kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Penutupan Selat Hormuz Guncang Asia, Bagaimana dengan Indonesia?


Kamis, 26 Maret 2026 / 10:06 WIB
Penutupan Selat Hormuz Guncang Asia, Bagaimana dengan Indonesia?
ILUSTRASI. Krisis Energi - Harga Minyak (REUTERS/Abdul Saboor)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 memicu guncangan besar di berbagai negara, termasuk di Asia.

Langkah Iran menutup jalur strategis tersebut terjadi setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga minyak dan gejolak pasar saham global.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Tak heran, penutupannya berdampak besar, terutama bagi negara-negara Asia yang menjadi tujuan hampir 90 persen pasokan minyak dan gas yang melewati jalur tersebut.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi negara-negara di Asia?

Dampak penutupan Selat Hormuz terhadap negara di Asia

Dilansir dari sejumlah sumber, berikut dampak yang terjadi akibat penutupan Selat Hormuz akibat serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu:

Filipina

Filipina mengumumkan keadaan darurat nasional pada Selasa (24/3/2026) sehubungan dengan konflik dan bahaya yang ditimbulkan terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara.

Salah seorang pengemudi Jeepney di Filipina, Carlos Bragal Jr., mengaku mengalami penurunan upah harian dari 1.000 hingga 1.200 peso (sekitar Rp 337 ribu per kurs hari Rabu) untuk shift 12 jam menjadi hanya 200 hingga 500 peso (sekitar Rp 140 ribu).

Para pengemudi seperti Carlos pun menghadapi masalah seperti pajak cukai dan penundaan kenaikan tarif.

Baca Juga: AS Jamin Taiwan: Tekanan China Tak Goyahkan Kesepakatan Senjata?

Kenaikan harga yang meroket baru-baru ini membuat ia dan beberapa rekannya tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Tak hanya itu, Nelayan dan petani di Filipina juga berjuang menghadapi tingginya biaya bahan bakar.

Beberapa petani sayur di Bulacan terpaksa berhenti bercocok tanam.

Pemerintah telah mengakui masalah tersebut dan turun tangan untuk menawarkan bantuan tunai.

Namun Carlos mengaku bantuan tersebut tidaklah cukup.

"Subsidi bahan bakar dari pemerintah tidak cukup. Itu hanya untuk perjalanan dua hari. Jadi apa yang terjadi setelah dua hari? Situasi kita sekarang lebih buruk daripada selama pandemi," kata Carlos, dilansir dari BBC, Rabu (25/3/2026).

Thailand

Selama hampir dua puluh tahun berkarier sebagai presenter berita, Sirima Songklin, presenter berita di Thailand, selalu mengenakan setelan jas.

Namun awal bulan ini, ia dan rekan-rekan pembawa berita di stasiun penyiaran publik Thai PBS melepas blazer mereka saat siaran.

Hal ini untuk menyampaikan pesan hemat energi dengan berpakaian yang tepat di tengah cuaca panas dan krisis bahan bakar.

"Melepas pakaian pelindung bukanlah solusi lengkap untuk konservasi energi, tetapi yang kami lakukan adalah menunjukkan bahwa kami tidak mengabaikan apa yang terjadi. Kami memberikan contoh," kata Sirima.

Faktanya, perintah untuk melepas jaket menjadi salah satu dari serangkaian arahan pemerintah sejak Selat Hormuz ditutup.

Baca Juga: Optimisme Redanya Konflik Timur Tengah Dorong Nikkei Naik, SoftBank Melonjak 6%

Masyarakat di Thailand juga diminta menjaga suhu pendingin ruangan pada 26-27 derajat Celcius, dan semua instansi pemerintah telah diinstruksikan untuk bekerja dari rumah.

Namun, pihak berwenang berupaya menegaskan bahwa Thailand akan memiliki pasokan energi yang cukup di masa mendatang.

Sri Lanka

Sri Lanka baru saja keluar dari krisis keuangan pada 2022 yang menyebabkan negara tersebut kehabisan cadangan devisa dan tidak mampu mengimpor barang penting serta membeli bahan bakar yang cukup.

"Pada masa sebelumnya, negara ini tidak memiliki uang untuk membeli bahan bakar. Sekarang, negara ini memiliki uang, tetapi tidak ada bahan bakar yang bisa kita beli,” kata Dimuthu, warga Sri Lanka yang tinggal di Kolombo.

