kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -16.000   -0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Pasar Global Menguat di Awal Tahun, Namun Ketahanan Tetap Reli Meragukan


Sabtu, 03 Januari 2026 / 20:01 WIB
Pasar Global Menguat di Awal Tahun, Namun Ketahanan Tetap Reli Meragukan
ILUSTRASI. USA-STOCKS / Wall Street (REUTERS/Eduardo Munoz)


Sumber: Bloomberg | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Tahun baru dibuka dengan kondisi pasar yang tidak jauh berbeda dari akhir tahun lalu. Pasar keuangan global menguat, kepercayaan Wall Street tetap terjaga, dan belum terlihat tanda-tanda bahwa faktor-faktor yang mendorong reli sepanjang 2025 telah kehilangan momentum.

Namun, yang masih menjadi tanda tanya adalah berapa lama keselarasan pergerakan lintas aset ini dapat bertahan.

Saham global menguat pada sesi perdagangan pertama Januari, melanjutkan tren kenaikan yang berlangsung hampir sepanjang tahun lalu.

Baca Juga: Rusia Kecam Agresi Bersenjata AS ke Venezuela, Minta Dewan Keamanan PBB Bersidang

Antusiasme terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), meredanya inflasi, serta kebijakan bank sentral yang mendukung mampu mengalahkan kekhawatiran terkait sengketa perdagangan, ketegangan geopolitik, dan valuasi yang dinilai mahal.

Bagi investor, pelajaran yang kembali ditegaskan adalah bahwa mengambil risiko terbukti memberikan imbal hasil.

Namun, keunikan 2025 tidak hanya terletak pada kuatnya reli, melainkan pada luasnya kenaikan di berbagai kelas aset. Saham dan obligasi sama-sama naik, spread kredit kembali menyempit, sementara komoditas ikut menguat meski tekanan inflasi mereda. Kenaikan tersebut berlangsung luas, berkelanjutan, dan sangat selaras.

Menjelang akhir tahun, kondisi keuangan global tercatat berada mendekati level paling longgar sepanjang 2025, mencerminkan valuasi yang meningkat dan ekspektasi investor yang semakin terkonsentrasi pada pertumbuhan ekonomi dan AI.

Jika diukur secara lintas aset—mencakup saham global, obligasi, kredit, dan komoditas—kinerja 2025 menjadi yang terkuat sejak 2009, tahun yang ditandai oleh krisis keuangan global dan intervensi kebijakan besar-besaran.

Keselarasan tersebut membuat diversifikasi portofolio terlihat mudah. Namun, pada saat yang sama, hal itu menutupi risiko bahwa banyak keuntungan bergantung pada berlanjutnya faktor-faktor yang sama seperti 12 bulan terakhir. Ketika aset yang seharusnya saling menyeimbangkan justru bergerak searah, perlindungan portofolio menjadi lebih rapuh dari yang terlihat.

“Kami menilai bahwa 2025 menunjukkan risiko ilusi diversifikasi,” kata Jean Boivin, Kepala Global BlackRock Investment Institute. “Ini bukan cerita tentang diversifikasi lintas kelas aset yang benar-benar memberikan perlindungan.”

Memasuki 2026, kekhawatiran utama bukanlah bahwa reli tahun lalu tidak rasional, melainkan sulitnya mengulang kinerja serupa. Prospek Wall Street masih bertumpu pada pendorong yang sama—investasi besar di AI, pertumbuhan ekonomi yang tangguh, serta kebijakan moneter yang longgar tanpa memicu inflasi.

Proyeksi yang dihimpun Bloomberg News dari lebih dari 60 institusi menunjukkan konsensus bahwa faktor-faktor tersebut masih bertahan. Namun, optimisme ini muncul di tengah pasar yang dinilai telah memasukkan banyak kabar baik ke dalam harga.

Baca Juga: Produksi Minyak Venezuela Tetap Normal Usai Serangan AS

“Kami berasumsi bahwa laju ekspansi valuasi yang sangat cepat di beberapa sektor tidak berkelanjutan dan sulit diulang,” ujar Carl Kaufman, manajer portofolio di Osterweis, merujuk pada saham-saham terkait AI dan nuklir. “Kami cukup optimistis bisa menghindari kejatuhan besar, tetapi khawatir imbal hasil ke depan akan cenderung rendah.”

Besarnya reli tahun lalu menjelaskan mengapa saham AS mencatatkan imbal hasil sekitar 18%, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan kenaikan dua digit, sementara saham global naik sekitar 23%.

Obligasi pemerintah juga menguat, dengan obligasi global naik hampir 7% seiring Federal Reserve memangkas suku bunga sebanyak tiga kali. Volatilitas menurun tajam dan pasar kredit ikut menguat.

Ukuran gejolak pasar obligasi AS mencatat penurunan tahunan terdalam sejak pascakrisis keuangan, sementara spread obligasi investment grade menyempit untuk tahun ketiga berturut-turut, menekan premi risiko rata-rata di bawah 80 basis poin.

Komoditas turut menikmati kenaikan. Indeks Bloomberg yang melacak sektor ini naik sekitar 11%, dipimpin oleh logam mulia. Harga emas mencetak rekor tertinggi baru, didukung oleh pembelian bank sentral, pelonggaran kebijakan moneter AS, dan melemahnya dolar.

Baca Juga: Ledakan Guncang Caracas Venezuela, Listrik Padam di Dekat Pangkalan Militer

Meski demikian, inflasi tetap menjadi titik rawan. Walau tekanan harga mereda sepanjang sebagian besar 2025, sejumlah investor memperingatkan bahwa gejolak pasar energi atau kesalahan kebijakan dapat dengan cepat membalikkan tren tersebut.

“Risiko utama bagi kami adalah apakah inflasi akhirnya kembali,” kata Mina Krishnan dari Schroders. “Kami melihat rangkaian peristiwa yang berpotensi memicu inflasi, dengan jalur paling mungkin dimulai dari kenaikan harga energi.”

Ketegangan ini juga tercermin di luar pasar keuangan. Menurut Bloomberg Billionaires Index, 500 orang terkaya di dunia menambah kekayaan kolektif sebesar rekor US$2,2 triliun tahun lalu, sementara kepercayaan konsumen AS justru turun selama lima bulan berturut-turut hingga Desember.

Tahun lalu juga menandai kebangkitan strategi diversifikasi klasik Wall Street. Portofolio 60/40—yang membagi investasi antara saham dan obligasi mencatatkan imbal hasil 14%, sementara indeks strategi kuantitatif risk parity melonjak 19%, kinerja terbaiknya sejak 2020. Meski demikian, strategi seimbang ini belum sepenuhnya kembali diminati investor, setelah sempat mengalami arus keluar dana dalam periode yang panjang.

Selanjutnya: Rusia Kecam Agresi Bersenjata AS ke Venezuela, Minta Dewan Keamanan PBB Bersidang

Menarik Dibaca: 8 Daftar Minuman Penurun Risiko Kanker yang Dapat Anda Coba




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×