kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Lebih dari 10.000 Orang, Lansia Paling Rentan


Senin, 13 Juli 2026 / 15:50 WIB
Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Lebih dari 10.000 Orang, Lansia Paling Rentan
ILUSTRASI. Gelombang panas ekstrem Juni 2026 di Eropa menewaskan lebih dari 10.000 orang, mayoritas lansia. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah barat Eropa pada akhir Juni 2026 menyebabkan lebih dari 10.000 kematian berlebih (excess deaths). Data resmi menunjukkan sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh EuroMOMO, jaringan pemantauan mortalitas yang didukung oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 9.000 kematian tambahan tercatat pada kelompok lansia.

Suhu ekstrem dapat menyebabkan kematian akibat serangan panas (heat stroke) maupun memperburuk penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan. Kelompok lanjut usia menjadi salah satu yang paling rentan terhadap dampak cuaca panas.

“Terjadinya lonjakan seperti ini pada periode tahun seperti sekarang merupakan hal yang tidak biasa. Angkanya sangat tinggi,” ujar Kepala Dokter Statens Serum Institut Denmark, Lasse Vestergaard, lembaga yang menjadi tuan rumah EuroMOMO, kepada Reuters.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Dekat Paris Hanguskan 800 Hektare, Ratusan Petugas Dikerahkan

“Sulit menjelaskan tingginya angka kematian berlebih ini dengan faktor lain selain cuaca panas ekstrem,” tambah Vestergaard.

Para ilmuwan sebelumnya menyatakan bahwa gelombang panas yang terjadi pada akhir Juni hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Perubahan iklim dinilai membuat gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin intens.

Data EuroMOMO yang dihimpun dari statistik kematian nasional di 27 negara Eropa mencatat seluruh penyebab kematian, bukan hanya yang berkaitan langsung dengan panas, selama periode 22–28 Juni 2026. Pada pekan tersebut, gelombang panas mencapai puncaknya di Prancis, Spanyol, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Namun, para peneliti menyebut tidak ada faktor besar lain yang diketahui, seperti lonjakan kasus Covid-19, yang dapat menjelaskan peningkatan hingga 10.650 kematian berlebih selama sepekan tersebut.

Menariknya, dalam delapan pekan sebelumnya, rata-rata angka kematian gabungan di negara-negara Eropa justru berada sekitar 500 kasus per pekan di bawah tingkat normal. EuroMOMO menegaskan data tersebut masih dapat direvisi dalam beberapa pekan mendatang seiring masuknya laporan tambahan.

Gelombang panas ekstrem pada akhir Juni juga memicu berbagai gangguan di Eropa, mulai dari terganggunya pasokan listrik, penutupan sekolah, hingga pecahnya rekor suhu tertinggi di Prancis, Spanyol, dan Inggris.

EuroMOMO tidak mempublikasikan rincian kematian berlebih untuk masing-masing negara. Namun, lembaga tersebut mencatat bahwa Prancis dan Belgia menjadi dua negara di Eropa yang mengalami tingkat kematian berlebih “sangat tinggi” pada pekan terakhir Juni.

Baca Juga: Harga Tembaga Turun: Peluang Cuan Saat Konflik Panas di Timur Tengah

Di Belgia, tingkat kematian berlebih selama gelombang panas kali ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 2000, menurut institut kesehatan masyarakat negara tersebut, Sciensano.

Sementara itu, sebuah studi ilmiah terpisah yang dipublikasikan pada Senin (13/7/2026) memperkirakan sekitar 2.700 orang meninggal akibat penyebab terkait panas di Inggris dan Wales selama gelombang panas yang terjadi pada Mei dan Juni.

Penelitian yang dilakukan oleh Imperial College London, Kantor Meteorologi Inggris (Met Office), dan London School of Hygiene & Tropical Medicine menemukan bahwa sekitar 42% dari total kematian tersebut dipicu oleh tambahan panas yang disebabkan oleh pemanasan global.

Temuan ini semakin memperkuat kekhawatiran para ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×