kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45994,16   -8,36   -0.83%
  • EMAS1.136.000 0,26%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

PBB: 7.000 Warga Sipil Tewas Selama Perang di Ukraina


Rabu, 18 Januari 2023 / 13:14 WIB
PBB: 7.000 Warga Sipil Tewas Selama Perang di Ukraina
ILUSTRASI. Blok apartemen rusak berat akibat serangan rudal Rusia di Dnipro, Ukraina 15 Januari 2023. REUTERS/Clodagh Kilcoyne


Sumber: NHK | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Badan HAM PBB atau UNHRC pada hari Senin (16/1) melaporkan bahwa ada lebih dari 7.000 warga sipil yang telah kehilangan nyawa selama perang di Ukraina berlangsung.

Mengutip NHK, badan tersebut melaporkan setidaknya 7.031 warga sipil tewas di Ukraina sejak 24 Februari tahun lalu hingga hari Minggu (15/1). Dikatakan juga 433 di antaranya adalah anak-anak.

Meskipun demikian UNHRC yakin bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar dari itu karena keterlambatan dalam mengonfirmasi informasi dari zona pertempuran dan wilayah yang dikuasai Rusia.

Serangan mematikan terbaru terjadi pada hari Sabtu (14/1). Saat itu sebuah rudal menghantam sebuah gedung apartemen berlantai sembilan di timur kota Dnipro.

Baca Juga: Rusia: Tank-Tank Inggris Akan Terbakar Habis di Ukraina

Otoritas darurat Ukraina mengatakan sedikitnya 44 orang, termasuk 4 anak-anak, tewas dan 79 luka-luka. Mereka juga melaporkan bahwa sekitar 20 orang lainnya masih belum ditemukan dari reruntuhan bangunan.

Pihak Rusia menuduh Ukraina telah melakukan kesalahan dalam meluncurkan rudalnya sehingga menyebabkan insiden di gedung apartemen tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Inggris meyakinkan bahwa rudal anti-kapal besar Rusia telah diluncurka dari pesawat bomber dan sangat mungkin menghantam gedung apartemen.

"Rudal Rusia terkenal tidak akurat ketika digunakan melawan target darat karena sistem panduan radarnya buruk dalam membedakan target di daerah perkotaan. Ada disfungsi kemampuan serangan jarak jauh," kata kementerian tersebut.

Baca Juga: Ukraina Ngotot Minta Pengiriman Senjata dari Barat Dipercepat

Ukraina Meminta Lebih Banyak Bantuan

Insiden di Dnipro membuat Presiden Ukraina, Vlodomyr Zelensky, semakin mendesak para mitranya di Barat untuk mempercepat pengiriman senjata.

Zelensky melihat bahwa sifat aksi militer Rusia di garis depan memerlukan keputusan baru tentang pasokan senjata untuk Ukraina.

"Apa yang terjadi di Dnipro adalah fakta bahwa Rusia sedang mempersiapkan upaya baru untuk mengambil inisiatif dalam perang. Betapa pentingnya mengoordinasikan semua upaya koalisi untuk mempertahankan Ukraina dan untuk mempercepat pengambilan keputusan," katanya, seperti dikutip Reuters.

Negara-negara Barat telah memasok senjata ke Ukraina sejak invasi Rusia dimulai 24 Februari tahun lalu. Sayangnya, Zelensky belum merasa puas dan menuntut tambahan tank.

Permintaan tersebut mulai disanggupi sejumlah negara. Inggris pada hari Senin mengkonfirmasi akan mengirim 14 tank Challenger 2 dan perangkat keras lainnya, termasuk ratusan kendaraan lapis baja dan rudal pertahanan udara.




TERBARU

[X]
×