kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.896   -23,00   -0,14%
  • IDX 7.719   141,64   1,87%
  • KOMPAS100 1.079   20,79   1,96%
  • LQ45 787   14,12   1,83%
  • ISSI 273   5,40   2,02%
  • IDX30 419   8,63   2,11%
  • IDXHIDIV20 513   10,20   2,03%
  • IDX80 121   2,16   1,81%
  • IDXV30 139   2,47   1,81%
  • IDXQ30 135   2,70   2,04%

Pemimpin Tertinggi Iran Tewas: Perang Meluas, Apa Skenario Berikutnya?


Rabu, 04 Maret 2026 / 04:18 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Tewas: Perang Meluas, Apa Skenario Berikutnya?


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pasukan Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah target di Iran pada Selasa. Serangan ini memicu aksi balasan dari Iran di kawasan Teluk dan memperluas konflik hingga ke Lebanon.

Perang yang telah berlangsung empat hari tersebut mengguncang pasar global dan mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.

Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah menghantam berbagai target angkatan laut dan udara Iran. Ia bahkan menyebut hampir semua sasaran utama telah berhasil dilumpuhkan.

Trump juga membela keputusan serangan tersebut. Ia mengaku memerintahkan operasi militer karena merasa Iran akan melakukan serangan setelah negosiasi terkait program nuklir mereka menemui jalan buntu.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Arab Saudi, setelah sebelumnya juga menghantam misi diplomatik AS di Kuwait.

Pemerintah AS kemudian menutup kedua kedutaan tersebut, termasuk kedutaan di Lebanon, serta memerintahkan staf non-esensial dan keluarga diplomat untuk meninggalkan sebagian besar wilayah Timur Tengah.

Asap juga terlihat membumbung di dekat konsulat AS di Dubai. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan serangan tersebut menghantam area parkir, namun seluruh staf diplomatik dipastikan selamat.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Asia–Eropa Meroket Tinggi Usai Penutupan Bandara di Timur Tengah

Sumber yang mengetahui rencana perang Israel mengatakan kepada Reuters bahwa operasi militer ini awalnya dirancang berlangsung selama dua pekan. Namun daftar target disebut berhasil diselesaikan lebih cepat dari perkiraan.

Serangan awal bahkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pertama pada Sabtu.

Trump sebelumnya juga menyebut operasi militer AS diperkirakan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Saat ditanya siapa yang bisa memimpin Iran setelah perang, Trump menjawab singkat: sebagian besar kandidat yang dipertimbangkan sudah tewas.

Teheran Diguncang Ledakan Berulang

Ibu kota Iran, Tehran, diguncang ledakan berulang sepanjang hari. Israel dilaporkan menyerang kantor penyiaran negara IRIB serta kawasan sekitar Bandara Mehrabad.

Militer Israel juga menyatakan telah menyerang fasilitas pengembangan nuklir bawah tanah Minzadehei di Teheran.

Di kota Qom, bangunan yang menjadi markas Majelis Ahli (lembaga yang bertugas memilih pemimpin tertinggi Iran) dilaporkan hancur akibat serangan udara.

Belum diketahui pasti jumlah korban dari serangan tersebut, tetapi Trump mengatakan sejumlah pejabat senior Iran tewas pada Selasa.

Di tengah situasi mencekam, banyak warga Iran meninggalkan kota-kota besar sehingga Teheran kini nyaris seperti kota kosong.

Seorang pegawai bank bernama Bijan mengatakan ia dan istrinya harus bersembunyi di ruang bawah tanah setiap malam.

“Berapa lama ini akan berlangsung? Di mana tempat perlindungan? Di mana pemerintah?” ujarnya kepada Reuters melalui telepon dari Teheran.

Seorang warga lainnya, Firuzeh Seraj, mengaku takut membawa putrinya yang berusia 10 tahun untuk menjalani perawatan dialisis setelah sebuah rumah sakit di ibu kota ikut terkena serangan.

“Dunia, apakah kalian melihat ini? Mereka membunuh kami. Dengarkan suara kami,” katanya sambil menangis.