Pemerintah Sri Lanka telah menerapkan serangkaian langkah penghematan, termasuk menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional dan memberlakukan penjatahan bahan bakar.

Namun, antrean panjang di pompa bensin untuk mengisi jatah bahan bakar juga menimbulkan dampak berantai tersendiri.

"Saya tidak masuk kerja hari ini. Kami memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sangat sulit. Karena (antrean) saya bahkan tidak punya waktu untuk bekerja,” kata Nimal, seorang operator mesin pemotong rumput dari Kolombo.

"Pada saat saya kembali bekerja setelah mengisi bahan bakar, mungkin sudah ada orang lain yang menggantikan pekerjaan saya,” ungkapnya.

Myanmar

Pemerintah Myanmar yang didukung militer telah memberlakukan kebijakan pergantian hari untuk kendaraan pribadi sebagai upaya untuk menghemat bahan bakar.

Bagi Karyawan Bank bernama Ko Htet, dampaknya bukan begitu terasa pada kehidupan kerjanya, melainkan pada kehidupan sosialnya.

"Biasanya saya bertemu dengan teman-teman saya setiap minggu dan setiap bulan. Saat ini, kita perlu membahas apakah kita akan bertemu pada hari genap atau ganjil, dan memastikan semua orang setuju untuk datang,” kata Ko Htet.

Ia juga khawatir munculnya pasar gelap yang menjual bahan bakar yang menambah kekhawatiran tentang kenaikan harga.

Baca Juga: Taiwan Pastikan Penjualan Senjata AS Tetap Berjalan Setelah Terima Surat Jaminan

India

Komunitas India sedang menghadapi dampak langsung dari perang yakni kekurangan minyak dan gas dirasakan di seluruh rumah dan bisnis.

Di negara Gujarat bagian barat, kekurangan gas, bukan minyak, telah menyebabkan industri keramik di wilayah tersebut berhenti beroperasi selama hampir sebulan.

Karena konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, 400.000 orang yang bekerja di sektor perdagangan tersebut terombang-ambing dalam ketidakpastian.

"Saya akan kelaparan jika terus tinggal di sini tanpa pekerjaan," kata Sachin Parashar, seorang pekerja migran.

Diketahui sekitar 60 persen gas minyak cair (LPG) yang dibutuhkan di India diimpor, dan sekitar 90 persen dari pengiriman tersebut melewati Selat Hormuz.

Di Mumbai, seperlima dari semua hotel dan restoran tutup sepenuhnya atau sebagian pada minggu-minggu pertama bulan Maret.

Antrean panjang terbentuk di seluruh negeri karena orang-orang berusaha mendapatkan tabung gas.

"Situasi di restoran sangat buruk. Gas untuk memasak sama sekali tidak tersedia," kata Manpreet Singh, dari Asosiasi Restoran Nasional India.

Malaysia

Pada Selasa (17/3/2026), Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil memberikan aturan kerja dari rumah untuk sektor publik setelah Hari Raya.

Untuk melindungi konsumen, pemerintah telah meningkatkan subsidi agar masyarakat Malaysia tidak harus menanggung sepenuhnya dampak kenaikan harga global.

Namun, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan tagihan subsidi bahan bakar negara tersebut melonjak dalam waktu kurang dari seminggu.

Subsidi nasional bulanan untuk RON95 dan diesel telah meningkat dari 700 juta RM (sekitar Rp 3 triliun) menjadi 3,2 miliar RM (sekitar Rp 13,6 triliun).

Indonesia

Di Indonesia, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kebijakan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara akan dibahas dan diterapkan setelah Idul Fitri.

Meski demikian, pemerintah memastikan layanan publik tetap berjalan tanpa gangguan.

Tonton: Respons Gejolak Energi, Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Baru

Penutupan Selat Hormuz menunjukkan betapa rentannya ketergantungan global terhadap jalur energi strategis.

Selama konflik belum mereda, dampaknya diperkirakan akan terus dirasakan, terutama oleh negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/26/070000165/saat-selat-hormuz-ditutup-beginilah-dampaknya-bagi-negara-negara-asia?page=all#page1




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×