kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Perang Iran Guncang Pasar Global, Bursa Eropa Tertekan


Jumat, 13 Maret 2026 / 18:40 WIB
Perang Iran Guncang Pasar Global, Bursa Eropa Tertekan
ILUSTRASI. Karyawan kantor sekuritas memantau pergerakan IHSG (Tribunnews/Irwan Rismawan)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA/LONDON. Bursa saham Eropa melemah pada Jumat (13/3/2026) seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai durasi perang di Iran yang mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini turut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Harga minyak yang melonjak sekitar 40% sejak pecahnya perang kini bertahan di atas level US$100 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan tekanan biaya di perekonomian global sekaligus memperbesar risiko inflasi.

Pada awal perdagangan, indeks saham pan-Eropa STOXX 600 turun 0,6%. Dengan pelemahan tersebut, indeks ini berada di jalur penurunan sekitar 6,1% sepanjang Maret sejauh ini, yang menjadi penurunan dua pekan terbesar dalam setahun terakhir.

Baca Juga: Pasar Seni Global Kembali Bergairah, Penjualan Tembus US$ 59,6 Miliar pada 2025

Sentimen negatif juga tercermin pada pasar Amerika Serikat. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,1% setelah pada perdagangan Kamis indeks utama Wall Street itu ditutup melemah 1,5%.

Di sisi lain, dolar AS kembali menguat dan menjadi aset safe haven pilihan investor di tengah gejolak pasar. Mata uang tersebut diperkirakan mencatat kenaikan untuk pekan kedua berturut-turut dan telah menguat sekitar 2,5% sejak perang pecah pada akhir Februari.

Ahli strategi ekuitas di Bank J. Safra Sarasin, Wolf von Rotberg, mengatakan pasar kini sangat fokus pada lamanya konflik berlangsung.

Menurutnya, jika tidak ada kemajuan menuju penyelesaian konflik dan situasi tetap stagnan dalam waktu lama, maka harga minyak kemungkinan akan bertahan tinggi lebih lama dan memberikan dampak yang lebih besar terhadap ekonomi global serta inflasi.

Harga Minyak Jadi Penggerak Pasar

Kontrak berjangka minyak Brent terakhir naik 0,8% menjadi US$100,30 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$95,98 per barel. Sebagai perbandingan, harga minyak global masih berada di kisaran US$60 per barel pada awal 2026.

Kenaikan tajam harga minyak terjadi karena pasar berupaya memperkirakan berapa lama gangguan pasokan energi akibat konflik akan berlangsung.

Mitch Reznick, Group Head of Fixed Income di Federated Hermes, mengatakan arus berita terkait perang terus membanjiri pasar dan langsung memengaruhi harga minyak serta pasar keuangan global.

Baca Juga: ASEAN Desak Perang di Timur Tengah Dihentikan, Ekonomi Kawasan Terancam

Ketegangan meningkat setelah Iran memperluas serangan di kawasan Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, juga menegaskan akan mempertahankan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang berkepanjangan dan harga minyak yang tetap tinggi.

Di sisi lain, harga minyak sempat mereda pada Jumat setelah Amerika Serikat memberikan lisensi sementara selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak dan produk petroleum Rusia yang terkena sanksi dan saat ini tertahan di laut.

Ekspektasi Suku Bunga Berubah

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi, sehingga pasar mulai mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral.

Pelaku pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran suku bunga sekitar 20 basis poin dari Federal Reserve tahun ini, jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan pemangkasan 50 basis poin yang diperkirakan bulan lalu.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga The Fed, sempat mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Kamis sebelum turun tipis menjadi 3,74% pada Jumat.

Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di OCBC Singapura, mengatakan selama risiko harga minyak tinggi masih bertahan, investor perlu bersiap menghadapi volatilitas pasar yang berkelanjutan dan potensi pelemahan lebih lanjut dalam jangka pendek.

Ekonom senior Interactive Brokers, Jose Torres, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak memicu tekanan terhadap margin perusahaan, ekspektasi inflasi, prospek pemangkasan suku bunga, serta pergerakan imbal hasil obligasi.

Baca Juga: Soal Stabilisasi Pasar Minyak Dunia, AS dan Rusia Punya Kepentingan Sama

Menurutnya, kombinasi faktor tersebut memicu volatilitas pasar dan membuat investor memiliki pilihan perlindungan yang semakin terbatas.

Fokus ke Pertemuan Bank Sentral

Perhatian investor kini beralih pada sejumlah pertemuan bank sentral utama pekan depan, termasuk Federal Reserve, Bank of Japan, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England. Mayoritas bank sentral tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Sementara itu, Reserve Bank of Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Di pasar valuta asing, yen Jepang melemah ke level 159,69 per dolar AS—terendah sejak Juli 2024—sebelum berada di sekitar 159,41. Pemerintah Jepang menyatakan siap mengambil langkah untuk menahan pelemahan mata uangnya.

Euro juga melemah 0,5% menjadi US$1,14575 dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1,4%. Indeks dolar AS berada di level 100,1 dan berpotensi menguat sekitar 1% sepanjang pekan ini.

Sementara itu, harga emas naik tipis 0,2% menjadi US$5.088,4 per ons pada Jumat, meskipun secara mingguan masih berada di jalur penurunan sekitar 1%.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×