kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.800   35,00   0,20%
  • IDX 6.581   -19,09   -0,29%
  • KOMPAS100 857   -6,93   -0,80%
  • LQ45 650   -4,15   -0,63%
  • ISSI 229   -0,74   -0,32%
  • IDX30 364   -2,33   -0,64%
  • IDXHIDIV20 450   -1,92   -0,43%
  • IDX80 98   -0,77   -0,78%
  • IDXV30 124   -1,30   -1,04%
  • IDXQ30 116   -0,52   -0,45%

Pemanasan Global Diprediksi Tembus 1,5°C dalam Beberapa Tahun ke Depan


Rabu, 02 September 2026 / 13:17 WIB
Pemanasan Global Diprediksi Tembus 1,5°C dalam Beberapa Tahun ke Depan
ILUSTRASI. Kenaikan suhu global diperkirakan akan melampaui ambang batas penting 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun ke depan.? (dok./https://unsplash.com/taro ohtani)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kenaikan suhu global diperkirakan akan melampaui ambang batas penting 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun ke depan.

Badan lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca yang semakin ekstrem sekaligus meningkatkan tekanan terhadap ekosistem, gletser, serta kota-kota pesisir yang berada di dataran rendah.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyatakan bahwa upaya untuk mengembalikan kenaikan suhu global ke bawah 1,5 derajat Celsius masih memungkinkan, tetapi tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi.

Dalam laporan terbarunya, UNEP menegaskan bahwa untuk mencapai target tersebut diperlukan pemangkasan emisi secara cepat dan signifikan, disertai langkah-langkah untuk menghilangkan karbon dioksida yang sudah terlanjur berada di atmosfer.

Suhu Global Terancam Melewati Batas 1,5°C

Mengacu pada Kesepakatan Paris 2015, negara-negara di dunia berkomitmen menjaga kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 derajat Celsius dan berupaya membatasinya hingga 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

Baca Juga: Hadapi Persaingan dengan China, Honda Minta Pemasok Pangkas Biaya US$ 9 Miliar

Batas tersebut ditetapkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, termasuk peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.

Namun, UNEP menyebut kondisi overshoot, yakni periode ketika kenaikan suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius, kini sangat mungkin terjadi.

Karena itu, negara-negara perlu memusatkan perhatian bukan hanya pada upaya mencegah suhu menembus ambang tersebut, tetapi juga membatasi durasi suhu global berada di atas 1,5 derajat Celsius.

"Setiap tahun penundaan dan setiap pecahan derajat di atas 1,5 derajat Celsius meningkatkan risiko dan membuat pemulihan semakin sulit, dengan kemungkinan terjadinya kerugian yang tidak dapat dipulihkan bahkan jika suhu kemudian menurun," kata UNEP dalam laporannya.

Pemanasan Global Bisa Capai 2,6°C pada 2100

UNEP memperkirakan skenario paling optimistis dapat membuat kenaikan suhu global mencapai puncak sekitar 1,8 derajat Celsius di atas tingkat praindustri apabila seluruh komitmen nasional yang telah disampaikan negara-negara benar-benar dilaksanakan.

Namun, UNEP menilai kenaikan suhu kemungkinan dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi apabila implementasi kebijakan iklim tidak sesuai dengan komitmen yang telah dibuat.

"Di bawah kebijakan saat ini, proyeksi median pemanasan global mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada 2100," ujar UNEP.

Proyeksi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara target pengendalian perubahan iklim yang telah disepakati secara internasional dengan kebijakan yang saat ini diterapkan oleh berbagai negara.

Baca Juga: Xi Jinping Kunjungi Mesir, China Perkuat Pengaruh di Tengah Gejolak Timur Tengah

Penghapusan Karbon Jadi Kunci

Selain memangkas emisi, UNEP menilai upaya menghilangkan karbon dioksida atau carbon dioxide removal (CDR) dari atmosfer akan menjadi salah satu elemen penting untuk mengendalikan kenaikan suhu global.

Salah satu metode yang termasuk dalam CDR adalah penanaman hutan baru yang dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

UNEP menyebut langkah-langkah penghapusan karbon akan menjadi "sangat penting" untuk mengendalikan kenaikan suhu.

Namun, teknologi dan metode penghapusan karbon tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk memangkas emisi yang dihasilkan saat ini secara mendalam.

Dengan demikian, pengurangan emisi tetap menjadi langkah utama dalam upaya membatasi pemanasan global, sementara penghapusan karbon dari atmosfer berperan sebagai pelengkap untuk menangani emisi yang telah terakumulasi.

Peringatan UNEP tersebut menunjukkan bahwa semakin lama negara-negara menunda pengurangan emisi, semakin besar risiko dunia menghadapi dampak perubahan iklim yang sulit atau bahkan tidak mungkin dipulihkan.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×