Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perusahaan pembayaran digital asal Jepang, PayPay Corp., resmi menghimpun dana sekitar US$ 879,8 juta melalui penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat. Aksi korporasi ini menjadi pencatatan saham terbesar perusahaan Jepang di bursa AS dalam satu dekade terakhir.
Mengutip Bloomberg (12/3), dalam dokumen resmi perusahaan, PayPay menetapkan harga American Depositary Receipt (ADR) sebesar US$ 16 per saham, lebih rendah dari kisaran indikatif yang sebelumnya dipasarkan di level US$ 17 hingga US$ 20. Setiap ADR mewakili satu saham biasa.
Dalam transaksi tersebut, PayPay menjual 31,1 juta ADR. Sementara itu, afiliasi dari SoftBank Vision Fund II juga melepas 23,9 juta ADR. Vision Fund merupakan lengan investasi dari konglomerasi teknologi Jepang SoftBank Group Corp.
Dengan harga IPO tersebut, valuasi PayPay diperkirakan mencapai sekitar US$ 10,7 miliar berdasarkan jumlah saham beredar yang tercantum dalam dokumen perusahaan kepada U.S. Securities and Exchange Commission.
Meski minat investor institusi terbilang kuat dengan permintaan yang dilaporkan beberapa kali lipat dari jumlah saham yang ditawarkan harga IPO tetap dipatok di bawah kisaran awal. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang sempat membuat perusahaan menunda pemasaran formal penawaran sahamnya.
Beberapa investor besar turut ambil bagian dalam IPO ini. Di antaranya Abu Dhabi Investment Authority, unit dari Qatar Investment Authority, serta salah satu unit dari perusahaan pembayaran global Visa Inc.. Ketiganya sepakat membeli saham dengan total nilai hingga sekitar US$ 220 juta.
Selain penawaran di AS, IPO ini juga mencakup penawaran publik tanpa pencatatan di Jepang atas sekitar 8,7 juta ADR yang ditawarkan oleh Mizuho Financial Group Inc. dengan harga yang sama seperti di pasar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, IPO PayPay menjadi yang terbesar bagi perusahaan Jepang yang melantai di bursa AS sejak perusahaan layanan pesan instan Line Corp. menggalang dana US$ 1,3 miliar melalui pencatatan ganda di Tokyo dan New York pada 2016.
Dari sisi kinerja, PayPay menunjukkan pertumbuhan laba yang signifikan. Dalam sembilan bulan hingga Desember, perusahaan mencatat laba sebesar ¥ 103,3 miliar atau sekitar US$ 656 juta, naik tajam dibandingkan laba ¥ 28,96 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga meningkat menjadi ¥ 278,5 miliar dari sebelumnya ¥ 220,4 miliar.
PayPay sendiri didirikan pada 2018 melalui kemitraan dengan perusahaan pembayaran digital India Paytm yang juga didukung oleh Vision Fund. Sejak awal peluncuran, perusahaan agresif melakukan promosi dan subsidi transaksi untuk mempercepat adopsi pengguna.
Strategi tersebut membuat PayPay dengan cepat melampaui layanan pembayaran digital milik Rakuten Group Inc., yakni Rakuten Pay, dalam perebutan basis pengguna. Hingga Desember lalu, jumlah pengguna PayPay telah menembus lebih dari 72 juta orang di Jepang yang memiliki populasi sekitar 123 juta jiwa.
Baca Juga: PayPay SoftBank Diperkirakan Harga IPO di Batas Bawah karena Gejolak Pasar
Data dari Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan menunjukkan penggunaan pembayaran berbasis QR code di Jepang meningkat pesat. Pada 2024, transaksi QR menyumbang sekitar 9,6% dari total transaksi non-tunai, melonjak dari hanya 0,2% pada 2018. Meski demikian, kartu kredit masih mendominasi dengan pangsa sekitar 82,9%, walau tren pertumbuhannya mulai melambat.
Menjelang IPO global, PayPay juga mulai memperluas ekspansi internasional. Tahun lalu, perusahaan membuka akses layanan bagi pengguna Jepang di lebih dari 2 juta toko di Korea Selatan. Pada Februari, PayPay juga mengumumkan kemitraan dengan Visa untuk menjajaki peluang bisnis di pasar Amerika Serikat.
IPO PayPay juga menjadi bagian dari langkah SoftBank untuk mencairkan sebagian aset guna membiayai investasi baru, terutama di sektor kecerdasan buatan. Dalam laporan sebelumnya, SoftBank menyatakan telah menjual hampir US$ 13 miliar saham T-Mobile US Inc. antara Juni hingga Desember tahun lalu.
Meski melepas sebagian saham ke publik, SoftBank diperkirakan masih akan mengendalikan sekitar 92% hak suara di PayPay setelah IPO. Penawaran saham ini dipimpin oleh Goldman Sachs Group Inc., JPMorgan Chase & Co., Mizuho, serta Morgan Stanley.
PayPay dijadwalkan mulai diperdagangkan di Nasdaq Global Select Market dengan kode saham PAYP.
Baca Juga: Penawaran IPO Paypay Milik SofBank di AS Diperkirakan Dipatok di Bawah Harga













