kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Penjualan Tesla Kuartal II 2026 Cetak Rekor, Eropa Jadi Penopang Kebangkitan


Jumat, 03 Juli 2026 / 17:04 WIB
Penjualan Tesla Kuartal II 2026 Cetak Rekor, Eropa Jadi Penopang Kebangkitan
ILUSTRASI. Tesla catat rekor pengiriman kendaraan Q2 2026, melebihi 480 ribu unit. Pasar Eropa disebut jadi penyelamat penjualan global. (CFOTO/Sipa USA via Reuters Conne/Costfoto)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tesla berhasil membukukan rekor pengiriman kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada kuartal II-2026. Capaian tersebut melampaui ekspektasi pasar dan memunculkan optimisme bahwa produsen mobil listrik milik Elon Musk itu mampu mengakhiri tren penurunan penjualan tahunan yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Sepanjang periode April hingga Juni 2026, Tesla mengirimkan sebanyak 480.126 unit kendaraan, naik sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut sekaligus menjadi rekor pengiriman kuartal kedua sepanjang sejarah perusahaan dan jauh melampaui rata-rata proyeksi analis yang memperkirakan pengiriman hanya mencapai sekitar 402.776 unit.

Sementara itu, produksi Tesla selama kuartal II mencapai 451.758 unit, sehingga jumlah kendaraan yang dikirim melebihi produksi lebih dari 28.000 unit. Kondisi ini menunjukkan perusahaan berhasil mengurangi persediaan kendaraan yang sempat menumpuk pada kuartal pertama.

Baca Juga: Taylor Swift dan Travis Kelce Dikabarkan Menikah, Siapkan Perayaan Mewah di New York

Kinerja positif bisnis otomotif Tesla menjadi penopang penting di tengah fokus CEO Elon Musk yang kini semakin besar terhadap pengembangan teknologi kendaraan otonom, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), robot humanoid Optimus, hingga robotaxi. Seluruh proyek tersebut menjadi faktor utama yang menopang valuasi Tesla yang kini mencapai sekitar US$ 1,6 triliun.

Meski demikian, saham Tesla justru melemah sekitar 7% pada perdagangan Kamis (3/7/2026), setelah sebelumnya melonjak sekitar 12% sepanjang pekan. Pelaku pasar menilai optimisme terhadap kinerja kuartalan perusahaan telah lebih dahulu tercermin dalam kenaikan harga saham.

Pemulihan Eropa Jadi Motor Pertumbuhan

Peningkatan penjualan Tesla terutama ditopang oleh pemulihan pasar Eropa. Kenaikan harga bahan bakar, insentif kendaraan listrik dari pemerintah, percepatan elektrifikasi armada perusahaan, hingga mulai meredanya sentimen negatif terhadap Elon Musk menjadi faktor yang mendorong permintaan.

Analis Ekuitas Senior Morningstar, Seth Goldstein, menilai Eropa kini menjadi sumber pertumbuhan utama Tesla.

"Saya pikir pertumbuhan yang sangat besar di Eropa menjadi pendorong utama Tesla saat ini. Penjualan di Amerika Serikat tampaknya masih menurun, meskipun penurunannya lebih kecil dibandingkan pelemahan pasar kendaraan listrik secara keseluruhan di AS. Sementara itu, China masih mencatat pertumbuhan meski relatif kecil," ujar Goldstein.

Sebelumnya Goldstein memperkirakan Tesla akan kembali mencatat penurunan penjualan tahunan untuk tahun ketiga berturut-turut. Namun setelah melihat realisasi kuartal kedua, pandangannya berubah.

"Pada titik ini saya rasa akan sangat sulit melihat Tesla mengalami penurunan penjualan sepanjang tahun," katanya.

Tesla sendiri telah memperkenalkan varian lebih murah dari sedan Model 3 dan SUV Model Y, disertai berbagai program insentif pembelian serta skema pembiayaan yang lebih menarik.

