Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BRASILIA. Pemerintah Brasil mengalokasikan investasi sekitar 2,3 miliar real atau setara US$444,2 juta untuk memperkuat ekosistem kecerdasan buatan (AI). Investasi ini melibatkan perusahaan teknologi asal China dan Amerika Serikat (AS), mencerminkan upaya Brasil menjaga keseimbangan hubungan dengan dua kekuatan ekonomi tersebut.
Mengutip Reuters (21/8), dari total investasi tersebut, sekitar 1,3 miliar real akan digunakan untuk membangun infrastruktur superkomputer di Rio de Janeiro. Proyek ini dikembangkan bersama Huawei Technologies dan iFlytek dari China.
Pemerintah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menyebut. infrastruktur tersebut akan difokuskan untuk mengembangkan large language model (LLM), baik untuk kebutuhan umum maupun aplikasi di sektor tertentu.
Sementara itu, sekitar 1 miliar real akan dialokasikan melalui tender untuk membangun superkomputer yang ditargetkan masuk dalam jajaran 10 mesin pemrosesan AI paling kuat di dunia.
Superkomputer tersebut akan ditempatkan di negara bagian Rio Grande do Norte di wilayah timur laut Brasil. Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi sumber energi yang mendukung kebutuhan komputasi berkapasitas besar.
Pemerintah Brasil memperkirakan Nvidia, produsen chip asal AS, akan memenangkan tender tersebut. Menteri Sains dan Teknologi Luciana Santos sebelumnya juga menyebut Nvidia sebagai calon pemasok mesin superkomputer tersebut.
Kebijakan ini menunjukkan strategi Brasil untuk tidak terlalu bergantung pada satu negara atau perusahaan dalam pengembangan teknologi AI. Pemerintah Lula juga ingin memperkuat kedaulatan nasional atas data yang menjadi salah satu aset penting dalam ekonomi digital.
"Strateginya bukan bergantung pada satu perusahaan, teknologi atau negara," kata pemerintahan Lula dalam pernyataannya.
Baca Juga: Raksasa Media Sosial Dikepung Ribuan Gugatan
Investasi tersebut akan dibiayai melalui National Fund for Scientific and Technological Development (FNDCT) dan dicairkan secara bertahap. Pemerintah menargetkan superkomputer mulai beroperasi pada akhir 2027, sedangkan kerja sama dengan perusahaan China dijadwalkan dimulai pada Juli 2027.
Langkah Brasil ini juga tidak terlepas dari persaingan geopolitik di sektor teknologi. China merupakan mitra dagang terbesar Brasil, sementara AS masih menjadi sumber investasi asing langsung terbesar bagi negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin tersebut.
Di tengah hubungan dagang yang semakin kompleks, Brasil berupaya mempertahankan ruang gerak dengan menggandeng perusahaan dari kedua negara. Strategi ini sejalan dengan dorongan Lula untuk meningkatkan kemandirian strategis Brasil di bidang teknologi.
Selain proyek superkomputer, pemerintah Brasil juga mengumumkan kerja sama dengan Spanyol untuk mengembangkan semikonduktor berbasis arsitektur open-source RISC-V.
Brasil juga menyiapkan layanan komputasi awan nasional melalui skema kemitraan pemerintah dan swasta. Pemerintah berencana membentuk pusat nasional yang menangani transparansi algoritma dan pengembangan AI yang tepercaya di Federal University of Minas Gerais.
Investasi terbaru tersebut memperlihatkan ambisi Brasil membangun kapasitas AI domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing. Sebelumnya, pemerintah Brasil juga telah menyiapkan rencana investasi AI senilai 23 miliar real untuk periode 2024-2028.
Dengan investasi baru tersebut, Brasil tidak hanya mengejar kemampuan komputasi AI, tetapi juga berupaya membangun infrastruktur, semikonduktor, cloud computing, hingga tata kelola AI dalam negeri.
Baca Juga: Pasar Saham Global Tertekan, Yield Obligasi dan Harga Minyak Jadi Sorotan














