kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.887   28,00   0,17%
  • IDX 8.249   36,54   0,44%
  • KOMPAS100 1.162   3,98   0,34%
  • LQ45 833   3,02   0,36%
  • ISSI 295   0,72   0,25%
  • IDX30 434   1,76   0,41%
  • IDXHIDIV20 518   2,06   0,40%
  • IDX80 130   0,32   0,25%
  • IDXV30 142   0,11   0,08%
  • IDXQ30 140   0,58   0,41%

The Fed Perlu Cermati Dampak AI sebelum Tentukan Arah Suku Bunga


Rabu, 18 Februari 2026 / 07:46 WIB
The Fed Perlu Cermati Dampak AI sebelum Tentukan Arah Suku Bunga
ILUSTRASI. Gedung Federal Reserve (The Fed) (Leah Millis/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) perlu menggali data secara mendalam untuk menilai apakah kecerdasan buatan (AI) benar-benar mendorong produktivitas dan memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat tanpa memicu inflasi.

Berbicara dalam acara di San Jose State University yang diselenggarakan Silicon Valley Leadership Group, Daly menyebut sebagian besar studi makro terkait produktivitas sejauh ini masih menemukan bukti terbatas mengenai dampak signifikan AI terhadap pertumbuhan.

Baca Juga: Ekspor Jepang Melonjak 16,8% pada Januari, Ditopang Permintaan Kuat dari Asia

“Sebagian besar studi makro tentang pertumbuhan produktivitas menemukan bukti terbatas atas efek signifikan AI,” kata Daly dalam naskah pidatonya, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, hal itu bisa jadi karena masih terlalu dini untuk melihat hasil nyata dari investasi AI yang dilakukan perusahaan-perusahaan di berbagai sektor.

Namun, ia juga membuka kemungkinan bahwa transformasi ekonomi secara menyeluruh memang membutuhkan waktu lebih panjang untuk terwujud.

Belajar dari Era 1990-an

Daly menyinggung pengalaman pada 1990-an di bawah kepemimpinan Ketua The Fed saat itu, Alan Greenspan.

Kala itu, Greenspan menilai data produktivitas belum sepenuhnya menangkap dampak investasi besar-besaran pada komputer dan perangkat lunak.

Baca Juga: Deteksi Ledakan Aneh di Lop Nur: Apakah China Langgar Perjanjian Nuklir?

Alih-alih menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi inflasi, Greenspan memilih menahannya dan keputusan tersebut terbukti tepat karena ekonomi mampu tumbuh lebih cepat tanpa lonjakan inflasi.

Daly mengatakan pendekatan serupa mungkin diperlukan saat ini. The Fed perlu “melihat ke bawah permukaan” data nasional, berdialog dengan pelaku usaha, dan menilai arah ekonomi secara lebih komprehensif sebelum menyimpulkan apakah pertumbuhan yang lebih cepat menjadi sinyal awal tekanan inflasi atau justru bersifat jinak terhadap harga.

“Kemauan untuk menghadapi apa yang kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui sangat penting untuk membuat kebijakan yang tepat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sikap Kebijakan Suku Bunga

Daly tidak secara langsung membahas pandangannya mengenai arah suku bunga dalam waktu dekat.

Baca Juga: Trump Umumkan Proyek Energi dan Mineral Kritis di Texas, Ohio, dan Georgia

Sebelumnya, ia mendukung keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% bulan lalu.

Namun, ia juga menyebut terdapat argumen untuk memangkas suku bunga guna mendukung pasar tenaga kerja, yang menurutnya masih menghadapi keterbatasan peluang kerja dan tekanan upah yang tergerus inflasi.

Pernyataan Daly menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI dan lonjakan investasi teknologi, bank sentral AS masih berhati-hati dalam menilai apakah perubahan tersebut benar-benar mengubah struktur ekonomi atau hanya menjadi euforia jangka pendek yang belum tercermin dalam data fundamental.

Selanjutnya: Wall St Bergerak Fluktuatif, Isu AI hingga Perundingan Nuklir AS–Iran Bayangi Pasar

Menarik Dibaca: Panduan Ramadhan 2026, Cek Jadwal Imsakiyah di Wonosobo Resmi dari Kemenag




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×