Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investasi perusahaan asal Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan di Amerika Serikat (AS) diperkirakan terus meningkat seiring perubahan rantai pasok global dan penyesuaian strategi bisnis akibat dinamika geopolitik.
Kepala bisnis internasional Citi, Ernesto Torres Cantu, mengatakan perusahaan dari ketiga negara Asia tersebut masih memiliki kapasitas besar untuk memperluas investasi di AS.
Aliran modal diperkirakan meningkat secara bertahap seiring realisasi berbagai proyek investasi.
"Investasi dari perusahaan Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang kemungkinan akan terus berlanjut," ujar Cantu kepada Reuters di Hong Kong, Senin (3/11/2026).
Baca Juga: Korea Selatan Minta Pemaparan Rencana Investasi AS di Parlemen Ditunda
Menurut Cantu, arus investasi perusahaan global yang masuk ke Amerika Utara saat ini tumbuh dua digit. Peningkatan tersebut juga didukung oleh komitmen investasi besar dari Jepang dan Korea Selatan.
Citi dan JPMorgan diketahui membiayai sejumlah proyek perusahaan Jepang yang terkait dengan komitmen investasi Tokyo senilai US$ 550 miliar di AS.
Sementara itu, Gedung Putih baru-baru ini mengumumkan tahap awal paket investasi strategis Korea Selatan senilai US$ 350 miliar.
Cantu menjelaskan, investasi perusahaan di AS biasanya tidak berhenti pada tahap awal. Pengeluaran modal akan terus bertambah seiring perkembangan proyek, mulai dari pembelian lahan, pembangunan pabrik, hingga pembiayaan operasional sehari-hari.
"Investasinya akan terus meningkat," katanya.
Ia menambahkan, perusahaan multinasional relatif mampu bertahan menghadapi guncangan geopolitik dan bergerak cepat menyesuaikan strategi bisnis.
Meski tarif perdagangan masih menjadi salah satu pertimbangan, Cantu menilai konflik di kawasan Teluk juga memberikan dampak besar terhadap aktivitas bisnis global. Kondisi tersebut mendorong perusahaan mengatur ulang jalur perdagangan dan rantai pasok mereka.
Perubahan itu turut meningkatkan kebutuhan perusahaan terhadap layanan perbankan lintas negara, mulai dari pembayaran, pembiayaan perdagangan, hingga penyelesaian transaksi.
Baca Juga: Won Diperdagangkan 24 Jam Mulai Juli, Bank-bank Korea Selatan Siaga Tambah Shift
Hal ini tercermin dari kinerja bisnis layanan Citi. Pada kuartal III-2026, pendapatan keseluruhan Citi tumbuh 8%.
Namun, bisnis layanan yang mencakup pengelolaan kas, pembayaran, pembiayaan perdagangan, dan likuiditas bagi perusahaan, lembaga keuangan, serta pemerintah tumbuh lebih tinggi sebesar 15%.
Selain arus investasi menuju AS, Cantu memperkirakan transaksi lintas negara yang melibatkan negara-negara Asia juga terus berkembang, terutama melalui koridor perdagangan China dan India.
Perdagangan Inggris dan India, misalnya, meningkat signifikan setelah kedua negara memangkas tarif. Sementara itu, perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan India yang mulai berlaku pada 2027 diperkirakan membuka lebih banyak peluang bisnis.
Di sisi lain, ekspansi bisnis perusahaan China ke berbagai negara juga diperkirakan berlanjut. Menurut Cantu, arus bisnis dari China ke negara lain tumbuh lebih dari 20% per tahun selama dua tahun terakhir.
Baca Juga: Tiga Tentara Terluka, Korea Selatan Investigasi Ledakan Ranjau di DMZ
Di China, Citi juga berencana memperluas bisnis sekuritas domestik setelah memperoleh persetujuan untuk mendirikan unit sekuritas yang sepenuhnya dimiliki perusahaan.
Ekspansi tersebut akan memanfaatkan basis nasabah korporasi Citi untuk melayani perusahaan lokal maupun internasional.














