kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,25   -4,93   -0.53%
  • EMAS960.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Orang yang pernah mengidap Covid-19 tidak mungkin tertular lagi minimal enam bulan


Sabtu, 21 November 2020 / 05:10 WIB
Orang yang pernah mengidap Covid-19 tidak mungkin tertular lagi minimal enam bulan
ILUSTRASI. orang yang pernah mengidap Covid-19 sangat tidak mungkin untuk tertular lagi setidaknya selama enam bulan setelah infeksi pertama mereka.


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - LONDON. Sebuah penelitian di Inggris tentang petugas kesehatan di garis depan yang berperang melawan pandemi virus corona menunjukkan, orang yang pernah mengidap Covid-19 sangat tidak mungkin untuk tertular lagi setidaknya selama enam bulan setelah infeksi pertama mereka.

Reuters memberitakan, para peneliti di Universitas Oxford mengatakan, penemuan ini seharusnya memberikan jaminan bagi lebih dari 51 juta orang di seluruh dunia yang telah terinfeksi penyakit pandemik.

“Ini benar-benar berita bagus, karena kami yakin bahwa, setidaknya dalam jangka pendek, kebanyakan orang yang tertular Covid-19 tidak akan tertular lagi,” kata David Eyre, profesor di Departemen Kesehatan Populasi Nuffield Oxford, yang ikut memimpin penelitian.

Kasus-kasus infeksi ulang Covid-19 yang terisolasi, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa kekebalan yang dimiliki seseorang mungkin berumur pendek dan pasien yang pulih dapat segera jatuh sakit lagi.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 akan dapat meningkatkan imunitas tubuh

Tetapi hasil penelitian ini, yang dilakukan pada kohort petugas kesehatan Inggris - termasuk di antara mereka yang berisiko tertinggi tertular Covid-19 - menunjukkan kasus infeksi ulang kemungkinan akan tetap sangat jarang.

“Terinfeksi Covid-19 memang menawarkan perlindungan terhadap infeksi ulang bagi kebanyakan orang setidaknya selama enam bulan,” kata Eyre kepada Reuters. “Kami tidak menemukan infeksi gejala baru pada antibodi salah satu peserta yang dites positif.”

Studi tersebut mencakup periode 30 minggu antara April dan November 2020. Hasilnya belum ditinjau oleh ilmuwan lain, tetapi dipublikasikan sebelum ditinjau di situs web MedRxiv.

Baca Juga: Cegah penularan virus corona di kantor, ini yang harus dilakukan

Selama penelitian, 89 dari 11.052 staf tanpa antibodi mengembangkan infeksi baru dengan gejala, sementara tidak satu pun dari 1.246 staf dengan antibodi mengembangkan infeksi bergejala.

Staf dengan antibodi juga lebih kecil kemungkinannya untuk dites positif Covid-19 tanpa gejala, kata para peneliti, dengan 76 tanpa antibodi dites positif, dibandingkan dengan hanya tiga dengan antibodi. Ketiganya tampak baik-baik saja dan tidak mengembangkan gejala Covid-19.

Baca Juga: Virus corona bukan lahir di Wuhan, kasus Covid-19 ditemukan di Italia lebih dahulu

“Kami akan terus mengikuti kohort staf ini dengan hati-hati untuk melihat berapa lama perlindungan bertahan dan apakah infeksi sebelumnya mempengaruhi tingkat keparahan infeksi jika orang terinfeksi lagi,” kata Eyre.

 

Selanjutnya: Ini waktu berjemur terbaik di bawah sinar matahari, jangan sampai salah!

 




TERBARU

[X]
×