Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mulai menjajaki kerja sama dengan produsen otomotif dan manufaktur untuk meningkatkan kapasitas produksi senjata di tengah meningkatnya kebutuhan militer.
Melansir laporan Reuters Rabu (15/4/2026), sejumlah pejabat senior Pentagon dilaporkan telah berdiskusi dengan eksekutif perusahaan besar seperti General Motors dan Ford Motor terkait kemungkinan memproduksi persenjataan dan perlengkapan militer lainnya.
Baca Juga: Negara Berkembang Rilis “Borrowers’ Platform”, Perkuat Posisi Negosiasi Utang Global
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Donald Trump untuk memperluas peran industri sipil dalam mendukung kebutuhan pertahanan nasional, terutama di tengah konflik yang melibatkan Iran.
Libatkan Industri Non-Pertahanan
Selain GM dan Ford, pembicaraan juga melibatkan perusahaan seperti GE Aerospace dan Oshkosh Corporation.
Dalam diskusi tersebut, Pentagon menanyakan kesiapan perusahaan untuk beralih secara cepat ke produksi militer guna menopang kontraktor pertahanan tradisional.
Seorang pejabat Pentagon menegaskan pihaknya berkomitmen memperluas basis industri pertahanan dengan memanfaatkan teknologi dan solusi dari sektor komersial.
Baca Juga: Ekonomi China Diprediksi Bangkit di Kuartal I, Tapi Perang Iran Bayangi Outlook 2026
Dorong Penguatan Stok Senjata
Langkah ini diambil seiring meningkatnya tekanan terhadap stok senjata AS, yang terkuras akibat berbagai operasi militer dalam beberapa tahun terakhir, termasuk konflik di Ukraina dan Timur Tengah.
Pada Maret lalu, Trump juga telah bertemu dengan eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan utama untuk membahas penguatan kapasitas produksi.
Baca Juga: AS Selidiki Transaksi Minyak Mencurigakan Jelang Perubahan Kebijakan Iran Trump
Anggaran Militer Membengkak
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Trump mengusulkan kenaikan anggaran militer sebesar US$500 miliar menjadi total US$1,5 triliun, seiring eskalasi konflik dengan Iran.
Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi salah satu ekspansi terbesar dalam belanja pertahanan AS, sekaligus menandai pergeseran peran industri sipil dalam mendukung kebutuhan militer di tengah dinamika geopolitik global.













