Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - TAIPE. Kinerja Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) masih menunjukkan laju kuat di awal tahun. Permintaan cip untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mendorong pendapatan perusahaan semikonduktor terbesar di dunia ini, meski ketegangan geopolitik mulai menimbulkan ketidakpastian baru.
TSMC melaporkan pendapatan Januari–Februari mencapai NT$ 718,9 miliar atau sekitar US$ 22,6 miliar, naik 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Februari saja, penjualan meningkat 22% secara tahunan, meskipun aktivitas bisnis sempat dipengaruhi libur Tahun Baru Imlek.
Melansir Reuters (10/3), lonjakan ini mencerminkan derasnya investasi perusahaan teknologi global dalam pembangunan infrastruktur AI. TSMC menjadi pemasok utama chip bagi raksasa teknologi seperti Nvidia Corp., Advanced Micro Devices Inc., dan Broadcom Inc.. Karena itu, kinerja TSMC kerap dipandang sebagai indikator kesehatan industri AI global.
Analis rata-rata memperkirakan pendapatan TSMC pada kuartal pertama akan meningkat sekitar 33% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, momentum tersebut kini dihadapkan pada faktor eksternal yang sulit diprediksi. Serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran pasar bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi investasi infrastruktur digital, termasuk pusat data.
Baca Juga: Taiwan Tingkatkan Impor Gas Alam AS Mulai Juni untuk Antisipasi Dampak Perang Iran
Di sisi lain, perusahaan teknologi besar masih mengucurkan dana masif untuk mempercepat pengembangan AI. Alphabet Inc., Amazon.com Inc., Meta Platforms Inc., dan Microsoft Corp. secara kolektif telah menyiapkan belanja modal lebih dari US$ 650 miliar tahun ini.
Meski demikian, sebagian pelaku industri mulai mengingatkan potensi kelebihan kapasitas pusat data serta ketidakjelasan model bisnis yang benar-benar mampu menghasilkan keuntungan dari teknologi AI.
Pembangunan pusat data AI sendiri bukan proyek murah. Biayanya bisa mencapai puluhan miliar dolar dan membutuhkan koordinasi kompleks dengan penyedia listrik, operator jaringan, pemasok perangkat keras hingga lembaga pembiayaan.
Tanda-tanda kehati-hatian mulai terlihat. Pekan lalu, Oracle Corp. dan OpenAI dilaporkan membatalkan rencana ekspansi pusat data AI besar di Texas setelah negosiasi pembiayaan berlarut-larut dan kebutuhan OpenAI berubah.
Situasi ini menunjukkan paradoks industri AI saat ini, yakni permintaan cip melonjak, tetapi keberlanjutan investasi infrastruktur digital masih dibayangi risiko geopolitik dan pertanyaan tentang profitabilitas jangka panjang.
Baca Juga: Kunjungan Perdana Menteri Taiwan ke Jepang Picu Kecaman China













