Senator Partai Demokrat Jon Ossoff berhasil mempertahankan kursinya dalam pemilihan di Georgia.
Namun, kepastian apakah Demokrat mampu merebut kendali Kongres dari Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump masih membutuhkan waktu.
Baca Juga: Demokrat Berpeluang Kuasai Kongres AS, Saham AI Terancam Tertekan?
Di pasar valuta asing, euro menguat 0,2% menjadi US$ 1,1212. Yen Jepang juga menguat ke level 158,30 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun tipis 0,2% ke posisi 101,7.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut turun 4 basis poin menjadi 4,919%.
Carol Kong, Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia mengatakan, pasar saat ini memperkirakan Partai Demokrat berpeluang menguasai DPR dan Senat AS.
Menurut dia, apabila Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres, dolar AS berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut.
Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi ruang pemerintah Trump dalam meningkatkan belanja negara selama masa pemerintahannya.
Hingga pukul 19.30 waktu setempat atau 00.30 GMT, sejumlah media AS telah memproyeksikan pemenang dalam beberapa pemilihan anggota DPR setelah tempat pemungutan suara ditutup di 10 negara bagian. Namun, proses pemungutan suara masih berlangsung di sebagian besar wilayah AS.
Baca Juga: Harga Kopi di AS Melonjak 91% Sejak 2020, Harry Styles Ikut Mengeluh
Risiko geopolitik turut dicermati
Selain hasil pemilu, investor juga mengamati potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Kong mengatakan, arah kebijakan Trump setelah pemilu dapat memengaruhi perkembangan konflik AS dan Iran.
Ia menyoroti pernyataan Trump sebelumnya mengenai kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran setelah pemilu.
Jika ketegangan meningkat, harga minyak berpotensi melonjak dan memberikan dukungan terhadap dolar AS.
Harga minyak relatif stabil di kisaran US$ 103,85 per barel setelah turun sekitar 1% pada perdagangan Selasa dan menyentuh level terendah dalam hampir empat pekan.
Pasar masih menimbang peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Iran dan Ukraina, di tengah kekhawatiran bahwa serangan terbaru dalam kedua konflik tersebut dapat mengganggu pasokan energi.
Baca Juga: Bank Sentral Kerek Suku Bunga Tertinggi dalam 18 Tahun, Bursa Australia Berguguran
Sementara itu, pound sterling menguat tipis menjadi US$ 1,3440. Pelaku pasar menantikan pengumuman kebijakan Bank of England (BoE) pada Kamis (5/11/2026). Komite Kebijakan Moneter BoE diperkirakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Agustus 2023.
Di Asia, yuan offshore China terakhir diperdagangkan di level 6,6673 per dolar AS. Mata uang tersebut mulai stabil setelah mengalami pelemahan harian terbesar sejak 15 Mei pada perdagangan Selasa.
Pelemahan yuan sebelumnya terjadi setelah People's Bank of China (PBOC) menaikkan rasio cadangan devisa yang wajib dimiliki lembaga keuangan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperlambat penguatan yuan.














