Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sri Lanka baru saja keluar dari krisis keuangan pada 2022 yang menyebabkan negara tersebut kehabisan cadangan devisa dan tidak mampu mengimpor barang penting serta membeli bahan bakar yang cukup.
"Pada masa sebelumnya, negara ini tidak memiliki uang untuk membeli bahan bakar. Sekarang, negara ini memiliki uang, tetapi tidak ada bahan bakar yang bisa kita beli,” kata Dimuthu, warga Sri Lanka yang tinggal di Kolombo.
Pemerintah Sri Lanka telah menerapkan serangkaian langkah penghematan, termasuk menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional dan memberlakukan penjatahan bahan bakar.
Namun, antrean panjang di pompa bensin untuk mengisi jatah bahan bakar juga menimbulkan dampak berantai tersendiri.
"Saya tidak masuk kerja hari ini. Kami memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sangat sulit. Karena (antrean) saya bahkan tidak punya waktu untuk bekerja,” kata Nimal, seorang operator mesin pemotong rumput dari Kolombo.
"Pada saat saya kembali bekerja setelah mengisi bahan bakar, mungkin sudah ada orang lain yang menggantikan pekerjaan saya,” ungkapnya.
Myanmar
Pemerintah Myanmar yang didukung militer telah memberlakukan kebijakan pergantian hari untuk kendaraan pribadi sebagai upaya untuk menghemat bahan bakar.
Bagi Karyawan Bank bernama Ko Htet, dampaknya bukan begitu terasa pada kehidupan kerjanya, melainkan pada kehidupan sosialnya.
"Biasanya saya bertemu dengan teman-teman saya setiap minggu dan setiap bulan. Saat ini, kita perlu membahas apakah kita akan bertemu pada hari genap atau ganjil, dan memastikan semua orang setuju untuk datang,” kata Ko Htet.
Ia juga khawatir munculnya pasar gelap yang menjual bahan bakar yang menambah kekhawatiran tentang kenaikan harga.
Baca Juga: Taiwan Pastikan Penjualan Senjata AS Tetap Berjalan Setelah Terima Surat Jaminan
India
Komunitas India sedang menghadapi dampak langsung dari perang yakni kekurangan minyak dan gas dirasakan di seluruh rumah dan bisnis.
Di negara Gujarat bagian barat, kekurangan gas, bukan minyak, telah menyebabkan industri keramik di wilayah tersebut berhenti beroperasi selama hampir sebulan.
Karena konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, 400.000 orang yang bekerja di sektor perdagangan tersebut terombang-ambing dalam ketidakpastian.
"Saya akan kelaparan jika terus tinggal di sini tanpa pekerjaan," kata Sachin Parashar, seorang pekerja migran.
Diketahui sekitar 60 persen gas minyak cair (LPG) yang dibutuhkan di India diimpor, dan sekitar 90 persen dari pengiriman tersebut melewati Selat Hormuz.
Di Mumbai, seperlima dari semua hotel dan restoran tutup sepenuhnya atau sebagian pada minggu-minggu pertama bulan Maret.
Antrean panjang terbentuk di seluruh negeri karena orang-orang berusaha mendapatkan tabung gas.
"Situasi di restoran sangat buruk. Gas untuk memasak sama sekali tidak tersedia," kata Manpreet Singh, dari Asosiasi Restoran Nasional India.













