Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Yeaw juga menuding China mencoba menyamarkan uji coba tersebut menggunakan metode yang dikenal sebagai “decoupling”, yaitu meledakkan perangkat di dalam rongga bawah tanah besar untuk mengurangi gelombang kejut yang terdeteksi.
Baik China maupun Amerika Serikat telah menandatangani perjanjian larangan uji coba nuklir tahun 1996, tetapi belum meratifikasinya. Meski demikian, berdasarkan hukum internasional, kedua negara tetap berkewajiban untuk tidak merusak tujuan perjanjian tersebut.
AS sendiri terakhir kali melakukan uji coba nuklir bawah tanah pada 1992 dan sejak itu mengandalkan program bernilai miliaran dolar yang menggunakan teknologi canggih serta simulasi superkomputer untuk memastikan keandalan hulu ledaknya.
Ketegangan Nuklir dan Masa Depan Perjanjian
Isu ini mencuat di tengah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia, New START, yang habis masa berlakunya pada 5 Februari lalu.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, mendesak China untuk bergabung dalam perundingan trilateral bersama Washington dan Moskow guna menggantikan perjanjian tersebut. Namun China menolak, dengan alasan bahwa jumlah arsenal nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan dua kekuatan nuklir terbesar dunia itu.
Tonton: Pemerintah Gelar Sidang Isbat 2026 Hari Ini, Kemungkinan Awal Ramadan Berbeda dengan Muhammadiyah
Menurut Pentagon, China saat ini memiliki lebih dari 600 hulu ledak operasional dan sedang melakukan ekspansi besar-besaran pada kekuatan nuklir strategisnya. Proyeksi AS memperkirakan jumlah tersebut bisa melampaui 1.000 hulu ledak pada 2030.
Berakhirnya New START telah memicu kekhawatiran global bahwa dunia dapat memasuki babak baru perlombaan senjata nuklir yang lebih cepat dan lebih luas.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)