kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.918.000   -22.000   -0,75%
  • USD/IDR 16.884   25,00   0,15%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Deteksi Ledakan Aneh di Lop Nur: Apakah China Langgar Perjanjian Nuklir?


Rabu, 18 Februari 2026 / 06:56 WIB
Deteksi Ledakan Aneh di Lop Nur: Apakah China Langgar Perjanjian Nuklir?
ILUSTRASI. Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengungkap apa yang disebutnya sebagai temuan baru terkait dugaan uji coba nuklir bawah tanah yang dilakukan China pada Juni 2020. (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pada Selasa (17/2/2026), seorang pejabat senior Amerika Serikat mengungkap apa yang disebutnya sebagai temuan baru terkait dugaan uji coba nuklir bawah tanah yang dilakukan China pada Juni 2020.

Melansir Reuters, Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Yeaw, dalam sebuah acara di lembaga think tank Hudson Institute di Washington, mengatakan bahwa sebuah stasiun seismik jarak jauh di Kazakhstan mendeteksi “ledakan” berkekuatan magnitudo 2,75 pada 22 Juni 2020. 

Sumber getaran tersebut disebut berasal dari lokasi uji coba Lop Nur di China barat, sekitar 720 kilometer dari titik pemantauan.

Lop Nur diketahui sebagai lokasi uji coba nuklir China di masa lalu.

“Saya telah meninjau data tambahan sejak saat itu. Kemungkinannya sangat kecil bahwa itu bukan sebuah ledakan tunggal,” ujar Yeaw. 

Ia menambahkan bahwa data tersebut tidak sesuai dengan karakteristik ledakan tambang maupun gempa bumi.

Menurut Yeaw, yang memiliki gelar doktor di bidang teknik nuklir dan pernah menjadi analis intelijen pertahanan, pola yang terdeteksi sesuai dengan apa yang diharapkan dari uji coba bahan peledak nuklir.

Baca Juga: Berkshire Hathaway Investasi di New York Times, Kurangi Kepemilikan Apple

Namun, Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO), badan internasional yang bertugas memantau uji coba nuklir di seluruh dunia, menyatakan data yang tersedia belum cukup untuk mengonfirmasi tuduhan tersebut secara meyakinkan.

China Membantah Tuduhan

Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar. Sebelumnya, China telah membantah melakukan uji coba nuklir bawah tanah setelah tuduhan pertama kali disampaikan oleh AS dalam konferensi internasional awal bulan tersebut.

China terakhir kali mengakui melakukan uji coba nuklir bawah tanah pada 1996.

Sekretaris Eksekutif CTBTO, Robert Floyd, mengatakan stasiun PS23 di Kazakhstan mencatat dua peristiwa seismik sangat kecil yang terjadi dengan selisih 12 detik pada 22 Juni 2020.

Menurut Floyd, sistem pemantauan CTBTO mampu mendeteksi peristiwa yang konsisten dengan ledakan nuklir berkekuatan sekitar 500 ton TNT atau lebih. Namun, dua peristiwa yang tercatat tersebut berada jauh di bawah ambang batas itu.

“Dengan data ini saja, tidak mungkin menentukan penyebab peristiwa tersebut dengan tingkat keyakinan yang memadai,” ujarnya.

Baca Juga: Trump Umumkan Proyek Energi dan Mineral Kritis di Texas, Ohio, dan Georgia




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×