Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penjualan ritel AS turun pada bulan Juli untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan seiring memudarnya dorongan dari pengembalian pajak dalam jumlah besar. Ini mengindikasikan perlambatan nyata pada belanja konsumen di awal kuartal ketiga.
Mengutip Reuters, Jumat (14/8/2026), penurunan penjualan ritel yang dilaporkan oleh Departemen Perdagangan ini juga merupakan dampak dari langkah Amazon memajukan acara Prime Day dari bulan Juli ke Juni, ditambah dengan promosi tandingan dari peritel lain. Penurunan harga bensin juga turut menekan pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar.
Laporan ini melengkapi data hilangnya lapangan kerja yang tak terduga bulan lalu serta angka inflasi yang rendah, sehingga memperkuat ekspektasi pasar keuangan bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan September, kecuali jika terjadi lonjakan tak terduga pada data harga dan ketenagakerjaan bulan Agustus.
Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Pasca AS Ancam Blokade Tak Terbatas Iran
"Hal ini mengarah pada perlambatan signifikan dalam pertumbuhan belanja konsumen riil pada kuartal ketiga," ujar Sal Guatieri, ekonom senior di BMO Capital Markets. "Kondisi ini, ditambah dengan laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dan inflasi inti CPI yang rendah, meningkatkan kemungkinan FOMC untuk kembali bersikap sabar pada bulan September."
Penjualan ritel turun 0,6% bulan lalu setelah mencatat kenaikan 0,2% (tanpa revisi) pada bulan Juni, menurut Biro Sensus Departemen Perdagangan. Penurunan ini merupakan yang pertama sejak Oktober lalu dan yang terbesar dalam 14 bulan terakhir. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan penjualan ritel—yang sebagian besar mencakup barang dan belum disesuaikan dengan inflasi—akan naik tipis sebesar 0,1%.
Estimasi berkisar antara penurunan 0,5% hingga kenaikan 0,7%. Secara tahunan (year-on-year), penjualan ritel meningkat 5,0% pada bulan Juli. Para ekonom menyatakan bahwa konsumen semakin peka terhadap kenaikan harga serta menjadi lebih selektif dan cermat dalam melakukan pembelian.
Penurunan selama bulan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan penjualan sebesar 2,2% pada pengecer non-toko. Pendapatan dealer kendaraan bermotor dan suku cadang merosot 1,8%. Penjualan di toko elektronik dan peralatan rumah tangga turun 0,5%, sementara pendapatan di SPBU turun 0,9%, mencerminkan harga bensin yang lebih rendah.
Namun, penjualan di toko pakaian kembali naik 1,9%, kemungkinan didorong oleh aktivitas belanja kebutuhan sekolah.
Konsumen Masih Gemar Makan di Luar
Pendapatan di sektor layanan makanan dan tempat minum—satu-satunya komponen jasa dalam laporan ini—meningkat 0,5% setelah sebelumnya naik 0,4% pada bulan Juni.
Kategori ini dianggap sebagai indikator utama kondisi keuangan rumah tangga. Peningkatan juga terjadi pada penjualan di toko furnitur, bahan bangunan, peralatan dan perlengkapan taman, serta pada pengecer aneka barang dan gerai kesehatan serta perawatan pribadi.
Penjualan di toko perlengkapan olahraga, hobi, alat musik, dan buku tidak mengalami perubahan. Pengembalian pajak yang cukup besar tahun ini membantu meredam dampak kenaikan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah, sehingga menghasilkan belanja konsumen yang kuat pada kuartal kedua.
Namun, menurut para ekonom, dana pengembalian pajak tersebut kini telah habis. Meski demikian, dengan adanya lonjakan pasar saham yang meningkatkan kekayaan rumah tangga, mereka tidak memperkirakan akan terjadi penurunan drastis dalam belanja konsumen.
Baca Juga: Tiga Negara Asia Tengah Laporkan Pemadaman Listrik Serentak
Indeks S&P 500 telah naik 14% sepanjang tahun ini setelah melonjak 16,4% pada tahun 2025. Ekonom dari PNC Financial menyatakan bahwa analisis data perbankan menunjukkan rumah tangga pada bulan Juli tampak lebih peka terhadap kenaikan harga bensin dibandingkan awal tahun ini; hal tersebut menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi aktivitas belanja di paruh kedua tahun ini.
Namun, mereka menyebut "sulit membayangkan skenario di mana belanja benar-benar merosot tajam," mengingat adanya peningkatan kekayaan rumah tangga. Mereka juga mencatat adanya "bukti yang semakin kuat bahwa rumah tangga berpenghasilan tinggi dan lanjut usia memanfaatkan keuntungan dari peningkatan kekayaan mereka untuk menopang belanja."
Penjualan ritel—di luar kategori mobil, bensin, bahan bangunan, dan layanan makanan—turun 0,4% bulan lalu, setelah sebelumnya mencatat kenaikan 0,4% pada bulan Juni (angka yang kemudian direvisi sedikit ke bawah). Para ekonom memperkirakan bahwa apa yang disebut sebagai penjualan ritel inti—yang paling erat kaitannya dengan komponen belanja konsumen dalam produk domestik bruto—akan meningkat sebesar 0,3%, menyusul kenaikan 0,5% yang tercatat pada bulan Juni.
Belanja konsumen, yang mencakup lebih dari dua pertiga perekonomian, meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,2% pada kuartal kedua. Perekonomian tumbuh pada laju 1,5% pada kuartal lalu.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
