Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Anthropic tengah mempersiapkan penawaran umum perdana saham (IPO) yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Menjelang aksi korporasi tersebut, investor Wall Street mulai menggunakan proyeksi pendapatan jangka panjang untuk menentukan valuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) tersebut.
Menurut dua sumber yang mengetahui kondisi keuangan Anthropic, perusahaan memproyeksikan pendapatan pada 2028 berada di kisaran US$190 miliar hingga US$200 miliar. Angka tersebut jauh melampaui tingkat pendapatan tahunan saat ini atau revenue run rate sebesar US$47 miliar yang dipublikasikan Anthropic pada Mei lalu.
Besarnya proyeksi tersebut menunjukkan skala pertumbuhan yang perlu diperhitungkan investor apabila ingin berpartisipasi dalam IPO Anthropic.
Empat sumber mengatakan, bankir dan investor menggunakan metode perbandingan nilai perusahaan terhadap pendapatan (enterprise value-to-revenue multiple) berdasarkan proyeksi pendapatan masa depan.
Penggunaan kelipatan pendapatan merupakan metode yang lazim untuk perusahaan perangkat lunak dengan pertumbuhan tinggi yang belum memiliki profil laba yang matang. Namun, melihat proyeksi hingga dua tahun ke depan dinilai tidak biasa.
Baca Juga: Kanada-AS Masih Jauh dari Kesepakatan Dagang, Tarif 50% Mengintai
Langkah tersebut mencerminkan pesatnya ekspansi bisnis Anthropic sekaligus tantangan dalam menentukan tolok ukur valuasi perusahaan yang masih mengeluarkan biaya besar untuk membangun infrastruktur AI.
Belanja AI Jadi Perhatian Investor
Lonjakan belanja untuk investasi AI dalam beberapa bulan terakhir turut menekan sejumlah saham teknologi populer, termasuk perusahaan yang dipandang memiliki karakteristik bisnis serupa dengan Anthropic.
Ada sejumlah contoh perusahaan dengan pertumbuhan sangat cepat yang menggunakan pendekatan serupa menjelang IPO. Menurut sumber, pendukung Cerebras Systems mencantumkan proyeksi pendapatan 2028 menjelang IPO perusahaan tersebut tahun ini.
Sementara itu, proyeksi SpaceX bahkan diperluas hingga 2029 sebelum perusahaan tersebut melantai di bursa dengan valuasi rekor pada Juni.
Pendekatan tersebut menunjukkan sulitnya menentukan valuasi perusahaan AI ketika margin masih tertekan oleh besarnya pengeluaran untuk kapasitas komputasi, pelatihan model AI, serta perekrutan tenaga kerja.
Investor bertaruh bahwa seiring dengan pertumbuhan Anthropic, pendapatan perusahaan akan meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang diperlukan untuk menopang ekspansi tersebut. Kondisi itu diharapkan dapat mendorong pelebaran margin keuntungan.
Anthropic belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait proyeksi dan proses valuasi tersebut.
Mencari Perusahaan Pembanding
Cloudflare, Palantir Technologies, dan SpaceX menjadi sejumlah perusahaan yang dipertimbangkan sebagai acuan valuasi Anthropic menjelang analyst day, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Baca Juga: Larangan Medsos untuk Anak di Prancis Terancam Gagal, Ini Sebabnya
Perusahaan pembanding yang tercatat di bursa (public-market comparables) menjadi bagian penting dalam proses penentuan valuasi IPO. Kelompok perusahaan tersebut memberikan tolok ukur mengenai bagaimana pasar menilai perusahaan dengan profil pertumbuhan dan model bisnis yang dianggap serupa.
Kelompok pembanding juga dapat membantu menentukan kelipatan pendapatan atau laba yang akan diterapkan terhadap proyeksi keuangan perusahaan.
Berdasarkan data LSEG, Palantir memiliki valuasi sekitar 53 kali proyeksi pendapatan tahun ini, menjadikannya salah satu saham dengan valuasi paling mahal di Wall Street.