Wakil Presiden AutoForecast Solutions, Sam Fiorani, menilai strategi harga tersebut berhasil mengurangi pengaruh sentimen negatif terhadap Elon Musk.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Menuju Kenaikan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan, Ini Pemicunya

"Strategi harga dan produk mereka membantu calon pembeli mengesampingkan berbagai pandangan pribadi terhadap Elon Musk," tambahnya.

Pasar Amerika Serikat Masih Tertekan

Meski pasar Eropa pulih, permintaan di Amerika Serikat masih menghadapi tantangan setelah pemerintah menghapus insentif pajak kendaraan listrik pada akhir tahun lalu.

Fiorani mengatakan prospek pasar AS tetap menjanjikan meski pertumbuhannya diperkirakan terbatas.

"Kami tetap optimistis secara hati-hati bahwa masih ada peluang pertumbuhan tahun ini," terangnya.

Sejumlah analis menilai penghapusan subsidi pembelian kendaraan listrik masih menjadi faktor yang membebani penjualan Tesla di Amerika Serikat.

Analis Senior Freedom Broker, Dmitriy Pozdnyakov, memperkirakan penjualan Tesla di pasar domestiknya masih melemah.

"Kami meyakini penjualan Tesla di Amerika Serikat kemungkinan turun setidaknya 10% selama kuartal kedua," ungkapnya.

Sebaliknya, pasar China justru menunjukkan perbaikan berkat peluncuran Model Y versi terbaru, meskipun persaingan dengan produsen lokal seperti BYD semakin ketat.

Tesla juga meluncurkan varian enam penumpang Model Y L di Amerika Serikat. Model dengan tiga baris kursi dan sasis lebih panjang tersebut sebelumnya telah membantu meningkatkan penjualan di China dan diharapkan mampu mendongkrak permintaan di pasar AS.

Fokus Tesla Bergeser ke AI dan Robotaxi

Di luar bisnis otomotif, Tesla semakin agresif mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan.

Perusahaan berencana mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) lebih dari US$ 25 miliar pada 2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan sekitar US$ 8,5 miliar pada tahun sebelumnya.

Investasi tersebut akan digunakan untuk memperluas infrastruktur AI, meningkatkan kapasitas produksi baterai, membangun fasilitas produksi Cybercab, serta mempercepat pengembangan robot humanoid Optimus.

Baca Juga: Swiss Melaju ke 16 Besar Piala Dunia, Riyad Mahrez Akhiri Karier di Timnas Aljazair

Tesla juga terus memperluas implementasi perangkat lunak Full Self-Driving (FSD) di Eropa, meski saat ini baru tersedia di sejumlah negara. Para analis memperkirakan cakupan layanan tersebut akan semakin luas dalam beberapa bulan mendatang dan berpotensi mendorong peningkatan permintaan kendaraan Tesla.

Selain itu, Tesla mulai memperluas layanan robotaxi setelah meluncurkan layanan komersial terbatas di Austin pada Juni lalu. Elon Musk sebelumnya menyatakan perusahaan akan mempercepat ekspansi layanan tersebut sepanjang 2026.

Kepala Investasi Ekuitas Aptus Capital Advisors sekaligus pemegang saham Tesla, David Wagner, mengatakan pasar masih menunggu realisasi ambisi besar Elon Musk.

"Harga saham Tesla masih bergerak layaknya roller coaster. Investor memang antusias melihat pemulihan perusahaan, tetapi dana investasi besar masih menunggu apakah Tesla benar-benar mampu mewujudkan janji Elon Musk terkait AI, robotaxi, dan teknologi kendaraan tanpa pengemudi," katanya.

Produksi Cybercab, kendaraan otonom Tesla yang tidak dilengkapi setir maupun pedal, diperkirakan mulai meningkat pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi lain, pesaing Tesla, Rivian, juga mengumumkan kenaikan proyeksi pengiriman kendaraan sepanjang tahun setelah berhasil melampaui estimasi pasar pada kuartal II-2026.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×