kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

Indeks Dolar AS Naik Mendekati Level Tertinggi 10 Bulan, Ini Penyebabnya


Senin, 30 Maret 2026 / 15:39 WIB
Indeks Dolar AS Naik Mendekati Level Tertinggi 10 Bulan, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level tertinggi 10 bulan pada Senin (30/3/2026) dan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025  (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level tertinggi 10 bulan pada Senin (30/3/2026) dan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025 lalu karena sinyal yang beragam dari Iran dan AS meredupkan harapan akan kemungkinan berakhirnya konflik Timur Tengah dengan cepat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, para pemimpin baru Iran telah "sangat masuk akal", seiring dengan kedatangan lebih banyak pasukan AS di wilayah tersebut. Sementara Teheran mengingatkan bahwa mereka tidak akan menerima penghinaan.

Senin (30/3/2026), indeks dolar AS hampir tidak berubah di angka 100,19. Indeks dolar sempat mencapai 100,54 pada pertengahan Maret 2026, level tertinggi sejak Mei 2025, dan berada di jalur untuk kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025.

Baca Juga: Perang Picu Kekhawatiran Stagflasi, Harga Obligasi Global Turun Tajam

Sementara itu yen Jepang berfluktuasi di dekat level kunci 160 per dolar AS, setelah mencapai titik terlemahnya sejak Juli 2024 ketika Tokyo terakhir kali melakukan intervensi untuk menopang mata uang tersebut. Sementara euro mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa.

Pasar telah terguncang bulan ini setelah konflik Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sebuah titik rawan bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global, mendorong harga minyak mentah Brent menuju kenaikan bulanan tertinggi sepanjang masa.

Dolar AS telah diuntungkan dari statusnya sebagai aset aman sejak awal Maret, dengan harga minyak yang lebih tinggi merugikan Jepang dan zona euro tetapi melindungi Amerika Serikat sebagai pengekspor minyak mentah bersih.

Barclays menyebutkan sentimen dolar AS mendekati level "bullish maksimal" pada indeksnya, menurut indikator tradisional termasuk proksi pertumbuhan, perbedaan suku bunga, dan indikator beta.

"Strateginya adalah menjual saat terjadi kenaikan pada aset berisiko dan mempertahankan lindung nilai volatilitas," kata Chris Weston, kepala riset di Pepperstone seperti dikutip Reuters.

Pasar akan mengamati dengan cermat data pekerjaan AS di akhir pekan ini, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.

"Di tengah badai, minggu ini menghadirkan serangkaian data pasar tenaga kerja AS yang krusial. Mengingat laporan pekerjaan Februari yang lemah dan konflik selama sebulan di Timur Tengah, kami ingin mengetahui bagaimana situasi pekerjaan telah merespons," kata Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY.

Sementara itu euro berada di sekitar US$ 1,15, menuju penurunan 2,5% pada bulan Maret 2026, penurunan bulanan terlemahnya sejak Juli 2025.

"Dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan kembalinya harga minyak ke tren kenaikan dan dolar menguat di semua lini, euro/dolar akan jatuh jauh lebih tajam jika pasar tidak mengantisipasi ECB yang begitu aktif," kata Thu Lan Nguyen, kepala riset valuta asing dan komoditas di Commerzbank.

Baca Juga: Harga Emas Balik Menguat 0,8% Selepas Tengah Hari Ini (30/3), Dolar AS melemah

Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga ECB pada akhir tahun dari peluang penurunan lebih dari 50% sebelum konflik dimulai.

Adapun yen Jepang menguat 0,40% menjadi 159,65 per dolar setelah mencapai 160,47 pada sesi Asia, Senin (30/3/2026), level terlemahnya sejak Juli 2024.

Pembalikan ini terjadi karena Jepang meningkatkan intervensi yen dan memberi sinyal bahwa penurunan lebih lanjut pada mata uang tersebut dapat membenarkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Yen telah turun lebih dari 2% pada bulan Maret karena kekhawatiran harga minyak yang lebih tinggi.

Mata uang lainnya, dolar Australia melemah 0,3% menjadi US$ 0,6851, dan diperkirakan akan mengalami penurunan bulanan sebesar 3,8%, penurunan paling tajam sejak Desember 2024. Dolar Selandia Baru melemah 0,4% menjadi US$ 0,57275, turun 4,4% pada bulan Maret.

Baca Juga: Peso Filipina Capai Rekor Terendah Sepanjang Masa, Rupiah Hampir Menyusul!




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×