Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Manajemen Samsung Electronics menyebut, potensi cuan yang bisa diperoleh pemegang saham perusahaan tahun ini dapat mencapai 110 triliun won, sekitar Rp 1.404,91 triliun. Cuan tersebut termasuk dari pembagian dividen tunai sebesar 30 triliun won di kuartal III ini.
Seperti SK Hynix, Samsung mengalami lonjakan pendapatan akibat tingginya permintaan cip yang dipicu oleh tren akal imitasi (AI). Alhasil, perusahaan ini menghadapi tekanan besar untuk memberi return lebih tinggi bagi pemegang saham, mengingat rekor laba yang diraih perusahaan ini.
Pada kuartal dua tahun ini, Samsung melaporkan lonjakan laba divisi cip hingga lebih dari 250 kali lipat menjadi 89 triliun won. Harga sahamnya telah melonjak 300% dalam 12 bulan terakhir, kendati sempat turun dari rekor tertinggi pada Juni, di tengah kekhawatiran belanja terkait AI mungkin akan melambat.
Menurut laporan Reuters, angka 110 triliun won tersebut setara lebih dari lima kali lipat rekor return bagi pemegang saham sebelumnya yang sebesar 20,3 triliun won pada 2020.
Baca Juga: Gandeng Perusahaan AS dan China, Brasil Perkuat Investasi Untuk Ekosistem AI
Samsung Electronics juga melakukan pembelian kembali (buyback) saham senilai 15 triliun won untuk bonus saham karyawan. Menurut pernyataan perusahaan, Jumat (21/8/2026), dewan direksi Samsung akan memutuskan sisa pembayaran pada Januari 2027, dengan mempertimbangkan opsi dividen tunai, pembelian kembali saham, dan pembatalan saham.
Berdasarkan kebijakan pengembalian kepada pemegang saham untuk periode 2024 hingga 2026, Samsung berkomitmen mengalokasikan 50% dari arus kas bebas yang terakumulasi selama periode tiga tahun tersebut bagi para pemegang saham.
Pekan ini, SK Hynix menyatakan akan melakukan buyback saham dan membatalkan saham treasuri senilai 40 triliun won. SK Hynix juga berkomitmen mengalokasikan lebih dari 50% arus kas bebas yang dihasilkan antara tahun 2025 dan 2027 untuk meningkatkan pengembalian bagi pemegang saham.
Samsung dan SK Hynix diperkirakan akan memiliki total kas bersih sebesar US$ 263 miliar pada akhir tahun ini. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat estimasi kas milik Nvidia, perusahaan yang jadi acuan di sektor AI, sebesar US$ 102 miliar.
Total kas bersih dua perusahaan asal negeri ginseng tersebut juga melampaui gabungan kas enam perusahaan teknologi AS lainnya yang termasuk dalam kelompok Magnificent Seven, menurut data LSEG dan perhitungan Reuters.














