Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Upaya pengendalian senjata global juga makin rumit setelah Rusia menyatakan bahwa kekuatan nuklir Inggris dan Prancis—dua anggota NATO—seharusnya ikut dinegosiasikan. London dan Paris menolak usulan tersebut.
Mantan negosiator nuklir Uni Soviet dan Rusia, Nikolai Sokov, menilai pembentukan perjanjian nuklir multilateral baru dalam kondisi saat ini hampir mustahil. Ia menyebut proses tersebut akan memakan waktu sangat lama.
Menurut Sokov, salah satu opsi adalah menyusun perjanjian pengganti New START yang lebih fleksibel dengan mempertimbangkan pertumbuhan arsenal nuklir China. Namun, langkah yang lebih mendesak adalah mengurangi risiko pecahnya perang nuklir akibat kesalahan atau salah perhitungan.
Baca Juga: 11 Menit ke Polandia, 17 Menit ke Brussel: Rudal Nuklir Rusia Resmi Siaga di Belarus
Ia mencontohkan, saat ini hanya Rusia dan Amerika Serikat yang memiliki jalur komunikasi darurat 24 jam dalam krisis nuklir. Negara-negara Eropa, termasuk markas besar NATO, tidak memiliki saluran komunikasi khusus dengan Moskow.
“Prioritas utama saat ini adalah pengurangan risiko dan pembangunan kepercayaan. Perjanjian berikutnya akan sangat kompleks dan membutuhkan waktu panjang,” ujar Sokov.













