kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Perang Iran Guncang Pasokan LNG Global, Harga Asia Meroket 143%


Kamis, 26 Maret 2026 / 12:52 WIB
Perang Iran Guncang Pasokan LNG Global, Harga Asia Meroket 143%
ILUSTRASI. Harga liquefied natural gas (LNG) (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perang di Iran mengganggu prospek pasokan LNG global karena harga melonjak, kerusakan infrastruktur ekspor Qatar, dan potensi keterlambatan pasokan baru.

Hal ini menimbulkan keraguan terhadap permintaan sebelumnya dari pembeli Asia yang sensitif terhadap harga.

Sebelum konflik, analis memperkirakan pasokan gas alam cair (LNG) global akan meningkat hingga 10% pada tahun ini, mencapai 460–484 juta ton, seiring kapasitas baru terutama dari AS dan Qatar mulai beroperasi, dengan permintaan yang diperkirakan tumbuh seiring.

Baca Juga: Trump: Pemimpin Iran Ingin Deal, Tapi Tak Berani Bicara Terbuka

Namun, blokade Selat Hormuz oleh Iran yang menangani 20% arus LNG global dan kerusakan pada fasilitas likuefaksi Qatar yang menonaktifkan 12,8 juta ton per tahun LNG selama tiga hingga lima tahun, memaksa sejumlah konsultan seperti S&P Global Energy, ICIS, Kpler, dan Rystad Energy memangkas proyeksi pasokan global hingga 35 juta ton.

Jumlah ini setara dengan sekitar 500 kapal LNG, cukup untuk memenuhi lebih dari setengah impor tahunan Jepang atau impor Bangladesh selama lima tahun.

Melansir Reuters Kamis (26/3/2026), Lucien Mulberg, analis S&P Global Energy, mengatakan, “Kami memperkirakan krisis harga gas ini akan membuat beberapa negara meninjau kembali pertumbuhan permintaan gas yang sebelumnya diproyeksikan, sehingga pertumbuhan permintaan LNG akan lebih rendah dibanding prediksi sebelum perang.”

S&P Global Energy memperkirakan ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab turun 33 juta ton tahun ini, dengan proyeksi pasokan lebih lanjut berkurang 19 juta ton per tahun pada 2027–2029 akibat keterlambatan proyek ekspansi North Field Qatar dan proyek LNG Ruwais ADNOC yang sedang dibangun.

Baca Juga: Syarat Iran Untuk Akhiri Perang: AS Wajib Bayar Ganti Rugi Perang dan Syarat Lainnya

Harga LNG Asia Melonjak

Dengan shock pasokan ini, harga LNG Asia naik 143% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai 28 Februari, menjadi US$25,30 per juta British thermal units (mmBtu), tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Harga ini jauh di atas ambang US$10 per mmBtu yang biasanya mendorong permintaan pasar negara berkembang, dan diperkirakan tetap tinggi hingga 2027.

Rabobank memperkirakan harga LNG Asia rata-rata US$16,62 per mmBtu tahun ini dan US$13,60 pada 2027, sementara UBS menaikkan prediksi menjadi US$23,60 tahun ini dan US$14,50 tahun depan.

Laura Page dari Kpler menyebut, “Dalam jangka pendek, pasar akan menyeimbangkan diri terutama melalui harga yang lebih tinggi dan penurunan permintaan di Asia Selatan.”

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Guncang Asia, Bagaimana dengan Indonesia?

Permintaan Industri Menyusut di Asia Selatan dan Tenggara

Sekitar 80% pasokan LNG Qatar ditujukan ke Asia. Pembeli yang sensitif terhadap harga, seperti Bangladesh dan India, berusaha mencari pasokan pengganti sambil beralih ke batu bara dan gas domestik.

Pakistan, yang sangat bergantung pada LNG Qatar, menerapkan sistem energi terbatas dengan “minggu kerja empat hari.” Permintaan menurun di sektor padat energi seperti pupuk dan tekstil.

Iqbal Ahmed, Chairman dan CEO Pakistan GasPort, mengatakan, “Proses pengurangan permintaan sedang terjadi.”

Di India, produksi petrokimia dan keramik juga terdampak, kata sejumlah pelaku industri.

Sementara itu, AS sebagai eksportir LNG terbesar dunia, sulit menutup kekurangan pasokan karena fasilitas ekspor hampir beroperasi penuh, dengan sebagian besar volume telah terikat kontrak jangka panjang. Seb Kennedy, analis independen di Energy Flux News, menekankan,

“Tidak ada cara mudah untuk mengganti volume yang hilang, dan tidak ada optimisasi portofolio atau pertukaran kargo yang bisa menutup celah pasokan ini. Ini pukulan signifikan terhadap keamanan energi negara-negara yang bergantung pada LNG tersebut.”

Baca Juga: Optimisme Redanya Konflik Timur Tengah Dorong Nikkei Naik, SoftBank Melonjak 6%

Pembeli LNG Asia Utara Tetap Tenang

Di sisi lain, pembeli terbesar China telah mengurangi ketergantungan pada LNG. Impor meningkat pesat selama satu dekade, sebelum Beijing beralih ke produksi gas domestik, impor pipa Rusia, dan energi terbarukan.

China diperkirakan tetap bisa menutupi kehilangan pasokan Qatar melalui gas domestik, pipa Power of Siberia, dan proyek Arctic LNG 2 Rusia.

Di pasar kurang sensitif terhadap harga seperti Jepang dan Korea Selatan, perang ini kemungkinan tidak akan mengubah rencana pengadaan gas secara signifikan.

JERA, pembeli LNG terbesar Jepang, menegaskan Qatar tetap menjadi pemasok andal.

Ryosuke Tsugaru, eksekutif JERA mengatakan, “Saya tidak berpikir fakta fundamental bahwa Timur Tengah terutama Qatar memainkan peran penting akan berubah.”


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×