Sementara itu, SpaceX dan Cloudflare masing-masing diperdagangkan sekitar 41,6 kali proyeksi pendapatan 2026.
Masing-masing perusahaan memberikan perspektif berbeda terhadap valuasi Anthropic. Palantir menjadi salah satu acuan investor dalam menilai perusahaan dengan pertumbuhan cepat dan eksposur terhadap AI.
Cloudflare menawarkan pembanding sebagai perusahaan perangkat lunak dan infrastruktur dengan pertumbuhan tinggi. Sementara SpaceX memberikan gambaran mengenai perusahaan yang sebagian valuasinya ditentukan oleh ekspektasi terhadap skala bisnis masa depan, bukan hanya kondisi keuangan saat ini.
Investor Mulai Melihat Melampaui Laba Saat Ini
Perusahaan yang telah mapan biasanya lebih banyak dinilai berdasarkan laba atau EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization). Ukuran tersebut memberikan gambaran mengenai keekonomian suatu bisnis.
Namun, EBITDA Anthropic saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi bisnis yang diharapkan investor ketika perusahaan telah mencapai skala yang lebih besar.
Anthropic mengeluarkan dana sangat besar untuk membeli GPU dan kapasitas komputasi lainnya, melatih model AI, menjalankan proses inference, serta merekrut tenaga kerja.
Pengeluaran tersebut diperlukan untuk mendukung ekspansi perusahaan yang sangat cepat. Namun, biaya tersebut berpotensi menjadi bagian yang lebih kecil dari total pendapatan apabila skala bisnis Anthropic terus meningkat.
Perubahan tersebut terlihat dari perkembangan revenue run rate Anthropic. Menurut perusahaan, tingkat pendapatan tahunan berada di sekitar US$9 miliar pada akhir 2025. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari US$47 miliar pada Mei 2026.
Anthropic juga memproyeksikan pendapatan setidaknya US$10,9 miliar pada kuartal II 2026, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perusahaan bahkan diproyeksikan mencatat laba operasional kuartalan pertama sebesar US$559 juta.
Baca Juga: Miliarder Bill Ackman Rombak Portofolio Investasi, Masuk Netflix hingga Visa
Anthropic sebelumnya menyatakan bahwa revenue run rate perusahaan tumbuh lebih dari 10 kali lipat secara tahunan dalam masing-masing tiga tahun hingga awal 2026.
Pertumbuhan yang sangat cepat tersebut menjadi salah satu alasan investor bersedia melihat proyeksi hingga 2028 ketika menerapkan kelipatan pendapatan dalam menentukan valuasi.
Dengan demikian, valuasi Anthropic sangat bergantung pada asumsi bahwa belanja besar perusahaan saat ini merupakan investasi untuk membangun bisnis yang nantinya mampu menghasilkan pendapatan dan margin jauh lebih tinggi.
Efisiensi teknologi juga dapat membantu menekan biaya. Proses pelatihan dan inference AI berpotensi menjadi lebih efisien seiring perkembangan teknologi, sementara biaya tenaga kerja dan operasional lainnya dapat mengambil porsi yang lebih kecil terhadap pendapatan ketika skala perusahaan semakin besar.
Namun, prospek tersebut juga mengandung risiko. Jika pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi tingginya biaya pembangunan infrastruktur AI, ekspektasi terhadap valuasi Anthropic dapat menghadapi tekanan.
"Apakah mereka (Anthropic) bisa mendapatkan valuasi US$2 triliun? Ya, mereka bisa, dan saya hanya bertanya-tanya apakah valuasi itu akan bertahan dari waktu ke waktu," kata David Merkel, principal di perusahaan investasi Aleph Investments.
"Apakah AI benar-benar menghasilkan begitu banyak tambahan produktivitas... Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita ajukan jika kita berpikir untuk menentukan harga atau membeli perusahaan ini," lanjutnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
