Pertumbuhan Laba Industri di China Melambat akibat Tersendat Harga Bahan Baku

Senin, 27 Desember 2021 | 11:15 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Pertumbuhan Laba Industri di China Melambat akibat Tersendat Harga Bahan Baku

ILUSTRASI. Manufaktur China. China Daily via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT. TPX IMAGES OF THE DAY


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Laba di perusahaan industri China tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lambat pada November. Dikarenakan tertekan oleh jatuhnya harga beberapa bahan baku, pasar properti yang goyah dan permintaan konsumen yang lebih lemah.

Mengutip Reuters (27/12), laba naik 9,0% dalam setahun di bulan November menjadi 805,96 miliar yuan setara US$ 126,54 miliar. Capaian tersebut jauh dari kenaikan 24,6% yoy yang dilaporkan di bulan Oktober.

Untuk periode Januari-November, laba perusahaan industri naik 38,0% tahun-ke-tahun menjadi 7,98 triliun yuan, lebih lambat dari kenaikan 42,2% dalam 10 bulan pertama tahun 2021.

Zhu Hong, ahli statistik senior di NBS, mengatakan upaya negara untuk mendinginkan melonjaknya harga grosir pada November mengambil tekanan biaya dari industri hilir sehingga kontribusi dari sektor pertambangan dan bahan baku untuk pertumbuhan laba secara keseluruhan melemah.

Baca Juga: China Evergrande Janji Siapkan 39.000 Unit Properti pada Bulan Ini

"Tetapi perusahaan masih menghadapi tekanan biaya yang besar, dan peningkatan keuntungan untuk sektor hilir perlu dikonsolidasikan lebih lanjut," kata Zhu seperti dikutip dari Reuters, Senin (27/12).

Sementara itu, inflasi pada pabrik China yang sangat panas sedikit mendingin pada bulan November, didorong oleh tindakan keras pemerintah terhadap harga komoditas yang tidak terkendali dan krisis listrik yang mereda saat Beijing berusaha untuk mengurangi dampak ekonomi yang melumpuhkan dari melonjaknya biaya.

Ekonomi terbesar kedua di dunia, yang kehilangan tenaga setelah pemulihan yang solid dari pandemi tahun lalu, menghadapi banyak tantangan ketika penurunan properti semakin dalam, kemacetan pasokan terus berlanjut dan pembatasan ketat COVID-19 menghantam belanja konsumen.

Kesulitan properti negara juga telah merugikan sektor baja sementara produksi semen, kaca, dan peralatan rumah tangga tetap rentan terhadap penurunan permintaan.

Baca Juga: Rusia: Latihan 10.000 Tentara di Dekat Ukraina Telah Usai

Pada pertemuan penetapan agenda utama bulan ini, para pemimpin utama China berjanji untuk menstabilkan ekonomi dan menjaga pertumbuhan dalam kisaran yang wajar pada tahun 2022.

Bank Rakyat China (PBOC) bulan ini memotong jumlah uang tunai yang harus disimpan bank sebagai cadangan dan menurunkan suku bunga pinjaman acuan satu tahun untuk merangsang pertumbuhan.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru