Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Kalangan individu dengan kekayaan sangat tinggi (ultra-high-net-worth individuals / UHNWI) di kawasan Asia kini semakin aktif memindahkan serta mendiversifikasikan portofolio aset mereka. Tidak hanya berfokus pada instrumen keuangan konvensional, para pemilik modal besar ini mulai melirik kombinasi aset fisik, instrumen lindung nilai, hingga kelas aset digital yang dinilai lebih adaptif terhadap dinamika global.
CEO Malayan Banking Bhd (Maybank) Singapura, Alvin Lee, mengungkapkan bahwa kalangan superkaya senantiasa mengombinasikan instrumen keuangan dengan kepemilikan aset fisik nyata demi mengamankan kekayaan lintas generasi.
Baca Juga: Investor ETF Amerika Lebih Pilih Obligasi Tenor Pendek, Mengapa?
Emas Tetap Menjadi Buruan Utama dan Aset Kripto Mulai Dilirik
Logam mulia emas masih memegang posisi primadona sebagai penyimpan nilai (store of value) yang sangat tangguh di tengah ketidakpastian global. Harga emas dunia terpantau berada di kisaran level tinggi historis, yakni sekitar 4.400 dollar AS per troy ounce.
Prospek logam mulia ini bahkan diprediksi semakin bersinar oleh institusi global seperti Goldman Sachs, yang memperkirakan harganya berpotensi menyentuh angka 4.900 dollar AS per troy ounce menjelang akhir tahun, terutama didorong oleh aksi masif bank sentral dunia dalam memborong cadangan emas.
Selain instrumen konvensional seperti emas dan real estat, pergeseran tren yang mencolok turut dimotori oleh kalangan usia muda penerima estafet kekayaan (wealth transfer). Generasi penerus ini dinilai jauh lebih terbuka dan agresif dalam mengeksplorasi kelas aset baru, termasuk adopsi aset digital serta mata uang kripto ke dalam portofolio investasi mereka.
Tonton: OJK Bidik Indonesia Jadi Price Maker Mineral Dunia, Bukan Lagi Price Taker
Dinamika Aliran Dana: Kembalinya Likuiditas ke Singapura & Serbuan ke Malaysia
Peta tujuan penyimpanan kekayaan regional turut mengalami dinamika menarik:
- Arus Balik ke Singapura: Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong sebagian besar dana dan kepemilikan emas fisik dalam skala masif yang sempat berpindah ke Dubai untuk kembali masuk ke Singapura. Stabilitas pemerintahan, sistem perlindungan hukum, serta insentif pajak yang kompetitif mempertahankan posisi Singapura sebagai safe haven utama dunia.
- Daya Tarik Malaysia bagi Konglomerat Tiongkok: Di sisi lain, Malaysia menjadi magnet baru bagi kalangan miliarder asal Tiongkok—negara dengan populasi miliarder terbanyak di dunia versi Hurun—untuk merelokasi bisnis dan tempat tinggal. Valuasi pasar yang kompetitif dibandingkan Singapura membuat wilayah seperti Kuala Lumpur, Penang, hingga Malaka kebanjiran minat pembelian properti residensial maupun komersial.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/09/09/202746326/orang-superkaya-asia-pindahkan-kekayaannya-negara-mana-jadi-tujuan?page=all#page2.













