kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Iran Tegaskan Selat Hormuz di Bawah Kendali Teheran, Harga BBM AS Melonjak


Sabtu, 15 Agustus 2026 / 08:49 WIB
Iran Tegaskan Selat Hormuz di Bawah Kendali Teheran, Harga BBM AS Melonjak
ILUSTRASI. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran di tengah berlanjutnya konflik dengan Amerika Serikat  (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - KAIRO/GARDEN CITY. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran di tengah berlanjutnya konflik dengan Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump meminta masyarakat Amerika bersiap menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama perang dengan Iran berlangsung.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa posisi Iran dan AS masih berjarak jauh. Upaya menuju pembicaraan damai belum kembali berjalan, sementara lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz juga praktis terhenti.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi melalui unggahan di platform X pada Sabtu (15/8/2026) mengatakan Selat Hormuz hanya akan dibuka dan ditutup atas keputusan Iran.

"Selat ini akan dibuka dan ditutup hanya atas perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan terus larut dalam khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," ujar Gharibabadi.

Ia menegaskan bahwa kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut tidak dapat diambil hanya melalui pernyataan atau pengerahan kekuatan militer AS.

"Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan atau kapal induk, melalui pemberian perintah atau dengan menyampaikan pidato kampanye," katanya.

Baca Juga: Anthropic Bidik IPO Raksasa, Proyeksi Pendapatan 2028 Tembus US$200 Miliar

Sebelum perang antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar satu dari setiap lima barel minyak yang diperdagangkan secara global melewati Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik paling strategis bagi perdagangan energi dunia.

Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok

Dampak konflik terlihat jelas pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan analisis perusahaan pelacakan kapal Kpler, hanya dua kapal yang melewati selat tersebut pada Jumat (14/8/2026).

Kedua kapal itu terdiri dari kapal pengangkut biji-bijian yang memasuki perairan Iran dan kapal curah kering kosong yang bergerak ke arah sebaliknya. Data Kpler juga menunjukkan sebuah kapal tanker pengangkut produk gas minyak cair (LPG) dalam kondisi kosong sedang memasuki kawasan Teluk melalui selat tersebut.

Tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz pada hari itu.

Sebagian kapal kemungkinan masih dapat melewati selat tanpa terdeteksi karena mematikan transponder. Namun, tingkat lalu lintas tersebut masih sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum perang, ketika lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Kapal yang tetap berani melintasi jalur tersebut tanpa izin Iran menghadapi risiko serangan rudal maupun drone.

Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dari Uni Emirat Arab menyatakan dua kapalnya diserang ketika melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam. Pada Jumat, kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM, juga melaporkan kapal lain menjadi sasaran serangan.

Iran menyebut pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai blokade. AS juga menggunakan istilah yang sama untuk ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan.

Trump Minta Warga AS Terima Harga BBM Lebih Mahal

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump meminta masyarakat AS menerima kenaikan harga bensin sebagai konsekuensi dari perang dengan Iran.

Dalam sebuah kampanye politik di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump mengatakan masyarakat harus bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk bensin demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

"Membayar sedikit lebih mahal untuk bensin sepadan dengan biayanya untuk memastikan sebuah negara yang sangat jahat tidak memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Baca Juga: Kanada-AS Masih Jauh dari Kesepakatan Dagang, Tarif 50% Mengintai

Namun, kenaikan harga bahan bakar berpotensi menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Trump. Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$4,08 per galon pada Jumat.

Harga tersebut melonjak sekitar 29% dibandingkan US$3,16 per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini juga berlawanan dengan janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya energi bagi masyarakat Amerika. Partai Demokrat pun berupaya menjadikan dampak ekonomi perang Iran sebagai salah satu isu dalam pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang.

Harga Minyak Dunia Kembali Menguat

Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak mentah naik sekitar US$1 per barel pada Jumat.

Harga minyak Brent sebagai acuan global dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 6% dan 5,4%.

Pergerakan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global apabila Selat Hormuz tetap tertutup atau aktivitas pelayaran melalui jalur tersebut terus dibatasi.

Bagi pasar energi, risiko tersebut sangat signifikan mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.

Negosiasi AS-Iran Belum Dilanjutkan

Di sisi diplomatik, belum terdapat tanda-tanda bahwa AS dan Iran akan segera kembali ke meja perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum ada keputusan untuk melanjutkan kembali negosiasi dengan AS. Pernyataan tersebut dilaporkan Iranian Student News Agency (ISNA) pada Sabtu.

Qatar dan Pakistan, yang berperan sebagai mediator, disebut tetap melakukan komunikasi dengan Iran dan bertukar pesan. Namun, komunikasi tersebut belum dapat disebut sebagai negosiasi langsung antara Iran dan AS.

Kesepakatan sementara yang direncanakan pada Juni untuk mengakhiri perang juga disebut telah gagal, sehingga prospek penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih belum jelas.

Dampak Ekonomi Mulai Terasa di Iran

Tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang menjadi konsumen energi. Iran juga mulai menghadapi dampak ekonomi akibat konflik dan pembatasan ekspor minyak.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, menyebut inflasi tinggi di dalam negeri berkaitan dengan blokade AS terhadap pelabuhan Iran serta sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Baca Juga: Larangan Medsos untuk Anak di Prancis Terancam Gagal, Ini Sebabnya

Trump dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan akan meningkatkan tekanan finansial terhadap Iran. Bessent mengatakan kepada program "Rob Schmitt Tonight" di Newsmax pada Kamis bahwa AS akan mengumumkan langkah-langkah tambahan terhadap Iran pada pekan berikutnya.

Konflik Meluas ke Kawasan Timur Tengah

Ketegangan juga kembali meningkat setelah serangkaian serangan terbaru kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke wilayah Timur Tengah lainnya.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan kelompok Houthi meluncurkan enam rudal balistik ke pelabuhan Laut Merah Mocha pada Jumat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan empat warga sipil.

Secara terpisah, kantor berita SABA yang dikelola Houthi mengutip sumber militer yang mengatakan kelompok tersebut menargetkan fasilitas Aramco di kota Najran, Arab Saudi, menggunakan drone.

Dengan belum adanya tanda-tanda dimulainya kembali perundingan AS-Iran dan masih terbatasnya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, pasar energi global masih menghadapi risiko gangguan pasokan. Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak dan bahan bakar tetap tinggi dalam waktu yang lebih panjang.




TERBARU

[X]
×