Baca Juga: Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)

Pasar Global Bergetar, Harga Energi Melonjak

Konflik yang meluas di Timur Tengah membuat pasar saham global jatuh. Gangguan terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut memicu kekhawatiran inflasi kembali melonjak.

Harga minyak mentah dunia naik sekitar 5%, sementara harga gas alam di Eropa melonjak hingga 40%.

Di Amerika Serikat, harga bensin ritel rata-rata mencapai US$ 3,11 per galon, menurut data American Automobile Association.

Bursa saham Wall Street juga melemah pada perdagangan tengah hari, mengikuti penurunan indeks saham di Eropa dan Asia yang masing-masing turun lebih dari 3%.

Iran menyebut perang ini sebagai serangan yang tidak diprovokasi.

Seorang penasihat Islamic Revolutionary Guard Corps, Ebrahim Jabari, mengatakan Iran akan menyerang pusat ekonomi di kawasan jika fasilitas utama mereka diserang.

Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Selain itu, Iran memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis tempat sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan tersebut.

Pengiriman Energi Dunia Terganggu

Negara eksportir LNG utama, Qatar, menghentikan produksi sementara. Banyak kapal tanker memilih berhenti berlayar di Teluk daripada melintasi Selat Hormuz yang berisiko tinggi.

Biaya menyewa kapal tanker untuk mengirim minyak dari Timur Tengah ke Asia kini melonjak hampir empat kali lipat menjadi lebih dari US$ 400.000 per hari.

Trump mengatakan pemerintah AS akan memberikan perlindungan asuransi bagi kapal tanker di kawasan tersebut dan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal melalui Selat Hormuz jika diperlukan.

Baca Juga: Pasokan Minyak Ketat, Kilang Minyak China ZPC Pangkas Produksi

Transportasi udara global juga ikut terganggu. Banyak pusat penerbangan utama di Timur Tengah yang biasanya menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika kini ditutup.

Di Lebanon, kelompok sekutu Iran Hezbollah menembakkan roket ke Israel. Israel kemudian membalas dengan serangan udara serta memperkuat posisi pasukan darat di wilayah selatan.

Asap hitam tebal menyelimuti Beirut, sementara suara ledakan terus terdengar.

Pihak berwenang menyebut puluhan orang tewas dalam serangan tersebut.

Iran menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan telah mencapai 787 orang.

Di antara korban tersebut terdapat 165 siswi yang tewas pada hari pertama perang ketika sekolah mereka dibom.

Media pemerintah Iran menayangkan prosesi pemakaman massal di kota Minab, ketika peti-peti kecil yang dibungkus bendera Iran diarak oleh ratusan warga menuju lokasi pemakaman.

Kantor HAM PBB menyebut serangan terhadap sekolah tersebut sebagai peristiwa yang “sangat mengerikan” dan meminta penyelidikan internasional dilakukan.

Tujuan Perang Masih Diperdebatkan

Pejabat Israel secara terbuka menyatakan ingin menggulingkan pemerintahan Iran.

Namun pemerintah AS mengatakan tujuan perang adalah menghancurkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri.

Dalam pertemuan tertutup pada Selasa, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar tidak menetapkan batas waktu operasi militer. Ia mengakui pemerintah Iran mungkin masih bertahan setelah perang, tetapi yakin pada akhirnya akan runtuh.

Baik Trump maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyerukan rakyat Iran untuk menumbangkan kepemimpinan ulama yang telah berkuasa selama puluhan tahun.

Namun Trump memperingatkan warga Iran untuk tidak melakukan protes sekarang.

“Jika kalian ingin turun ke jalan, jangan sekarang. Situasinya sangat berbahaya,” katanya.

Tonton: Terungkap! CIA-Mossad Dalang Dibalik Tewasnya Ayatollah Khamenei

Di Israel, sirene serangan udara terus berbunyi setelah rudal Iran menewaskan sedikitnya 10 orang sejak Sabtu.

Jutaan warga Israel terpaksa berlindung di bunker ketika sistem pertahanan udara mencegat rudal yang datang.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×