CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Pemerintah China perintahkan Didi dihapus dari toko aplikasi


Senin, 05 Juli 2021 / 21:15 WIB
Pemerintah China perintahkan Didi dihapus dari toko aplikasi


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tekanan China terhadap perusahaan teknologi di China semakin besar. Setelah Alibaba, kini giliran Didi Cuxing yang diincar pemerintah China terkait pelanggaran antimonopoli dan keamanan data. 

Regulator China telah memerintahkan layanan ride hailing atau kendaraan online dihapus dari toko aplikasi di negara itu setelah ditemukan melakukan pelanggaran mengumpulkan data pribadi secara ilegal. 

Pengawas Cyber atau Cyberspace Administration of China (CAC) telah meminta Didi membuat perubahan untuk mematuhi aturan perlindungan data China empat hari pasca perusahaan itu mulai listing di New York Stock Exchange dengan menghimpun dana US$ 4,4 miliar. Namun, regulator ini tidak merinci sifat pelanggaran yang dilakukan Didi. 

Baca Juga: Nicolas Maduro: Sistem COVAX telah mengecewakan Venezuela

Menanggapi itu, Didi mengatakan telah berhenti mendaftarkan pengguna baru dan akan menghapus aplikasinya dari apps store. Perusahaan ini akan membuat perubahan untuk mematuhi aturan dan melindungi hak pengguna.

Aplikasi Didi masih berfungsi di China untuk orang-orang yang sudah mengunduhnya. Menawarkan rata-rata lebih dari 20 juta perjalanan di Cina setiap hari. Direktur Redex Research Kirk Boodry mengatakan langkah CAC tampak agresif. "Ini menunjukkan prosesnya bisa memakan waktu cukup lama, tetapi mereka memiliki basis terpasang yang besar sehingga dampak jangka pendek kemungkinan akan diredam untuk saat ini," katanya dikutip Reuters, Senin (5/7).

Perusahaan yang didirikan Will Cheng pada tahun 2012 ini menyebut penghapusan aplikasi dari toko aplikasi China bisa berdampak pada penurunan pendapatan. Didi saat ini beroperasi di 16 negara di dunia namun memiliki posisi yang dominasi di pasar ride-hailing China. "Penghapusan aplikasi diperkirakan dapat berdampak buruk pada pendapatannya di China,” kata Didi  dalam pernyataan resminya.

Dalam prospektus IPO pada Juni, Didi melaporkan pendapatan sekitar 42,2 miliar yuan atau US$ 6,5 miliar kuartal I 2021 dimana 39,2 miliar yuan berasal dari divisi mobilitas China sementara sekitar 800 juta yuan berasal dari bisnis internasionalnya. 

Baca Juga: China luncurkan kapal perusak Kaifeng dalam perayaan 100 tahun Partai Komunis

Tindakan terhadap Didi ini terjadi di tengah tekanan regulasi yang meluas pada perusahaan teknologi domestik yang difokuskan pada perilaku antipersaingan dan keamanan data. Hal itu dimulai dengan pembatalan IPO Ant Group senilai US$ 37 miliar akhir tahun lalu.

"Baik pembatalan IPO Ant dan tindakan terhadap Didi ini menunjukkan bahwa IPO bisa sangat berbahaya di China, menyoroti skala dan operasi seseorang yang mengundang pengawasan regulasi," kata Martin Chorzempa, rekan senior di Peterson Institute for International Economics.

Selanjutnya: Menanti data China dan Australia, pergerakan Bursa Asia bervariasi pada Senin (5/7)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×